Indonesia dibentuk dari beragam suku. Setiap suku memiliki tradisi yang berakar dari cara hidup sehari-hari warganya. Tradisi ini diwariskan secara turun-temurun dan membuatnya terus hidup dalam keseharian masyarakat Indonesia.
Tradisi yang langgeng dan berjalan ikut menopang kehidupan masyarakat Indonesia. Banyak tradisi dilakukan warga dalam momen tertentu. Sebut saja tradisi nyadran yang banyak dilakukan oleh masyarakat Jawa. Atau tradisi mengganti pakaian jenazah dalam kepercayaan masyarakat Toraja.
Begitu juga dengan masa di sekitar perayaan Lebaran. Banyak tradisi yang dilakukan oleh warga masyarakat. Salah satunya adalah tradisi Rakik-rakik oleh masyarakat sekitar Danau Maninjau di Agam, Sumatera Barat, pada Jumat (20/3/2026).
Warga menyalakan lampu minyak saat digelarnya tradisi Rakik-rakik di Nagari Maninjau, Agam, Sumatera Barat, Jumat (20/3/2026). (ANTARA FOTO/FITRA YOGI)
Warga penyintas bencana yang didukung perantau menggelar tradisi Rakik-rakik dengan membuat rakit hias berisi lampu dalam (ANTARA FOTO/FITRA YOGI)
Rakit hias berisi lampu dalam rangka memeriahkan Idul Fitri 1437 hijriah. (ANTARA FOTO/FITRA YOGI)
Tradisi yang digelar pada malam takbiran ini digelar untuk menyambut datangnya 1 Syawal. Acara biasanya dimulai setelah waktu isya hingga menjelang subuh. Rakik yang berarti rakit ini dibuat oleh warga dengan aneka bentuk dan dihiasi oleh banyak sumber cahaya. Pantulan cahaya di permukaan air membuat suasana begitu indah. Tak lupa dentuman meriam bambu juga menambah semarak suasana malam itu.
Tradisi ini mengajarkan semangat gotong royong warga saat membuat rakit itu. Selain itu, dengan rakik-rakik, kegembiaraan dan semarak warga menyambut 1 Syawal tergambar dengan jelas.
Dalam hal makanan, momen Lebaran juga membuat warga memasak hidangan khas. Jika masyarakat Jawa mengenal ketupat sebagai penganan khas Lebaran, maka mayarakat Sumatera memasak lemang saat merayakan Lebaran.
Warga memasukkan beras ketan ke dalam wadah bambu saat membuat lemang di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Jumat (20/3/2026). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Memasak dan memakan lemang merupakan salah satu tradisi masyarakat Aceh yang disebut Teut Leumang atau Malamang sebagai simbol kebersamaan. (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Seorang bocah mengangkat lemang usai dipanggang di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, Jumat (20/3/2026). (ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA)
Penyintas bencana memasak lemang di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (20/3/2026). (ANTARA FOTO/YUDI MANAR)
Warga terdampak bencana di daerah tersebut tetap memasak lemang sebagai makanan pelengkap dalam merayakan Lebaran. (ANTARA FOTO/YUDI MANAR)
Seperti yang dilakukan oleh warga di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, pada Jumat (20/3/2026) lalu. Lemang adalah makanan yang terbuat dengan bahan utama beras ketan dan santan yang dimasukkan ke dalam potongaan bambu yang kemudian dipanggang dengan bara api. Bagi masyarakat Aceh, memasak dan memakan lemang merupakan salah satu tradisi yang disebut Teut Leumang atau Malamang. Tradisi yang dilakukan sebagai simbol kebersamaan.
Selain di Aceh, lemang juga dimasak masyarakat di Kecamatan Tukka, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, Jumat (20/3/2026). Di lokasi ini warga memasak lemang sebagai makanan pelengkap dalam merayakan Lebaran bersama keluarga. Selain itu, usaha tersebut juga untuk menjaga tradisi masyarakat lokal setiap tahun.
Selain memasak lemang, masyarakat Aceh juga mempunyai tradisi yang disebut dengan meugang. Tradisi meugang di Aceh juga dilaksanakan sebelum memasuki Ramadhan.
Tradisi meugang untuk menyambut Idul Fitri 1447 H terlihat dilakukan warga penyintas bencana alam di Desa Agusen, Blangkejeren, Gayo Lues, Aceh, pada Jumat (20/3/2026). Saat itu mereka menyembelih dan menyantap daging sapi atau kerbau bersama keluarga. Hal serupa juga dijumpai di Dusun Ranto Panyang Rubek, Desa Sijudo, Pante Bidari, Aceh Timur, Aceh, Kamis (19/3/2026).
Menurut tradisi masyarakat Aceh, meugang dilakukan tiga kali dalam satu tahun, yaitu menjelang Ramadhan, Idul Fitri, dan Idul Adha. Selain dimakan bersama keluarga inti, masakan daging tersebut biasanya juga dibawa ke rumah mertua sebagai bentuk penghormatan. Mereka juga akan membagikan masakan meugang kepada anak yatim dan fakir miskin sebagai bentuk kepedulian sosial kepada warga sekitar.
Tradisi lain yang tidak kalah unik adalah tradisi Topeng Labu. Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat di Desa Muara Jambi, Muaro Jambi, Jambi. Seperti terlihat yang dilakukan oleh anggota Perkumpulan Rumah Menapo pada Sabtu (21/3/2026).
Tradisi Topeng Labu di Desa Muara Jambi, Muaro Jambi, Jambi, Sabtu (21/3/2026). (ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN)
Siasat para penderita kusta untuk menemui keluarga saat mereka diasingkan ke hutan pada masa lampau. (ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN)
Tradisi turun temurun masyarakat Desa Muara Jambi pada hari pertama Idul Fitri. (ANTARA FOTO/WAHDI SEPTIAWAN)
Tradisi Topeng Labu berangkat dari cerita rakyat tentang siasat para penderita kusta yang diasingkan untuk menemui keluarga mereka. Pada zaman perang kemerdekaan penggunaan topeng labu oleh penderita kusta juga dimanfaatkan untuk perjuangan. Para pejuang Jambi sering kali menyamar menjadi penderita kusta dengan memakai topeng labu agar bisa melewati pos penjagaan Belanda tanpa diperiksa.
Tentara kolonial yang takut tertular penyakit kusta cenderung membiarkan ”orang-orang bertopeng” ini lewat, padahal di balik topeng dan pakaian goni tersebut, para pejuang membawa pesan rahasia atau senjata. Atraksi topeng labu ini merupakan tradisi turun-temurun masyarakat Desa Muara Jambi pada hari pertama Idul Fitri.
Tentunya masih banyak tradisi lain yang berkaitan dengan Lebaran dan masih dihidupi oleh masyarakat di seluruh pelosok Nusantara. Tradisi di atas bisa menjadi contoh akan keunikan dan kekayaan tradisi dan budaya di Nusantara ini.





