Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu mendesak negara-negara lain untuk bergabung dalam upaya militer melawan Iran, dengan menyoroti ancaman terhadap jalur perdagangan dan energi global, termasuk Selat Hormuz.
“Jika Anda ingin bukti bahwa Iran membahayakan seluruh dunia, 48 jam terakhir telah memberikannya,” ujar Netanyahu mengutip Yahoo, Senin (23/3/2026).
Netanyahu menilai kemampuan militer Iran telah berkembang hingga mampu menjangkau wilayah yang lebih luas, termasuk Eropa.
“Mereka kini memiliki kemampuan untuk menjangkau jauh hingga ke Eropa. Mereka menargetkan semua pihak,” lanjutnya.
Ia juga menyoroti peluncuran rudal Iran yang disebut menargetkan pangkalan militer Amerika Serikat dan Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia, sekitar 4.000 kilometer dari Iran. Media Iran melaporkan dua rudal balistik diluncurkan, sementara laporan media AS menyebut satu rudal gagal dan satu lainnya berhasil dicegat.
Dalam konteks ekonomi global, Netanyahu menekankan ancaman Iran terhadap jalur distribusi energi dunia, khususnya Selat Hormuz yang menjadi salah satu rute utama perdagangan minyak dan gas.
“Mereka menghentikan jalur maritim internasional, jalur energi, dan mencoba memeras seluruh dunia,” tegasnya.
Menurutnya, gangguan terhadap jalur tersebut berpotensi menghambat arus perdagangan global serta meningkatkan tekanan terhadap pasar energi internasional.
Netanyahu juga menyerukan keterlibatan lebih luas dari komunitas internasional dalam konflik tersebut.
“Apa lagi bukti yang Anda butuhkan bahwa rezim ini mengancam seluruh dunia dan harus dihentikan? Israel dan Amerika Serikat bekerja untuk seluruh dunia. Sudah saatnya para pemimpin negara lain ikut bergabung,” katanya.
Baca Juga: Netanyahu Bantah Isu Kematian, Muncul di Publik Jawab Spekulasi Video AI
Baca Juga: Iran Ancam Hancurkan Infrastruktur Energi Timur Tengah, Balas Ultimatum Trump soal Selat Hormuz
Baca Juga: Jika Diserang, Iran Siap Hantam Infrastruktur Energi dan Teknologi AS-Israel
Eskalasi konflik ini bermula sejak serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026, yang kemudian dibalas oleh Teheran melalui serangan rudal dan drone ke Israel serta negara-negara sekutu AS di kawasan.
Ketegangan yang terus meningkat tersebut turut memicu gangguan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah, termasuk risiko terhadap jalur pelayaran dan distribusi energi global.





