Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA) tengah berkonsultasi dengan pemerintah di Asia dan Eropa terkait kemungkinan pelepasan tambahan cadangan minyak jika diperlukan imbas perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
“Jika memang diperlukan, tentu kami akan melakukannya. Kami akan melihat kondisi, menganalisis dan menilai pasar, serta berdiskusi dengan negara-negara anggota,” ujar Direktur Eksekutif IEA, Fatih Birol, di Canberra, pada Senin (23/3) saat memulai rangkaian kunjungan globalnya, dikutip dari Reuters.
Sebelumnya, negara-negara anggota IEA pada 11 Maret telah menyepakati untuk melepas cadangan minyak strategis dalam jumlah rekor, yakni sebanyak 400 juta barel, guna meredam lonjakan harga minyak dunia. Pelepasan itu setara dengan sekitar 20 persen dari total cadangan.
Namun, Birol menegaskan tidak ada level harga minyak tertentu yang menjadi pemicu otomatis untuk pelepasan tambahan cadangan tersebut.
“Pelepasan cadangan dapat membantu menenangkan pasar, tetapi ini bukan solusi. Langkah ini hanya akan membantu mengurangi tekanan terhadap perekonomian,” ucap Birol.
Ia pun menilai perang di Iran saat ini tergolong sangat serius, bahkan dampaknya disebut melampaui gabungan krisis minyak pada era 1970-an serta gejolak pasokan gas akibat perang Rusia-Ukraina. Katanya, perang di Iran telah menghilangkan pasokan minyak global sebesar 11 juta barel per hari, lebih besar dari dua krisis sebelumnya.
“Solusi paling penting untuk masalah ini adalah membuka Selat Hormuz,” lanjut Birol.
Ia juga menyatakan, tingkat keparahan krisis ini belum sepenuhnya dipahami oleh para pengambil kebijakan di seluruh dunia, sehingga ia memutuskan untuk mulai berbicara secara terbuka usai perang yang masih berlangsung hingga tiga pekan.
Birol menambahkan, pelepasan cadangan minyak hanyalah salah satu dari berbagai langkah yang dapat diambil IEA. Langkah lain seperti pembatasan kecepatan kendaraan atau penerapan kerja dari rumah atau work from home terbukti mampu menekan konsumsi energi, seperti yang pernah diterapkan di Eropa pada 2022. Namun, setiap negara tetap perlu menentukan kebijakan penghematan energi yang paling sesuai.
Kemudian, ia menyinggung kondisi Australia yang masih memiliki cadangan bahan bakar cair di bawah standar IEA. Meski demikian, pemerintah saat ini dinilai telah melakukan berbagai upaya perbaikan, dan cadangan solar selama 30 hari disebut sebagai angka yang cukup solid.
Adapun Birol memulai tur dunianya dari Canberra, mengingat kawasan Asia Pasifik berada di garis depan krisis energi saat ini. Hal ini disebabkan tingginya ketergantungan kawasan terhadap pasokan minyak serta komoditas penting lain seperti pupuk dan helium yang melintasi Selat Hormuz.
Setelah bertemu dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese, Birol dijadwalkan melanjutkan kunjungan ke Jepang sebelum menghadiri pertemuan negara-negara Group of Seven (G7).





