Lebaran yang seharusnya identik dengan silaturahmi dan kehangatan keluarga, tahun ini terasa berbeda bagi sebagian warga Ciracas, Jakarta Timur.
Hujan deras yang turun sejak Sabtu (21/3) siang mengubah suasana Idul Fitri menjadi momen bertahan di tengah banjir yang datang cepat dan tak terduga.
Feri (51) masih ingat betul saat air mulai masuk ke rumahnya sekitar pukul 18.00 WIB, ketika ia tengah berkumpul bersama keluarga.
“Saya pikir paling cuma satu ubin [anak tangga], paling dua ubin [anak tangga] seperti biasanya,” kata Feri saat ditemui kumparan di lokasi, Minggu (22/3).
Namun, perkiraannya meleset jauh. Air terus naik dengan cepat, hingga akhirnya merendam rumah lebih tinggi dari yang pernah ia alami.
Di tengah kepanikan, Feri berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa diselamatkan.
Kulkas diikat agar tidak roboh, sementara barang lain dipindahkan ke tempat yang lebih tinggi. Keluarga yang semula berkumpul pun terpaksa harus berpindah.
Menjelang larut malam, sekitar pukul 23.00 WIB, Feri bersama keluarga memutuskan mengungsi ke rumah orang tuanya di Jagakarsa, Jakarta Selatan, setelah mendapat imbauan dari Ketua RT.
"Takut listrik masih nyala atau apa, kita nggak tahu,” ujarnya.
Keesokan harinya, Minggu (22/3), ia kembali ke rumah saat air belum sepenuhnya surut. Tanpa menunggu lama, ia langsung membersihkan sisa banjir.
"Kalau enggak dikerjain, nggak kelar-kelar,” katanya.
Hari kedua Lebaran yang biasanya diisi dengan bersilaturahmi bersama sanak saudara pun terpaksa dibatalkan. Feri memilih bertahan dan membereskan rumah, meski mencoba tetap menerima keadaan.
“Nikmatin aja hidup, mau gimana lagi,” ucapnya pasrah.
Barang hingga Konsumsi Lebaran Pada Ngambang
Cerita serupa datang dari Slamet (62), warga lain di kawasan yang sama. Ia menyebut, banjir kali ini sebagai yang terparah selama ia tinggal di sana.
“Semua kasur, piring, barang-barang pada ngambang,” katanya.
Saat air terus meninggi, Slamet bersama warga lain dievakuasi ke masjid terdekat. Bantuan konsumsi ringan sempat diberikan oleh pengurus RT dan relawan.
Hidangan lebaran yang telah disiapkannya pun tak bisa diselamatkan.
Meski air mulai surut sekitar pukul 05.00 WIB, proses pemulihan masih panjang. Lumpur dan pasir yang terbawa banjir menjadi pekerjaan berat bagi warga.
Selain itu, kondisi kesehatannya juga mulai terdampak. Slamet mengaku sempat mengalami demam dan mendapat penanganan dari tim kesehatan yang datang ke lokasi.
Di balik situasi sulit tersebut, harapan tetap ada. Slamet berharap ada penanganan lebih serius dari pemerintah, terutama terkait penguatan tanggul dan pengelolaan aliran sungai agar kejadian serupa tidak terulang.
“Ada lah, gotong royong nanganin kali, ninggiin bibir kali, supaya air jangan tumpah,” katanya.
Bagi Feri, banjir di hari Lebaran justru menjadi pelajaran tersendiri. Ia memilih untuk menjalani keadaan dengan apa adanya.
“Hidup tinggal jalanin aja,” kata Feri.
Di Ciracas, Jakarta Timur, Lebaran tahun ini bukan hanya soal saling memaafkan, tetapi juga tentang bertahan. Bagaimana warga tetap berdiri, bahkan ketika air sempat merendam segalanya.





