Bisnis.com, JAWA TENGAH — Sejumlah pedagang di Pasar Beringharjo, Yogyakarta, mengaku bingung mencari pelanggan di tengah momentum libur Lebaran 2026. Kondisi pembeli saat ini disebut jauh lebih sepi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sri Wasiyadi (73), menjadi salah satu pedagang yang setia menanti kehadiran pembelinya di Pasar Beringharjo. Selama berjam-jam lamanya, perempuan yang kini berdagang seorang diri ini setia menyapa seluruh calon pembelinya.
Rutinitas Sri sejak 1995 di pasar ini selalu sama. Dia setia berdagang sejak pagi hingga pukul 17.00 WIB dalam kondisi pasar ramai maupun sepi pembeli.
"Saya percaya rezeki sudah diatur sama Tuhan," katanya kepada Bisnis mengawali pembicaraan, Minggu (22/3/2026).
Sri sekaligus menjadi pedagang yang merasakan sepinya pembeli di pasar ini. Dia bercerita, momentum Lebaran biasanya memberikan peningkatan pendapatan hingga lebih dari 70%. Namun kondisinya berbeda sekarang.
Dari sisi jumlah pengunjung, Sri merasa bahwa total pengunjung yang hadir pada momentum Lebaran 2026, tidak lebih dari separuh realisasi Lebaran 2025. Meskipun begitu, lonjakan pengunjung tetap terjadi jika dibandingkan hari biasanya.
Baca Juga
- JELAJAH LEBARAN 2026: Pelayanan Paripurna BSI Selama Mudik 2026
- JELAJAH LEBARAN 2026: Menyicipi Soto dan Bebek Bacem Khas Klaten
- Jelajah Lebaran 2026: Profil Masjid Agung Jawa Tengah di Kota Semarang
"Lebaran tahun ini turun drastis, enggak seperti Lebaran tahun lalu," katanya.
Bahkan, selama periode puasa sebelum Idulfitri, pakaiannya hanya laku 1–3 potong per harinya. Dia memprediksi, sejumlah kejadian dalam dan luar negeri telah mempengaruhi minat belanja masyarakat.
Beberapa di antaranya seperti bencana Sumatra hingga perang yang terjadi antara AS-Israel dengan Iran belakangan.
Suminah (59) juga merasakan hal serupa. Selama setengah bulan puasa tahun ini, dia hanya mencatatkan penjualan Rp100.000. Kondisinya jauh berbeda ketika tahun lalu dia membukukan pendapatan senilai Rp200.000–Rp300.000 per harinya.
Sementara pada momentum libur Lebaran, yang diharapkan dapat mendorong pendapatan lebih tinggi, justru tidak jauh berbeda.
Penjualan yang biasanya dapat dibukukan senilai Rp1–Rp2 juta per hari pada momentum yang sama tahun lalu, kini kondisinya jauh menyusut menjadi hanya Rp300.000–Rp400.000 per harinya. Artinya, terdapat penurunan hingga 70%–80% dibandingkan tahun lalu.
"Iya kalau tahun ini sering kali blong. Jualannya enggak laku," katanya, Minggu (22/3/2026).
Dia menilai bahwa kehadiran toko online telah menjadi salah satu faktor lesunya penjualan pada momentum Lebaran. Selain itu, perang Iran hingga bencana Sumatra turut dinilai menjadi faktor lainnya.
"Mungkin juga enggak ada orang yang ke sini. Jadi cuma orang sini [lokal], ya enggak beli lah. Harga apa-apa mahal, buat makan sehari-hari mahal," katanya.
Meskipun begitu, Suminah tidak putus asa. Dia mengaku akan terus menanti kehadiran pelanggan demi dapat melanjutkan hidup di kota pelajar ini. Selain itu, tidak ada pilihan lain baginya.
"Ya harapannya semoga laku ke depannya," tegasnya.
Padahal, data Dinas Perhubungan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) per 21 Maret 2026, mencatat jumlah kendaraan yang masuk ke kota ini mencapai 156.985 unit. Sementara itu, hanya 103.029 kendaraan yang keluar dari Yogyakarta.
Bila diperinci, sebanyak 103.874 kendaraan roda dua masuk ke Yogyakarta pada periode ini, sementara hanya 39.232 kendaraan roda empat yang masuk ke kota ini. Sisanya merupakan bus dan truk.





