Penulis : Ridwan al-Makassary, Dosen Departemen Ilmu Politik Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) dan Direktur Center for the Study of Muslim Politics and World Society (COMPOSE).
SEBUAH ironi dalam perang antara Israel-AS vs Iran sedang berlangsung. Ketika para jenderal di Washington dan Tel Aviv mendiskusikan tentang “serangan presisi” dan “target strategis” di televisi dan sosial media, namun praktik di lapangan yang terjadi adalah pemusnahan infrastruktur paling dasar, yang seharusnya dilindungi, seperti rumah sakit, sekolah, dan permukiman warga di Iran.
Angka-angka “derita perang” membuktikan hal tersebut. Pemerintah Iran mengungkapkan bahwa selama 15 hari perang antara Israel-AS vs Iran terdapat 42.914 fasilitas sipil yang rusak. Lebih dari 25 rumah sakit, dengan sembilan di antaranya tidak bisa berfungsi. Terdapat 36.469 unit rumah tempat tinggal yang hancur. Selain itu, korban jiwa warga sipil melampaui 1.255 orang, yang terdiri dari 223 perempuan, 206 pelajar dan guru meregang nyawa, dan juga 16 petugas kesehatan menjadi martir dalam tugas. Sebagai tambahan, lebih dari 12.000 orang mengalami luka-luka. Bulan Sabit Merah Iran melaporkan 13 kantor pusat dan cabang mereka, bersama sejumlah basis penyelamatan dan pertolongan, rusak parah akibat serangan. Tujuh pekerja penyelamat terluka, dan satu relawan gugur dalam tugas kemanusiaan.
Pertanyaan yang fundamental adalah apakah serangan terhadap rumah sakit, sekolah, dan perumahan ini juga disebut sebagai “serangan presisi” dan “target strategis”?
Pada situasi perang, satu prinsip hukum internasional yang tak boleh dilanggar adalah perlindungan terhadap warga sipil dan petugas kemanusiaan. Namun, apa yang terjadi di Iran menunjukkan garis merah itu telah dilanggar secara brutal.
Perkembangan mengerikan adalah infrastruktur paling vital bagi kehidupan yaitu air juga menjadi target penghancuran. Serangan terhadap fasilitas desalinasi di Pulau Qeshm menunjukkan bahwa air telah berubah menjadi alat tekanan geopolitik yang mematikan. Padahal, sebelum perang meletus, Iran sudah mengalami krisis air yang parah. Reservoir air yang memasok Teheran dengan populasi 10 juta jiwa hanya terisi 8-11 persen dari kapasitas. Pemerintah, bahkan, sudah merencanakan pemadaman air bergilir sebelum perang dimulai. Pada saat perang situasi tentu semakin memburuk.
Peran dari organisasi humanitarian internasional seperti nyala pelita di kegelapan. Di tengah “kegelapan perang”, organisasi kemanusiaan internasional hadir membawa lentera. Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah (IFRC) telah memberikan bantuan darurat senilai 40 juta franc Swiss (sekitar USD51,5 juta) guna mendukung operasi kemanusiaan di Iran. Dana ini akan membantu sekitar lima juta penduduk di 30 wilayah terdampak selama 16 bulan ke depan.
Lebih jauh, Bulan Sabit Merah Iran telah mengerahkan 529 cabang di 197 kota, dengan lebih dari 2.100 tim respons dan 6.500 staf serta relawan. Mereka bekerja siang malam secara sunyi mencari dan menyelamatkan, mengevakuasi medis, menyediakan tempat tinggal darurat, dan mendistribusikan kebutuhan pokok. Respons tim darurat yang mencapai lokasi kejadian dalam waktu kurang dari empat menit menunjukkan dedikasi mereka yang luar biasa.
Organisasi internasional seperti INTERSOS bersuara lantang. Dalam pernyataan resminya, mereka mengingatkan warga sipil membayar harga tertinggi dalam perang ini. Mereka menegaskan bahwa “Warga sipil bukanlah target”, sembari meminta semua pihak yang bertikai menghormati Hukum Humaniter Internasional.




