KRI Prabu Siliwangi Akhirnya Tiba di Tanah Air, Langkah Besar Perkuat Pertahanan Maritim

kompas.id
2 jam lalu
Cover Berita

Setelah berlayar satu bulan lebih dari dermaga Base Navale Della Spezia, Italia, kapal perang terbaru TNI Angkatan Laut, KRI Prabu Siliwangi-321, akhirnya tiba di wilayah perairan Indonesia. Kehadirannya diyakini bakal signifikan untuk memperkuat postur pertahanan maritim nasional sekaligus memperkuat pertahanan negara.

KRI Prabu Siliwangi-321 tiba di Tanah Air pada Minggu (22/3/2026). Kapal yang berada di bawah komando Kolonel Laut (P) Kurniawan Koes Atmadja itu disambut di perairan Selat Sunda oleh KRI Bung Karno-369, kapal perang buatan dalam negeri.

Kapal buatan Italia jenis offshore patrol vessels (OPV) atau kapal patroli lepas pantai itu selanjutnya sandar di Dermaga Panjang, Lampung, di ujung selatan Pulau Sumatera.

”Kapal sandar untuk bekal ulang pelayaran dan persiapan acara penyambutan di Jakarta, tanggal 26 Maret 2026, yang nantinya akan memperkuat jajaran Komando Armada Republik Indonesia,” ujar Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut (Kadispenal) Laksamana Pertama Tunggul, Senin (23/3/2026).

Kapal ini sudah dilepas dari dermaga Base Navale Della Spezia, Italia, pada 11 Februari 2026. Untuk menuju ke Indonesia, kapal berlayar terlebih dahulu mengitari Benua Afrika. Kapal pun melakukan kunjungan pelabuhan di sejumlah negara, seperti Maroko (13 Februari 2026), Nigeria (24 Februari 2026), Afrika Selatan (4 Maret 2026), dan Mauritius (12 Maret 2026). Maka, tidak heran waktu pelayarannya mencapai sekitar 1,5 bulan.

Di setiap kunjungan, Kurniawan beserta sejumlah perwira bertemu pejabat militer setempat dalam rangka mempererat hubungan dan membuka peluang kerja sama militer yang lebih luas.

Mandi khatulistiwa

Selain itu, pelayaran KRI Prabu Siliwangi-321 juga diwarnai pelaksanaan tradisi mandi khatulistiwa. Tradisi ini digelar di tengah pelayaran dari Lagos, Nigeria menuju Cape Town, Afrika Selatan, 28 Februari lalu.

Dikutip dari siaran pers Dinas Penerangan TNI AL, tradisi ini untuk para prajurit yang pertama kalinya melintasi garis khatulistiwa. Melalui prosesi simbolis tersebut, para prajurit dikukuhkan sebagai pelaut sejati setelah resmi “menaklukkan” garis imajiner yang membelah bumi.

“Tradisi mandi khatulistiwa merupakan salah satu tradisi turun-temurun di TNI AL yang sarat makna dan menjadi bagian dari identitas serta kebanggaan prajurit Jalasena. Ritual di tengah Samudera Atlantik ini juga menjadi momentum penting untuk memperkuat jiwa korsa, menanamkan nilai-nilai kebaharian, serta membangun karakter prajurit yang tangguh dan profesional dalam menghadapi dinamika penugasan di laut,” demikian dikutip dari siaran pers.

Tradisi mandi khatulistiwa merupakan salah satu tradisi turun-temurun di TNI AL yang sarat makna dan menjadi bagian dari identitas serta kebanggaan prajurit Jalasena.

Uji alutsista

Sebelum berlayar, kapal yang namanya diambil dari sosok legendaris semasa Kerajaan Sunda itu, melaksanakan serangkaian uji kemampuan alat utama sistem persenjataan (alutsista) dan kesiapan tempur. Salah satunya, pada 27 Januari 2026, diuji penembakan perdana meriam 127 mm.

Penembakan meriam ini untuk memastikan kekuatan dan respons struktur kapal terhadap beban serta getaran akibat tembakan, sekaligus memverifikasi kesiapan sistem senjata dari aspek mekanis, elektrikal, dan keselamatan.

Lima hari sebelumnya, persisnya pada 22 Januari 2026, KRI Prabu Siliwangi juga mencoba penembakan pertama meriam Sovraponte 76 mm. Melalui penembakan ini, getaran, respons struktur, serta stabilitas platform senjata diamati secara menyeluruh guna menjamin keselamatan dan efektivitas operasional di masa mendatang.

Selain itu, sempat diuji pula peran sekoci di kapal guna menguji kesiapan sistem penurunan dan pengoperasian sekoci, sekaligus meningkatkan keterampilan awak kapal dalam mendukung keselamatan pelayaran dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat.

Baca JugaKRI Brawijaya-320 dan KRI Prabu Siliwangi-321, Mengulang Kebesaran Angkatan Laut Indonesia
Langkah besar

Kurniawan Koes Atmadja saat memulai perjalanan KRI Prabu Siliwangi dari Italia, mengatakan, kehadiran kapal tersebut di armada TNI AL menjadi langkah besar dalam penguatan postur pertahanan maritim nasional. “KRI Prabu Siliwangi-321 hadir dengan kesiapan personel yang tangguh dan sistem persenjataan yang telah melalui serangkaian pengujian ketat,” tambahnya.

Kehadiran kapal perang terbaru ini selaras pula dengan pernyataan Kepala Staf Angkatan Laut (Kasal) Laksamana Muhammad Ali yang kerap menekankan bahwa modernisasi dan penambahan alutsista menjadi salah satu prioritas TNI AL dalam menghadapi berbagai tantangan guna menjaga kedaulatan di perairan Indonesia.

”Kita semakin tegas, arahan dari Bapak Presiden, kita harus mencegah penyelundupan-penyelundupan yang dapat membocorkan dan memberikan kerugian negara,” ujar Ali dalam Rapat Pimpinan TNI Angkatan Laut (AL) di Markas Besar TNI AL Cilangkap, Jakarta, Rabu (11/2/2026).

Baca JugaKRI Prabu Siliwangi dan KRI Canopus Tiba Pertengahan 2026

KRI Prabu Siliwangi merupakan satu dari dua kapal berjenis offshore patrol vessels (OPV) atau kapal patroli lepas pantai yang dibeli Pemerintah RI melalui kontrak senilai 1,18 miliar euro (sekitar Rp 20 triliun) yang ditandatangani dengan perusahaan galangan kapal di Italia, Fincantieri, pada Maret 2024. Satu kapal lainnya adalah KRI Brawijaya-320. Berbeda dengan KRI Prabu Siliwangi, kapal tersebut sudah lebih dulu tiba di Tanah Air pada 8 September 2025.

Untuk mempercepat pengiriman ke Indonesia, Fincantieri mengambil dua unit kapal yang sudah selesai dibangun untuk Angkatan Laut Italia, yakni unit kelima dan keenam. Kapal tersebut diluncurkan November 2022 dan diberi nama Marcantonio Colonna dan Ruggiero di Lauria.

Kapal ini memiliki panjang 143 meter, lebar 16,5 meter, draft 5,2 meter, kecepatan maksimum 32 knot yang ditenagai oleh kombinasi mesin diesel, listrik, dan gas turbin. Kapal tersebut dipersenjatai dengan SAM: 16 VL Sistem, SSM: 8 Teseo Mk-2E, meriam 127 mm, meriam 76 mm, dan torpedo. Kapal dirancang untuk patroli lepas pantai dan mengemban berbagai tugas pertempuran (multipurpose combat ship), antara lain pengawasan perbatasan, keamanan maritim, anti-penyelundupan, pertempuran di garis depan, dan bantuan bencana.

Muhammad Ali sebelumnya sempat menyampaikan, KRI Brawijaya-320 bakal ditempatkan di wilayah kerja Komando Armada (Koarmada) II. Namun, wilayah operasinya bisa sampai ke wilayah timur Indonesia, seperti laut Papua yang merupakan wilayah Koarmada III.

Baca JugaKapal Induk Giuseppe Garibaldi Dihibahkan, Apa yang Harus Dibiayai Indonesia?

Koarmada II membawahi wilayah laut Indonesia bagian tengah dengan markas di Surabaya, Jawa Timur. Koarmada II membawahi beberapa Pangkalan Utama TNI AL (Lantamal), seperti Lantamal V (Surabaya), Lantamal VI (Makassar), Lantamal VII (Kupang), Lantamal VIII (Manado), dan Lantamal XIII (Tarakan).

Adapun KRI Prabu Siliwangi-321 akan beroperasi di wilayah Koarmada I. Wilayah tanggung jawab Komando Armada I (Koarmada I) mencakup sebagian besar wilayah laut Indonesia bagian barat, termasuk Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI) I, Selat Malaka, serta Laut China Selatan. Koarmada I berlokasi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Veda Ega Pembalap Indonesia Pertama di Podium Moto3
• 5 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Silaturahmi Idul Fitri, Kardinal Suharyo Kunjungi Menteri Agama Nasaruddin Umar
• 21 jam lalukompas.com
thumb
6 Bintang Real Madrid akan Dibuang usai Musim mengecewakan, Era Baru Los Blancos Dimulai?
• 23 jam lalutvonenews.com
thumb
Selebrasi Veda Ega Pratama di Podium Moto3 Brasil 2026 Berbeda, Tanpa Minum dan Sempot Sampanye
• 6 jam laluharianfajar
thumb
Penggunaan Senjata Mainan di Wajo Meresahkan, Tembaki Kaca Mobil Warga hingga Retak
• 22 jam laluharianfajar
Berhasil disimpan.