REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Serangan AS baru-baru ini terhadap Iran menunjukkan Presiden Donald Trump telah berbalik arah dari janji-janjinya sebelumnya. Demikian seorang jurnalis sayap kanan terkemuka AS pada Jumat dilansir Middle East Monitor, Sabtu.
“Saya pikir perang ini adalah sesuatu yang dia janjikan tidak akan dia lakukan, bukan hanya sekali tetapi berkali-kali,” kata Tucker Carlson, mantan komentator Fox News dan terkadang pendukung Trump.
Baca Juga
Netanyahu Sedih Israel Hancur Dihantam Rudal, Iran: Untuk Efek Jera
Rudal Iran Hantam Kawasan Nuklir Israel, 100 Warga Zionis Dilaporkan Kritis
Perang Iran Melawan AS-Israel Memperburuk Krisis Iklim
Gagasan di balik perang itu, kata ia, bertentangan dengan prinsip 'American First'. Mengklaim bahwa perubahan rezim di Iran akan menguntungkan AS, Carlson mengatakan tidak ada yang membantah hal ini.
Namun ia mengkritik klaim Trump bahwa serangan Iran terhadap AS sudah dekat, dengan mengatakan bawa Teheran telah semakin dekat dengan senjata nuklir.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
“Saya telah mendengar… semacam penyebaran ketakutan yang melelahkan tentang senjata nuklir, yang tidak dimiliki Iran. Sebenarnya menghina, bahkan untuk membuat argumen itu kepada saya bahwa program nuklir Iran menimbulkan ancaman sedemikian rupa bagi AS tiga minggu yang lalu sehingga kita harus melancarkan perang skala penuh terhadap mereka,” ujar.
Menggemakan laporan pers lainnya, ia mengatakan Washington memulai perang karena Israel menginginkannya. Ia menambahkan bahwa Tel Aviv memilih waktu perang itu.
“Kami mengutamakan kepentingan Israel daripada kepentingan kami sendiri,” tambahnya, seraya mengatakan bahwa Trump-lah yang dipilih pemilih AS sebagai presiden, bukan Presiden Israel Benjamin Netanyahu.
“Trump seharusnya menolak, seperti yang telah dilakukan presiden-presiden sebelumnya sampai batas tertentu," katanya.
Lihat postingan ini di Instagram
Sebuah kiriman dibagikan oleh Republika Online (@republikaonline)