KOMPAS.com – Krisis air bersih masih menjadi persoalan global yang belum terselesaikan. Nyatanya, saat ini masih banyak orang di dunia yang belum memiliki akses air minum yang aman.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) dalam siaran persnya, Minggu (22/3/2026), menyatakan, lebih dari 1,8 miliar orang di dunia belum memiliki akses langsung terhadap air minum yang aman di rumah, meski berbagai kemajuan telah dicapai dalam dua dekade terakhir.
Secara global, sekitar 2,2 miliar orang memang telah mendapatkan akses air minum yang dikelola secara aman. Namun, angka tersebut belum mampu menutup kesenjangan yang masih lebar, terutama di negara berkembang dan wilayah terpencil.
Bagi sebagian masyarakat, air mungkin terasa sebagai hal yang selalu tersedia. Aktivitas seperti mencuci wajah, memasak, hingga mandi dapat dilakukan dengan mudah hanya dengan membuka keran.
Namun, kondisi tersebut sangat berbeda dengan realitas yang dihadapi jutaan orang di berbagai belahan dunia.
Di banyak wilayah, masyarakat harus berjalan berkilo-kilometer setiap hari untuk mengambil air. Mereka membawa wadah berat demi memenuhi kebutuhan dasar keluarga, mulai dari minum hingga memasak.
Baca juga: Cara Melihat Mata Air Umbul Ponggok, Tidak Harus Bisa Berenang
Komdigi menyatakan, secara global, perempuan dan anak perempuan menghabiskan sekitar 250 juta jam setiap hari hanya untuk mengumpulkan air.
Krisis air dan dampak sosial yang meluasKeterbatasan akses air bersih tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga memicu persoalan sosial yang lebih luas. Perempuan menjadi kelompok yang paling merasakan dampak dari krisis ini.
Lebih dari 1 miliar perempuan di dunia masih belum memiliki akses terhadap layanan air minum yang aman. Akibatnya, mereka harus menghabiskan waktu dan tenaga untuk memenuhi kebutuhan air keluarga.
Kondisi tersebut mengurangi kesempatan untuk mengenyam pendidikan, bekerja, maupun mengembangkan diri.
Selain itu, keterbatasan air bersih berkaitan erat dengan minimnya akses sanitasi yang layak. Tanpa fasilitas sanitasi yang memadai, risiko penyakit meningkat, terutama bagi perempuan dan anak-anak. Mereka juga menghadapi ancaman keamanan serta kehilangan privasi dan martabat.
Baca juga: Air Bersih Kembali Mengalir, Senyum Emak-Emak di Syiah Utama Bener Meriah Kembali Merekah
Air bersih dan sanitasi merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Ketika salah satunya tidak terpenuhi, dampaknya akan meluas ke berbagai aspek kehidupan.
Sanitasi yang buruk meningkatkan potensi penyebaran penyakit, sementara keterbatasan air membuat praktik kebersihan sulit dilakukan.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperparah kemiskinan. Masyarakat yang terus menghadapi keterbatasan akses air dan sanitasi cenderung terjebak dalam siklus krisis yang sulit diputus.
Dampaknya tidak hanya dirasakan secara fisik, tetapi juga memengaruhi pendidikan, produktivitas, hingga kualitas hidup secara keseluruhan.
Baca juga: Air Bersih di 7 Desa Putus Akibat Banjir Lahar, Pemkab Magelang Perpanjang Tanggap Darurat





