EtIndonesia. Kuba pada Sabtu (21 Maret) kembali mengalami pemadaman listrik nasional. Ini adalah pemadaman besar kedua dalam waktu kurang dari satu minggu. Peristiwa ini terjadi ketika konvoi bantuan internasional mulai berdatangan ke Havana, membawa pasokan medis, makanan, air, dan panel surya yang sangat dibutuhkan.
Menurut laporan AFP, bahkan sebelum malam tiba, sekitar pukul 18.30 waktu setempat, banyak bangunan di Havana sudah mulai kehilangan listrik—hanya lima hari setelah pemadaman nasional sebelumnya.
Kementerian Energi Kuba menyatakan di platform X bahwa sistem kelistrikan nasional mengalami “pemutusan total” dan saat ini sedang dilakukan perbaikan darurat untuk memulihkan pasokan listrik.
Pembangkit listrik Kuba yang sudah tua berada dalam kondisi rusak parah. Karena kekurangan bahan bakar untuk pembangkit, pemadaman listrik hingga 20 jam per hari telah menjadi hal yang biasa di beberapa wilayah.
Sejak Amerika Serikat menangkap sekutu utama Kuba, yakni Presiden Venezuela saat itu, Nicolás Maduro, pada 3 Januari, Kuba praktis tidak lagi menerima pasokan minyak sejak 9 Januari. Hal ini tidak hanya menghantam sektor energi, tetapi juga memaksa maskapai penerbangan mengurangi jadwal penerbangan, sehingga berdampak besar pada industri pariwisata yang sangat penting bagi negara berpenduduk 9,6 juta jiwa tersebut.
Di tengah tekanan ganda berupa pemadaman listrik besar-besaran dan kekurangan barang kebutuhan, kemarahan publik di Kuba terus meningkat. Pada akhir pekan lalu, protes terjadi di beberapa daerah, bahkan ada demonstran yang merusak kantor tingkat provinsi Partai Komunis sebagai bentuk pelampiasan ketidakpuasan. (hui)





