Industri penerbangan global tengah menghadapi krisis terparah sejak pandemi COVID-19, dipicu konflik di Iran. Perang antara Israel dan Amerika Serikat dengan Iran membuat harga bahan bakar naik pesawat gila-gilaan, gangguan operasional, hingga anjloknya valuasi maskapai.
Mengutip Financial Times, Minggu (22/3), memasuki pekan keempat perang, tekanan terhadap industri semakin terasa. Lebih dari USD 50 miliar nilai pasar maskapai dunia menguap. Angka tersebut setara Rp 846,4 T dengan kurs Rp 16.928 per USD, sementara sejumlah penerbangan dihentikan akibat penutupan wilayah udara dan terganggunya bandara hub di kawasan Teluk.
Kenaikan tajam harga bahan bakar menjadi pukulan utama. Bahan bakar jet yang menyumbang sekitar sepertiga biaya operasional maskapai dilaporkan telah melonjak dua kali lipat sejak serangan militer ke Iran dimulai. Dampaknya, maskapai mulai bersiap menaikkan harga tiket dalam waktu dekat.
“Harga bahan bakar juga melonjak cukup tajam setelah invasi Ukraina pada tahun 2022, tetapi kali ini trennya semakin memburuk,” kata CEO easyJet, Kenton Jarvis.
Kondisi ini membuat maskapai sulit menahan beban biaya. CEO Lufthansa Carsten Spohr menyebut kenaikan tarif tidak terhindarkan. “Keuntungan rata-rata kami sekitar €10 per penumpang, tidak mungkin Anda dapat menanggung biaya tambahan tersebut,” ujarnya.
Selain biaya, gangguan pasokan bahan bakar juga mulai diantisipasi. CEO Air France-KLM Ben Smith mengatakan pihaknya telah menyiapkan skenario darurat, termasuk pengurangan rute penerbangan ke Asia.
Krisis paling parah terjadi di kawasan Teluk. Maskapai besar seperti Emirates, Etihad, dan Qatar Airways terpaksa memangkas jadwal secara signifikan akibat konflik dan merosotnya pariwisata.
“Bagi orang-orang di Timur Tengah, ini adalah krisis besar,” kata Willie Walsh dari IATA.
Dia menilai situasi saat ini menyerupai dampak pasca-serangan 11 September 2001 terhadap penerbangan transatlantik.
Tak hanya penumpang, sektor kargo juga terdampak. Peralihan pengiriman dari jalur laut ke udara membuat kapasitas bandara kewalahan. Bahkan, pengiriman ke Jenewa harus dialihkan ke Paris karena pesawat penuh.
Melihat kondisi ini, analis memperingatkan maskapai tanpa dukungan pemerintah berisiko besar mengalami kesulitan keuangan. “Jika Anda adalah maskapai penerbangan tanpa dukungan negara, Anda akan mengalami masalah,” kata Andrew Charlton dari Aviation Advocacy.
Meski demikian, ada harapan pemulihan cepat jika konflik mereda. Jarvis menyebut harga saham telah bergerak berlawanan dengan semua maskapai penerbangan sejak awal konflik.
“Saya pikir mereka [penjual pendek] akan menutup posisi mereka dengan cukup cepat jika ada gencatan senjata yang diumumkan," katanya.





