VIVA –Belakangan ini rumor mengenai tewasnya Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu tengah ramai dibahas publik. Rumor ini ramai dibahas lebih dari dua pekan ke belakang ini menyusul laporan kantor berita Tansim yang menyebut Iran telah menyerang kediaman Netanyahu. Akibat serangan itu, saudara laki-laki Netanyahu tewas dan melukai Menteri Kemanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir.
Tak hanya itu saja, rumor semakin menguat menyusul laporan bahwa Perdana Menteri Netanyahu tidak menghadiri pertemuan 'Dewan Perang' yang diadakan selama konflik yang sedang berlangsung dengan Iran pada pertengahan bulan ini. Di tengah kabar tentang kematiannya, Netanyahu sempat beberapa kali mengunggah video di akun media sosialnya dan menegaskan bahwa dirinya masih hidup.
Namun, sejumlah pihak mencurigai bahwa video-video tersebut merupakan hasil rekayasa AI. Lalu, di balik simpang siur kabar tersebut, apa yang akan terjadi jika Perdana Menteri Israel itu benar-benar meninggal dunia?
Melansir laman Jordannews, Senin 23 Maret 2026, pertama jika Netanyahu meninggal akan berdampak pada perang di Gaza. Netanyahu, yang sejak awal memimpin upaya perang, memegang peran penting dalam strategi militer dan politik Israel. Kepergiannya bisa memicu perubahan besar dalam arah perang tersebut.
Ketika dia meninggal akan ada pergantian kepemimpin yang bisa membawa perbedaan pendekatan dalam eskalasi militer. Ada kemungkinan sebagian pemimpin akan mengambil langkah yang lebih keras terhadap Gaza, sementara yang lain memilih jalur negosiasi atau strategi alternatif untuk menekan kerugian.
Jika tokoh seperti Gideon Sa’ar atau Avigdor Lieberman memegang kendali, operasi militer mungkin akan berjalan dengan lebih tegas. Namun di sisi lain, ada juga kemungkinan muncul pendekatan yang lebih menahan diri.
Kematian Netanyahu juga berpotensi mengubah cara komunitas internasional merespons perang ini. Selama ini, ia dikenal memiliki hubungan yang kuat dengan Amerika Serikat dan negara-negara Barat lainnya.
Penggantinya mungkin akan menghadapi tantangan lebih besar dalam mempertahankan hubungan tersebut, terutama jika mereka cenderung mengambil kebijakan yang lebih ekstrem atau menghadapi tekanan dalam negeri untuk menyetujui gencatan senjata.





