Kasus Meningitis di Inggris Turun Jadi 20, 2 Orang Meninggal

mediaindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita

OTORITAS kesehatan Inggris, UK Health Security Agency (UKHSA), masih terus menyelidiki wabah penyakit meningokokus invasif di Kent, Inggris. Hingga 21 Maret 2026 pukul 12.30 waktu setempat, jumlah kasus terkonfirmasi laboratorium tercatat 20 kasus, sedangkan 9 laporan lain masih dalam penyelidikan. Dengan demikian, total kasus yang diberitahukan mencapai 29 kasus.

Dilansir dari The Guardian, jumlah kasus terkonfirmasi itu turun tiga kasus dibandingkan pembaruan sehari sebelumnya. UKHSA menjelaskan, beberapa kasus yang semula diklasifikasikan sebagai terkonfirmasi kemudian direklasifikasi setelah hasil pemeriksaan laboratorium lanjutan dan investigasi klinis keluar. Lembaga itu juga memperkirakan beberapa kasus probable lain masih bisa diturunkan statusnya dalam beberapa hari ke depan seiring selesainya penilaian laboratorium lebih lanjut.

Meski demikian, wabah ini telah menelan korban jiwa. Hingga kini, dua orang diketahui meninggal dunia, tanpa ada tambahan kematian baru sejak pembaruan terakhir.

Baca juga : Selat Hormuz Jadi Fokus, Tim Gabungan Inggris-AS Susun Strategi

UKHSA menyampaikan apresiasi kepada berbagai mitra, termasuk NHS dan University of Kent, atas respons cepat mereka dalam memastikan antibiotik serta vaksin diberikan kepada kelompok yang membutuhkan. Mahasiswa University of Kent yang memenuhi syarat tetapi telah kembali ke daerah asal kini dapat memperoleh vaksin MenB dan antibiotik pencegahan melalui praktik dokter umum atau GP setempat.

Menurut UKHSA, dalam menangani wabah saat ini, antibiotik pencegahan tetap menjadi langkah paling penting dalam jangka pendek, sementara vaksinasi MenB memberikan perlindungan jangka lebih panjang bagi kelompok yang terdampak.

Konsultan penyakit infeksi UKHSA, Dr Sherine Thomas, mengatakan pihaknya tetap waspada terhadap kemungkinan munculnya kasus baru dan terus bekerja sama dengan NHS England serta pemerintah daerah di seluruh Inggris agar setiap kasus baru bisa ditangani secepat mungkin.

Baca juga : Inggris dan Sekutu Turun Gunung 'Amankan' Selat Hormuz

Ia menambahkan, tingginya jumlah anak muda yang datang untuk menerima antibiotik dan vaksin merupakan perkembangan yang melegakan. Namun, ia menegaskan bahwa masyarakat tetap harus memahami gejala penyakit meningokokus invasif dan segera mencari pertolongan medis bila mengalami gejala atau melihat orang lain mengalaminya.

Penyakit meningokokus, yang dapat menyebabkan meningitis dan sepsis, tergolong jarang tetapi serius. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri meningokokus yang pada kasus tertentu dapat memicu radang selaput otak maupun keracunan darah. Gejalanya dapat muncul mendadak, sehingga diagnosis dini dan penanganan antibiotik sangat penting.

Gejala awal yang perlu diwaspadai antara lain ruam yang tidak memudar saat ditekan dengan gelas, demam tinggi mendadak, sakit kepala berat yang makin memburuk, leher kaku, muntah dan diare, nyeri sendi dan otot, sensitif terhadap cahaya terang, tangan dan kaki sangat dingin, kejang, kebingungan, serta kantuk berat atau sulit dibangunkan.

UKHSA menyoroti kalangan remaja dan mahasiswa baru sebagai kelompok yang lebih berisiko terkena meningitis karena mereka banyak berinteraksi dengan mahasiswa lain, termasuk pembawa bakteri yang tidak menunjukkan gejala di hidung dan tenggorokan.

Dalam penjelasannya, UKHSA menyebut ada banyak strain infeksi meningokokus. Vaksin MenACWY yang rutin diberikan kepada remaja di Inggris memang melindungi dari meningokokus tipe A, C, W, dan Y, tetapi tidak melindungi terhadap MenB. Karena itu, kewaspadaan terhadap gejala tetap menjadi kunci utama.

Sebelumnya, UKHSA mengungkapkan hasil analisis genetik awal menunjukkan strain yang beredar dalam wabah ini termasuk kelompok meningokokus B dan vaksin Bexsero yang sedang diberikan di Kent diperkirakan dapat memberikan perlindungan terhadap strain tersebut.

Sejak wabah ini diumumkan pada pertengahan Maret, angka kasus sempat mengalami kenaikan. Pada 16 Maret 2026, UKHSA menerima pemberitahuan 13 kasus sejak 13 Maret. Pada 17 Maret, jumlah total kasus yang diberitahukan menjadi 15, lalu naik menjadi 20 pada 18 Maret, 27 pada 19 Maret, 29 pada 20 Maret, dan 34 pada 21 Maret, sebelum kemudian direvisi menjadi 29 kasus pada pembaruan 22 Maret 2026.

Wabah ini juga dikaitkan dengan kunjungan sejumlah kasus ke Club Chemistry di Canterbury pada 5 hingga 7 Maret 2026, sebelum mereka jatuh sakit. Karena itu, UKHSA sebelumnya meminta siapa pun yang mengunjungi klub tersebut pada tanggal itu untuk segera mendapatkan antibiotik pencegahan. Program vaksinasi terarah juga dijalankan, terutama bagi mahasiswa yang tinggal di asrama Canterbury Campus, University of Kent. (Z-2)


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Imigrasi Palu deportasi WN Jerman lakukan penelitian tanpa izin resmi
• 7 jam laluantaranews.com
thumb
Libur Lebaran, Pantai Pangandaran Ramai Diserbu Wisatawan
• 22 jam lalurctiplus.com
thumb
Total Kendaraan Tinggalkan Jabotabek pada 11-21 Maret 2026 Capai 2 Juta
• 8 jam laluidxchannel.com
thumb
Pemerintah Pastikan Harga Pangan Stabil Meski Ada Perang di Iran
• 12 jam lalukumparan.com
thumb
Link Live Streaming Liga Spanyol Barcelona vs Rayo Vallecano, Kick Off 20.00 WIB
• 23 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.