Pemain PSM dan Dewa United Masih Membuka Asa ke Timnas: Jalan Victor Dethan, Ricky Kambuaya, dan Egy Maulana Vikri Belum Tertutup

harianfajar
2 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, JAKARTA — Dalam sepak bola, keputusan paling keras sering kali datang bukan dalam bentuk kekalahan, melainkan pengumuman daftar nama. Tak ada peluit panjang, tak ada sorak atau cemooh. Hanya deretan pemain—dan yang lebih terasa, mereka yang tak disebut.

Ketika PSSI merilis 24 nama untuk FIFA Series 2026, perhatian publik justru tersedot ke ruang kosong yang ditinggalkan. Di sana, ada Ricky Kambuaya, Egy Maulana Vikri, dan Victor Dethan—tiga nama yang sebelumnya terasa akrab dalam denyut skuad Garuda.

Mereka tidak hilang. Hanya tidak dipilih, setidaknya untuk saat ini.

Keputusan John Herdman, yang menandai awal kepemimpinannya, sejak awal memang terasa sebagai pernyataan. Dari 41 pemain dalam daftar awal, ia mereduksi menjadi 24. Sebuah penyaringan yang bukan sekadar teknis, tetapi juga filosofis: tentang arah seperti apa tim ini akan dibentuk.

Mayoritas nama yang bertahan adalah wajah-wajah yang dalam beberapa waktu terakhir menjadi tulang punggung. Emil Audero di bawah mistar, Jay Idzes di jantung pertahanan, hingga pemain-pemain diaspora lain yang memberi warna baru dalam komposisi tim.

Namun, sepak bola nasional tak pernah hanya tentang siapa yang masuk. Ia juga tentang siapa yang tertinggal—dan bagaimana mereka meresponsnya.

Bagi Kambuaya, absennya kali ini terasa kontras dengan perannya di masa lalu. Ia pernah menjadi motor permainan, pemain yang membawa energi dalam transisi. Sementara bagi Egy, cerita ini seperti pengulangan dari fase-fase sebelumnya: talenta besar yang terus berusaha menemukan bentuk paling konsisten dari dirinya.

Adapun Victor Dethan, yang tampil bersama PSM Makassar, berada dalam fase yang berbeda. Ia bukan pemain yang “dicoret” dari puncak, melainkan yang sedang mengetuk pintu. Ketidakhadirannya mungkin lebih dekat dengan proses daripada kehilangan.

Pengamat sepak bola melihat keputusan ini dengan campuran heran dan maklum. Ada nama-nama yang dianggap layak diuji, tetapi tak diberi ruang. Namun di sisi lain, pemilihan skuad jarang berdiri di atas satu variabel saja.

Dalam sepak bola modern, pelatih tak sekadar mengumpulkan pemain terbaik, tetapi pemain yang paling cocok.

Herdman tampaknya sedang membangun kerangka itu. Ia diperkirakan mengusung sistem dengan empat bek, mengandalkan keseimbangan antara kekuatan fisik dan distribusi bola. Duet bek tengah yang solid, sayap yang agresif, serta lini depan yang fleksibel menjadi fondasi awal.

Di tengah itu, peran gelandang menjadi krusial—bukan hanya sebagai penghubung, tetapi juga sebagai pengendali ritme. Pilihan-pilihan yang diambil menunjukkan kecenderungan pada pemain yang mampu menjalankan lebih dari satu fungsi.

Itulah mungkin alasan mengapa beberapa nama harus menepi.

Namun, tidak masuknya mereka hari ini bukan berarti pintu telah tertutup. Justru sebaliknya, seleksi semacam ini sering kali menjadi fase paling jujur dalam karier seorang pemain. Tidak ada lagi ruang aman selain performa.

FIFA Series 2026, yang akan digelar di Stadion Gelora Bung Karno, menjadi panggung awal bagi wajah baru Timnas Indonesia. Lawan seperti Saint Kitts and Nevis national football team mungkin bukan ukuran tertinggi, tetapi cukup untuk membaca arah permainan dan identitas tim yang sedang dibangun.

Jika melangkah ke final, Indonesia akan berhadapan dengan pemenang antara Solomon Islands national football team dan Bulgaria national football team. Sebuah spektrum lawan yang memberi variasi pengalaman, dari yang setara hingga yang lebih mapan.

Di luar lapangan, cerita tetap berjalan.

Kambuaya, Egy, dan Dethan kini berada di jalur yang sama: membuktikan bahwa mereka masih relevan. Klub menjadi panggung utama, performa menjadi bahasa satu-satunya. Tidak ada jalan pintas, tidak ada jaminan.

Sepak bola, pada akhirnya, selalu memberi ruang untuk kembali. Tapi ruang itu tidak datang dengan sendirinya—ia harus direbut.

Dan mungkin, justru dari titik ini, perjalanan mereka menjadi lebih menarik.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Tambah Kenyamanan Pemudik EV, PLN Siapkan SPKLU Center di Sepanjang Trans Jawa dan Titik Strategis
• 11 jam laludisway.id
thumb
Penerbit Ajak Perkuat Literasi di Momentum Idul Fitri 1447 H
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Festival rakik-rakik meriahkan Lebaran di Danau Maninjau
• 11 jam laluantaranews.com
thumb
Serangan Tanpa Henti! Rudal Iran Gelombang ke-70 Meluncur, Picu Ledakan 55 Zona Israel-AS
• 12 jam lalukompas.tv
thumb
Mengenal 2 Konsep Huntap yang Akan Dibangun untuk Penyintas Bencana Sumatera
• 5 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.