Tanah Datar, Sumatera Barat (ANTARA) - Aktivitas nelayan penyintas bencana di tepian Danau Singkarak pada Minggu kembali mulai berjalan pascabencana hidrometeorologi, meski pemulihan ekonomi warga masih berlangsung bertahap.
Adisman (66), yang sibuk mengangkat ikan dari jala, mengatakan ia mulai kembali menebar jala sejak dua minggu terakhir.
Menangkap ikan bilih, jenis ikan endemik khas Maninjau, merupakan salah satu sumber penghasilannya.
"Saya memasang tidak tiap hari, kadang dalam seminggu pasang tiga kali, kadang dua kali. Ini kemarin dua hari tidak pasang. Kalau mau ikan bilih, baru pasang, tidak menentu," kata Adisman yang menempati hunian sementara (huntara) di Malalo, Tanah Datar, seorang diri, tepat sebelum Ramadhan.
Ikan bilih tangkapannya pada hari ini diperkirakan hanya mencapai 0,5 kilogram.
Namun, di hari lain, hasilnya bisa mencapai 1 kilogram atau bahkan 2 kilogram.
Jika hasil tangkapannya sedikit, ia akan gunakan sebagai konsumsi pribadi. Namun, jika tangkapannya di atas 1 kilogram, akan dijual ke pengepul dengan harga mulai dari Rp60 ribu per kilogram.
Ia menyebut harga tersebut telah kembali normal, setelah sebelumnya sempat meningkat hingga Rp80 ribu-Rp90 ribu per kilogram akibat terbatasnya aktivitas nelayan pascabencana.
Selain menangkap ikan bilih, ia juga berkebun dengan aneka jenis, mulai dari kulit manis, alpukat, pala, kemiri, hingga cengkeh.
Aktivitas berkebun tersebut juga baru dilakukannya karena sebagian ladangnya sempat tertutup lumpur material dan bebatuan.
Namun, kerusakan lahan yang terjadi saat bencana menyebabkan potensi kerugian hingga Rp25 juta, termasuk hilangnya sejumlah pohon produktif seperti kemiri dan surian yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Yang kena kemiri sekitar 7 batang, kayu surian ada 6 batang yang kena. Kayu itu mahal itu, satu kayu bisa 2,5 kubik harga 1 kubik bisa Rp4 juta. Jadi yang kayu bisa dapat 5,5 kubik lah semuanya," tambah dia.
Sementara itu, penjual oleh-oleh ikan bilih yang juga pengepul ikan bilih segar, Elfi Rita, mengatakan sudah banyak nelayan yang kembali menebar jala pascabencana banjir bandang November lalu.
Kendati jumlah tangkapan nelayan pada momentum Lebaran ini masih terbatas karena faktor alam. Namun, hasil tangkapan sempat melimpah pada Februari, sehingga pada saat bulan tersebut ia menjadikannya sebagai stok.
"Hasil tangkapan sangat kurang, paling yang sekilo, dua kilo. Februari bisa masuk belasan kilo per nelayan. sudah stok 300 kilogram. Sekarang, beli (dari nelayan) Rp70 per kilogram," ucapnya.
Menurutnya, sebanyak 70 persen masyarakat di Malalo menggantungkan hidup pada Danau Singkarak. Mulai dari nelayan maupun pelaku usaha oleh-oleh yang menyerap tenaga kerja.
Adapun sebanyak 28 Kepala Keluarga (KK) menempati huntara di Nagari Guguak Malalo. Sebanyak 144 unit bangunan mengalami kerusakan dengan total kerugian mencapai Rp17,2 miliar.
Baca juga: Menko PMK: Huntara penting agar penyintas tak lama di pengungsian
Baca juga: Optimalkan penanganan korban bencana seiring cuaca membaik
Baca juga: Ikan bilih yang melahirkan sarjana dari pinggiran Danau Singkarak
Adisman (66), yang sibuk mengangkat ikan dari jala, mengatakan ia mulai kembali menebar jala sejak dua minggu terakhir.
Menangkap ikan bilih, jenis ikan endemik khas Maninjau, merupakan salah satu sumber penghasilannya.
"Saya memasang tidak tiap hari, kadang dalam seminggu pasang tiga kali, kadang dua kali. Ini kemarin dua hari tidak pasang. Kalau mau ikan bilih, baru pasang, tidak menentu," kata Adisman yang menempati hunian sementara (huntara) di Malalo, Tanah Datar, seorang diri, tepat sebelum Ramadhan.
Ikan bilih tangkapannya pada hari ini diperkirakan hanya mencapai 0,5 kilogram.
Namun, di hari lain, hasilnya bisa mencapai 1 kilogram atau bahkan 2 kilogram.
Jika hasil tangkapannya sedikit, ia akan gunakan sebagai konsumsi pribadi. Namun, jika tangkapannya di atas 1 kilogram, akan dijual ke pengepul dengan harga mulai dari Rp60 ribu per kilogram.
Ia menyebut harga tersebut telah kembali normal, setelah sebelumnya sempat meningkat hingga Rp80 ribu-Rp90 ribu per kilogram akibat terbatasnya aktivitas nelayan pascabencana.
Selain menangkap ikan bilih, ia juga berkebun dengan aneka jenis, mulai dari kulit manis, alpukat, pala, kemiri, hingga cengkeh.
Aktivitas berkebun tersebut juga baru dilakukannya karena sebagian ladangnya sempat tertutup lumpur material dan bebatuan.
Namun, kerusakan lahan yang terjadi saat bencana menyebabkan potensi kerugian hingga Rp25 juta, termasuk hilangnya sejumlah pohon produktif seperti kemiri dan surian yang memiliki nilai ekonomi tinggi.
"Yang kena kemiri sekitar 7 batang, kayu surian ada 6 batang yang kena. Kayu itu mahal itu, satu kayu bisa 2,5 kubik harga 1 kubik bisa Rp4 juta. Jadi yang kayu bisa dapat 5,5 kubik lah semuanya," tambah dia.
Sementara itu, penjual oleh-oleh ikan bilih yang juga pengepul ikan bilih segar, Elfi Rita, mengatakan sudah banyak nelayan yang kembali menebar jala pascabencana banjir bandang November lalu.
Kendati jumlah tangkapan nelayan pada momentum Lebaran ini masih terbatas karena faktor alam. Namun, hasil tangkapan sempat melimpah pada Februari, sehingga pada saat bulan tersebut ia menjadikannya sebagai stok.
"Hasil tangkapan sangat kurang, paling yang sekilo, dua kilo. Februari bisa masuk belasan kilo per nelayan. sudah stok 300 kilogram. Sekarang, beli (dari nelayan) Rp70 per kilogram," ucapnya.
Menurutnya, sebanyak 70 persen masyarakat di Malalo menggantungkan hidup pada Danau Singkarak. Mulai dari nelayan maupun pelaku usaha oleh-oleh yang menyerap tenaga kerja.
Adapun sebanyak 28 Kepala Keluarga (KK) menempati huntara di Nagari Guguak Malalo. Sebanyak 144 unit bangunan mengalami kerusakan dengan total kerugian mencapai Rp17,2 miliar.
Baca juga: Menko PMK: Huntara penting agar penyintas tak lama di pengungsian
Baca juga: Optimalkan penanganan korban bencana seiring cuaca membaik
Baca juga: Ikan bilih yang melahirkan sarjana dari pinggiran Danau Singkarak





