Pantau - Tradisi makan bersama saat Lebaran di Indonesia memiliki kaitan dengan konsep budaya rijsttafel yang berkembang sejak masa kolonial Belanda dan kini dimaknai sebagai simbol kebersamaan.
Sejarah dan Perkembangan RijsttafelKonsep rijsttafel mulai dikenal pada abad ke-19 sebagai bagian dari budaya kuliner kolonial Belanda.
Istilah rijsttafel berasal dari kata rijs yang berarti nasi dan tafel yang berarti meja.
Penyajian dilakukan dengan berbagai hidangan dalam porsi kecil yang disajikan berurutan di satu meja.
Hidangan tersebut meliputi berbagai jenis nasi seperti nasi goreng, nasi gurih, dan nasi kukus yang dipadukan dengan lauk seperti sate, dendeng, empal, ayam goreng, hingga ayam panggang.
Awalnya, rijsttafel menjadi simbol kemewahan dan status sosial kalangan Belanda dalam budaya Indische Keuken.
“Terminologi rijsttafel itu sebenarnya seperti makan tengah. Semua hidangan sudah disiapkan lalu dinikmati bersama dalam satu meja,” ungkap Chef Tri Julianto.
Adaptasi dalam Tradisi LebaranDalam perkembangan modern, konsep rijsttafel mulai jarang digunakan namun maknanya bergeser menjadi kebersamaan.
Pada momen Lebaran, konsep ini diadaptasi melalui sajian khas seperti ketupat, opor ayam, semur daging, sambal goreng kentang, telur balado, dan sayur labu.
Hidangan tersebut dinikmati bersama keluarga dalam satu meja sebagai simbol kehangatan.
“Jadi kehangatan saat Lebaran bisa dirasakan keluarga dengan menu yang sudah kita siapkan spesial,” ungkap Chef Tri.
Kekuatan utama masakan Nusantara terletak pada perpaduan rempah seperti bawang merah, bawang putih, jahe, lengkuas, dan kemiri.
“Semua bumbu itu penting. Satu saja hilang pasti terasa ada yang kurang,” ungkapnya.
Opor ayam sebagai hidangan khas Lebaran merupakan hasil akulturasi budaya India, Arab, dan Tionghoa dengan dua varian kuah putih dan kuning.
Konsep rijsttafel kini lebih menekankan nilai kebersamaan dalam menikmati hidangan Lebaran.



