Kontrak Berjangka Saham AS Jeblok di Tengah Ancaman Trump Buka Kembali Selat Hormuz

metrotvnews.com
9 jam lalu
Cover Berita

New York: Kontrak berjangka indeks saham Amerika Serikat (AS) turun pada Minggu malam waktu setempat (Senin WIB), dengan Wall Street tetap lemah setelah kekhawatiran perang di Iran memicu kerugian selama empat minggu berturut-turut.

Mengutip Investing.com, Senin, 23 Maret 2026, kontrak berjangka S&P 500 turun 0,3 persen menjadi 6.542,25 poin. Kontrak berjangka Nasdaq 100 turun hampir 0,4 persen menjadi 24.008,0 poin, sementara kontrak berjangka Dow Jones turun 0,16 persen menjadi 45.821,0 poin.
  Baca juga: Nasdaq Merosot 2%, S&P Turun 4 Minggu Berturut-turut   Ancaman Trump buka kembali Selat Hormuz
Trump memberikan tenggat waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Kondisi ini membuat pasar menjadi waspada terhadap eskalasi konflik setelah Presiden AS Donald Trump mengeluarkan tenggat waktu 48 jam bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz. Jika tidak, AS akan 'menghancurkan' infrastruktur energi utama di negara tersebut.

Iran menanggapi dengan mengancam akan menyerang infrastruktur energi dan air yang penting di seluruh Timur Tengah, dan juga memperingatkan akan menutup selat tersebut sepenuhnya.

Selat Hormuz merupakan jalur pelayaran utama yang memasok sekitar 20 persen konsumsi minyak dan gas dunia. Iran telah menutup sebagian besar selat tersebut sejak awal agresi AS dan Israel terhadap negara itu pada akhir Februari. 

Walhasil, harga minyak dunia melonjak tajam, memicu kekhawatiran akan meningkatnya inflasi yang dipicu oleh energi yang pada gilirannya dapat membuat bank sentral global utama tetap bersikap hawkish dalam beberapa bulan mendatang.

Sejumlah bank sentral utama pekan lalu mengisyaratkan mereka siap mengerek suku bunga untuk mengimbangi lonjakan inflasi yang dipicu oleh kenaikan harga minyak global. Federal Reserve juga menawarkan pandangan yang agresif, tetapi tidak sampai mengisyaratkan kenaikan suku bunga.

Laporan pada Minggu malam menunjukkan sedikit penurunan ketegangan dalam konflik yang memasuki minggu keempat berturut-turut. 


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
  Wall Street boncos empat minggu berturut-turut
Indeks Wall Street mencatat kerugian selama empat minggu berturut-turut karena kekhawatiran atas dampak ekonomi jangka panjang dari perang berkepanjangan dengan Iran memicu pergerakan luas keluar dari aset-aset berisiko. 

Indeks S&P 500 tercatat merosot sebanyak 1,5 persen pada perdagangan Jumat (20/3), sementara Nasdaq Composite dan Dow Jones Industrial Average masing-masing turun dua persen dan satu persen. Ketiga indeks tersebut mengalami penurunan antara empat persen dan tujuh persen dalam 30 hari terakhir.

Di luar perang, data inflasi AS yang lebih kuat dari perkiraan juga membebani Wall Street, karena menambah kekhawatiran atas berkurangnya pemangkasan suku bunga oleh The Fed tahun ini. 


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arus Mudik Lancar, Kakorlantas Sebut Sinergisitas Semua Pihak
• 23 jam lalurctiplus.com
thumb
Iran Ancam Tutup Jalur Minyak Dunia, Siap Tebar Ranjau di Teluk Persia Jika Diserang AS-Israel
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
Pesan Prabowo ke Kepala BGN saat Idul Fitri, Tingkatkan Standar SPPG
• 4 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Pengacara soal Gus Yaqut Jadi Tahanan Rumah: Pertimbangan KPK, Kita Kooperatif
• 8 jam lalukumparan.com
thumb
Jasad Remaja Hanyut di Sungai Cileungsi Ditemukan Usai Pencarian 5 Jam
• 17 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.