Jakarta: Masyarakat mesti mewaspadai pola makan berlebihan setelah menjalani ibadah puasa selama bulan Ramadan. Hal tersebut bisa memicu gangguan kesehatan.
Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Ari Fahrial Syam, mengingatkan bahwa tubuh terutama sistem pencernaan memerlukan proses adaptasi setelah Ramadan. Menurutnya, puasa Syawal dapat membantu proses adaptasi.
"Anjuran puasa Syawal dapat menjadi salah satu cara untuk membantu proses transisi tubuh menuju pola makan normal," ujar Ari, mengutip laman resmi FKUI, Minggu, 22 Maret 2026.
Baca Juga :
Hadis Puasa 6 Hari di Bulan Syawal Lengkap dengan Penjelasan Para UlamaMenurutnya, perlu ada penyesuaian secara bertahap, baik dari sisi jumlah makanan, waktu makan, maupun pola istirahat.
"Jangan langsung berlebihan karena lambung memiliki keterbatasan dalam menerima asupan," jelasnya.
Makanan yang Dibatasi
Ari menuturkan, pada momen Lebaran, berbagai hidangan bersantan, berlemak, serta tinggi gula menjadi sajian utama. Kondisi ini kerap memicu keluhan seperti perut kembung, begah, hingga nyeri ulu hati.
Untuk mencegah gangguan pencernaan, masyarakat diimbau membatasi konsumsi makanan tinggi lemak, santan, serta makanan yang terlalu pedas atau asam.
Ilustrasi Pexels
Selain itu, konsumsi minuman bersoda dan kopi secara berlebihan juga sebaiknya dihindari, terutama bagi mereka yang sebelumnya telah mengurangi asupan tersebut selama Ramadan.
Bagi masyarakat dengan riwayat penyakit lambung, asam urat, hipertensi, maupun diabetes, kewaspadaan perlu ditingkatkan. Pola makan yang tidak terkontrol saat Lebaran dapat menyebabkan kondisi penyakit menjadi tidak stabil, bahkan memicu komplikasi akut.
"Selama Ramadan, banyak orang berhasil mengendalikan pola makan dan bahkan menurunkan berat badan. Namun, jika tidak dijaga, kondisi tersebut bisa kembali seperti semula hanya dalam waktu singkat," terangnya.




