Efek Domino Konflik Timur Tengah, Tren Pelonggaran Moneter Berakhir?

bisnis.com
4 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Usai menjalani masa pelonggaran moneter untuk dorong pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun lalu, kini tampaknya Bank Indonesia (BI) akan memasuki stabilitas moneter.

Dalam Pengumuman Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) edisi Maret pada Selasa (17/3/2026), untuk pertama kali setelah sekian lama, BI secara eksplisit menyatakan menutup ruang penurunan suku bunga dalam waktu dekat.

"Kenapa kami dalam pernyataan ini tidak lagi menyampaikan kemungkinan penurunan suku bunga? Ini karena memang kemungkinan kami akan tetap mempertahankan BI Rate selama ini untuk memperkuat intervensi dan juga kecukupan cadangan devisa," tegas Gubernur BI Perry Warjiyo.

Dia mengungkapkan kekhawatiran peningkatan ketidakpastian ekonomi global imbas eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan Israel-AS ke Iran pada akhir Februari lalu.

Perry mengungkapkan bahwa bank sentral telah melakukan kalkulasi mendalam selama dua hari terakhir terkait durasi, intensitas, serta dampak rambatan dari perang di Timur Tengah terhadap berbagai indikator ekonomi makro Indonesia.

Hasilnya, BI menakar bahwa ketegangan geopolitik ini akan memicu lonjakan harga minyak dunia yang bermuara pada perlambatan pertumbuhan ekonomi dan lonjakan inflasi global.

Baca Juga

  • Risiko Gejolak Rupiah Mengintai Saat BI Setop Operasi Moneter Selama Lebaran
  • Bank Indonesia Tahan Operasi Moneter Rupiah & Valas Selama Lebaran 2026
  • Ruang Pelonggaran Moneter Masih Terbuka, BI Tunggu Ketidakpastian Mereda

Dia menjelaskan bahwa transmisi dampak perang tersebut telah memukul pasar keuangan global dan menjalar ke pasar domestik. Perry mencontohkan derasnya arus modal asing keluar (capital outflow) dari negara-negara berkembang (emerging market), termasuk Indonesia.

Kondisi tersebut diperparah oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan lonjakan imbal hasil (yield) US Treasury, yang secara langsung menekan nilai tukar rupiah dan mengerek yield surat berharga negara (SBN).

Lebih lanjut, Perry memastikan bahwa bank sentral telah menyiapkan matriks ketahanan berdasarkan tiga skenario pergerakan harga minyak global: asumsi harga minyak dunia yang tidak terlalu tinggi, moderat, dan lonjakan drastis akibat eskalasi perang yang meluas.

Berdasarkan risiko dari skenario-skenario tersebut, dia menyatakan strategi BI saat ini adalah mempertahankan BI Rate di level 4,75% dalam RDG edisi Maret 2026 guna memperkuat amunisi intervensi pasar dan menjaga ketahanan cadangan devisa.

"Kami akan terus mengkalibrasi optimalitas antara kebijakan intervensi untuk stabilisasi nilai tukar rupiah, kecukupan cadangan devisa, dan juga respon dengan mengenai suku bunga. Tentu saja kalibrasi optimalitas antara ketiganya ini akan tergantung pada seberapa jauh eskalasi perang Timur Tengah akan berlanjut," jelas Perry.

Sebagai perbandingan, dalam setiap pengumuman RDG bulanan tahun lalu, otoritas moneter selalu menyatakan buka peluang penurunan BI Rate lanjutan. Bahkan, bank sentral tercatat telah memangkas BI Rate sebanyak 125 basis poin, dari 6,00% menjadi 4,75%—pemangkasan terbanyak sejak era kahar pandemi Covid-19 pada 2020.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Waspada! RI Berpotensi Dilanda El Nino Godzilla, Ancam Lumbung Pangan
• 1 jam lalubisnis.com
thumb
Kawasan Wisata Lembang Mulai Dipadati Kendaraan
• 7 jam lalurepublika.co.id
thumb
Hangatnya Halalbihalal Prabowo dan Jokowi di Istana, Duduk Satu Sofa Bercengkerama
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
AS-Israel Wajib Waspada! Militer Iran Kenalkan Taktik Serangan Baru: Medan Perang Makin Sempit
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Wanita Tewas Dibunuh WN Irak Eks Suami Siri di Jaktim Ternyata Cucu Mpok Nori
• 5 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.