Lebaran yang Terasa Biasa Saja bagi Pedagang Beringharjo

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Isti, seorang pedagang pakaian batik, menyantap camilan yang ia beli dari pedagang keliling di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, Minggu (22/3/2026) siang. Sesekali ia menyapa pengunjung yang melintas di depan lapaknya agar singgah sejenak dan membeli pakaian yang ia jual.

Meski upayanya tidak kunjung berhasil, ia terus berusaha agar dapat mencetak transaksi. ”Lebaran ini berbeda, tidak seperti tahun-tahun sebelumnya. Pembelinya sepi. Ini seperti hari Minggu biasa, bukan Lebaran,” tutur Isti.

Menurut pedagang yang telah berjualan di tempat itu sejak belasan tahun lalu tersebut, biasanya H+1 Lebaran adalah momen puncak ketika pasar itu sedang diserbu pemudik yang berburu cendera mata pakaian batik. ”Jangankan makan siang, duduk untuk istirahat sejenak saja sering tidak sempat saking sibuknya harus melayani pembeli,” kenang Isti.

Menurut Pipit, pedagang baju batik Pasar Beringharjo yang lapaknya berseberangan dengan lapak milik Isti, tahun ini jumlah pembeli lebih sepi meski pengunjung tetap tampak ramai. ”Hanya ramai orang tok, yang beli tidak ada,” ujar Pipit sembari duduk di kursi kecil di depan lapaknya.

Hari itu diprediksi sebagai puncak aktivitas pemudik yang menjelma sebagai pelancong di Yogyakarta. Berdasarkan survei Kementerian Perhubungan, diperkirakan 8,2 juta orang datang ke Kota Gudeg itu untuk mudik dan berwisata.

Meskipun demikian, jalanan di pusat Kota Yogyakarta pada Minggu siang itu tampak relatif lengang. ”Tumben ini jalan malah sepertinya lebih sepi dibanding biasanya,” kata Oki Kristiawan, warga Sleman yang siang itu sedang bepergian bersama keluarganya ke kawasan seputaran UGM.

Jalan utama di kawasan Kotabaru, misalnya, dapat dilalui dengan sepeda motor dengan lancar pada kecepatan sekitar 60 km per jam. Hal tersebut susah dilakukan pada masa libur Lebaran pada tahun-tahun sebelumnya karena kawasan itu selalu padat oleh kendaraan pemudik.

Sejumlah obyek wisata di kawasan tepi DI Yogyakarta juga relatif tidak terlalu ramai didatangi pengunjung. Hal tersebut salah satunya terlihat di obyek wisata Tebing Breksi yang masih terlihat relatif sepi meski siang telah menjelang.

Mengutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), peneliti Pusat Studi Pariwisata UGM, Destha Titi Raharjana, menyebut puncak kunjungan wisatawan diprediksi terjadi pada 22 Maret 2026 atau H+1 Lebaran. Meski keberadaan jalan tol yang telah mencapai Sleman dinilai dapat mendongkrak kunjungan, hal itu tidak berdampak pada peningkatan belanja wisatawan.

Menurut Destha, melihat kondisi perekonomian global saat ini, pemudik atau wisatawan akan lebih selektif dalam membelanjakan uang mereka. Hal tersebut tentu berdampak pada pelaku usaha berbasis wisata di Yogyakarta yang telah mendamba mereguk cuan sebanyak-banyaknya saat Lebaran tiba.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Gudang Pertanian Terbakar saat Shalat Ied, Wanita Paruh Baya Ditemukan Tewas
• 19 jam laluokezone.com
thumb
Semeru Kembali Erupsi, Awan Panas Meluncur 3,5 Kilometer
• 19 jam lalutvrinews.com
thumb
Prabowo Halalbihalal dengan SBY di Istana, Bahas Apa?
• 22 jam lalukatadata.co.id
thumb
MAARIF Institute Imbau Tak Ada Lagi Persekusi Terkait Perbedaan Idul Fitri
• 19 jam lalukumparan.com
thumb
Update Mudik Lebaran 2026: 33 Ribu Kendaraan Masuk Semarang via GT Kalikangkung
• 9 jam lalumetrotvnews.com
Berhasil disimpan.