Pemerintah China menegaskan komitmennya untuk membuka akses ekonomi lebih luas bagi perusahaan asing serta mendorong perdagangan global yang lebih seimbang, di tengah meningkatnya tekanan akibat surplus perdagangan dan ketegangan dagang dengan negara Barat.
Perdana Menteri China Li Qiang menyatakan China akan meningkatkan impor barang berkualitas tinggi dari luar negeri dan memperkuat kerja sama perdagangan internasional.
“China akan mengimpor lebih banyak produk berkualitas tinggi dan bekerja sama dengan semua pihak untuk mendorong perdagangan yang lebih seimbang serta memperluas pasar global,” ujarnya Li, dalam forum China Development Forum di Beijing, Minggu (23/3/2026).
Pernyataan tersebut muncul setelah China mencatat surplus perdagangan mencapai US$1,2 triliun sepanjang 2025, yang memicu kekhawatiran sejumlah negara terkait ketidakseimbangan perdagangan global.
Forum tahunan ini menjadi momentum bagi pemerintah China untuk menyampaikan arah kebijakan ekonomi dan peluang investasi kepada investor global, sekaligus meredakan kekhawatiran atas praktik perdagangan dan kelebihan kapasitas industri domestik.
Di sisi lain, Gubernur Bank Sentral China Pan Gongsheng menekankan bahwa ketidakseimbangan ekonomi global tidak hanya ditentukan oleh perdagangan barang, tetapi juga sektor jasa dan arus keuangan.
“Analisis ketidakseimbangan global harus mencakup perdagangan barang dan jasa, serta neraca transaksi berjalan dan finansial,” ujarnya.
Ia menambahkan, meskipun China memiliki surplus perdagangan barang terbesar di dunia, negara tersebut juga mencatat defisit besar di sektor jasa. Pan juga menegaskan China tidak berniat meningkatkan daya saing melalui pelemahan nilai tukar mata uang.
Komitmen pembukaan ekonomi ini juga menjadi bagian dari upaya China untuk menarik kembali investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) yang mengalami penurunan.
Data menunjukkan investasi asing ke China turun 5,7% secara tahunan menjadi sekitar 92 miliar yuan pada Januari 2026, setelah sebelumnya turun 9,5% sepanjang 2025.
Sebagai respons, pemerintah telah memperluas sektor yang terbuka bagi investasi asing, termasuk manufaktur maju, layanan modern, serta industri berbasis teknologi dan energi hijau, dengan berbagai insentif seperti keringanan pajak dan kemudahan akses lahan.
Li menegaskan perusahaan asing akan mendapatkan perlakuan yang setara dengan perusahaan domestik.
“Kami akan memastikan perusahaan dari semua negara dapat berkembang dengan percaya diri dan mewujudkan rencana bisnis mereka di China,” katanya.
Baca Juga: Investasi China US$65 M Dorong Industri Nikel RI, Isu Lingkungan Menguat
Baca Juga: Produk China Kuasai E-Commerce, Purbaya Siapkan Strategi Hidupkan Pemain Lokal
Baca Juga: Gegara Perang Amerika Serikat-Iran, Trump Pilih Tunda Kunjungan ke China
Selain itu, Menteri Perdagangan China Wang Wentao menyampaikan pemerintah akan memperkuat perlindungan hak kekayaan intelektual dan meningkatkan transparansi kebijakan guna menarik minat investor global.
Sejumlah eksekutif perusahaan multinasional turut hadir dalam forum tersebut, termasuk dari sektor teknologi, otomotif, farmasi, dan manufaktur. CEO Apple Tim Cook menyatakan perusahaan akan terus memperkuat kerja sama dengan pemasok di China untuk mendukung pengembangan industri.





