Arad: Hampir 90 orang terluka tetapi tidak ada korban jiwa setelah rudal menghantam halaman rumah di Arad, Israel menghancurkan fasad bangunan
Tim darurat terus bekerja di Arad setelah sebuah rudal menghantam halaman rumah penduduk, melukai 88 warga Zionis, termasuk 10 orang luka serius, dan menyebabkan kerusakan parah pada bangunan di sekitarnya.
Baca Juga :
Iran Perluas Risiko Ancaman Serang dengan Rudal Jarak Jauh"Sebuah rudal jatuh di sini, di tengah halaman. Seluruh rudal menembus tanah. Sebagian besar kekuatannya masuk ke dalam tanah, dan itulah keajaiban besar yang terjadi di sini," kata seorang warga setempat, seperti dikutip Anadolu, Senin 23 Maret 2026.
"Jika rudal itu menghantam sebuah bangunan, seluruh bangunan akan runtuh, dan ledakan serta pecahan peluru akan menyebar hingga ratusan meter, menyebabkan kerusakan besar dan puluhan korban jiwa," lanjut warga itu.
Ia menambahkan bahwa mereka yang terluka tidak berada di tempat perlindungan pada saat itu, sementara warga yang berlindung tidak terluka.
"Semua warga di sini memiliki tempat perlindungan di bawah tanah, dan mereka yang masuk ke tempat perlindungan sama sekali tidak terluka,” ujarnya.
Yehuda Morgenstern, Direktur Jenderal Kementerian Konstruksi dan Perumahan mengatakan, para insinyur telah dikerahkan untuk menilai bangunan mana yang dapat diperbaiki dan mana yang mungkin perlu dihancurkan.
Ia menekankan bahwa peran kementerian adalah untuk "mengklasifikasikan struktur secepat mungkin agar warga dapat kembali ke rumah mereka di mana pun memungkinkan."
Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah operasi gabungan AS-Israel terhadap target Iran dimulai pada 28 Februari di tengah pembicaraan diplomatik yang bertujuan untuk membatasi program nuklir dan rudal Iran. Teheran menanggapi dengan serangan terhadap Israel dan posisi militer AS di wilayah tersebut, dengan ledakan dilaporkan di seluruh negara Teluk.
Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei dipastikan tewas pada hari pertama, dan putranya Mojtaba Khamenei kemudian diangkat sebagai penggantinya.
Lebih dari 1.400 warga Iran telah tewas sejak saat itu, dan setidaknya 18 kematian warga Israel telah dikonfirmasi.
Konflik tersebut juga mengganggu pengiriman melalui Selat Hormuz, jalur bagi sekitar 20 persen minyak global, karena Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi memperingatkan bahwa jalur tersebut dapat dibatasi hanya untuk sekutu, yang akan memicu lonjakan harga minyak global.




