Operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang disebut “Epic Pury” telah memasuki minggu keempat. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Amerika Serikat sudah hampir mencapai tujuannya dan dapat mengakhiri perang kapan saja. Mantan pejabat tinggi AS sekaligus analis Timur Tengah dari lembaga think tank “Center for Security Policy”, David Wurmser, memberikan pandangannya mengenai situasi saat ini.
EtIndonesia. Analis urusan Timur Tengah AS, David Wurmser, menilai bahwa perang antara AS-Israel melawan Iran berjalan lebih lancar dari yang diperkirakan, dan Iran telah kehilangan kemampuan untuk melakukan serangan balasan. Namun demikian, menurutnya sekarang belum saat yang tepat untuk mengakhiri perang.
“Masalahnya adalah masih ada sekitar 460 kilogram uranium yang diperkaya tinggi. Mereka juga pasti masih memiliki ratusan rudal. Meskipun peluncurnya telah dihancurkan sehingga rudal tidak bisa diluncurkan, rudalnya sendiri masih ada. Jadi menurut saya, perlu untuk menghilangkan persenjataan seperti ini dari Iran,” ujarnya.
Wurmser juga menyebut bahwa jalur pelayaran di Selat Hormuz mulai kembali pulih secara bertahap. Ia menilai respons dingin Eropa terhadap usulan Presiden Trump untuk melakukan pengawalan di selat tersebut mencerminkan melemahnya kemampuan pertahanan diri.
“Saya rasa Eropa telah kehilangan kemauan untuk berperang. Mereka tahu bahwa jika ikut terlibat, aset mereka bisa menjadi sasaran serangan,” ujarnya.
“Saya pikir orang-orang Eropa takut terlibat dalam perang, karena mereka sudah tidak lagi memiliki militer yang mampu mempertahankan diri secara efektif.”
Terkait keputusan pemerintah Inggris pada Jumat (20 Maret) yang menyetujui penggunaan pangkalan militer Inggris oleh Amerika Serikat, Wurmser menilai Presiden Trump merasa kecewa. Sebagai sekutu terdekat AS selama hampir 200 tahun, Inggris dianggap tidak segera memberikan dukungan pada saat kritis.
“Intinya, kami tidak meminta mereka ikut berperang bersama kami, kami hanya ingin menggunakan pangkalan yang berjarak beberapa ribu mil dari Iran,” katanya.
“Akibatnya, kami terpaksa menempatkan sebagian pesawat di tempat seperti Israel yang rentan terhadap serangan rudal, atau di lokasi yang lebih jauh. Ini membuat waktu tempuh ke Iran meningkat hingga lima kali lipat, yang berarti hanya dapat menyelesaikan seperlima dari misi semula, sehingga perang menjadi lebih lama,” tambahnya.
Wurmser juga menilai bahwa rezim Iran telah mengalami keruntuhan secara menyeluruh dan sulit membentuk pusat kepemimpinan yang efektif.
“Selanjutnya, orang akan melihat munculnya struktur yang tidak jelas—baik dari anggota biasa Garda Revolusi, pejabat pemerintah, maupun kelompok oposisi—tidak ada yang benar-benar memegang pusat kekuasaan. Maka pertanyaannya adalah, apakah masih ada kepemimpinan yang efektif? Hal ini akan melemahkan semangat mereka yang ingin berperang demi rezim, sekaligus mendorong mereka yang ingin melawan rezim,” jelasnya.
Reporter NTD Television, Tang Li dan Liu Fei, melaporkan.





