Bisnis.com, JAKARTA — Gejolak di Timur Tengah bukan sekadar ancaman eksternal bagi dunia usaha Indonesia, tetapi juga menjadi momentum introspeksi.
Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Anindya Bakrie menilai kondisi global yang tidak menentu justru harus dimanfaatkan pelaku usaha untuk berbenah, terutama dalam menjaga ketahanan keuangan dan efisiensi operasional.
Anindya menegaskan bahwa ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah berpotensi menekan sektor usaha, terutama melalui kenaikan harga energi yang berdampak langsung pada biaya produksi.
Menurutnya, kondisi ini menjadi peringatan bagi pelaku usaha untuk memperkuat fundamental bisnis, khususnya dalam menjaga arus kas. Dia menyebutkan bahwa kenaikan harga energi sebagai salah satu input utama industri akan menuntut perusahaan lebih disiplin dalam pengelolaan keuangan.
“Suatu gonjang-ganjing besar di Timur Tengah harus menjadi kesempatan untuk kita reformasi di dalam perusahaan masing-masing. Dimulai dari mengencangkan tali ikat pinggang karena bagaimanapun juga cash flow mesti dijaga,” ujar Anindya ketika ditemui di Jakarta, dikutip Senin, (23/3/2026).
Dia menambahkan, tekanan biaya akibat energi dapat memengaruhi keberlangsungan industri. Oleh karena itu, menjaga likuiditas menjadi kunci agar perusahaan tetap mampu bertahan di tengah fluktuasi global.
Baca Juga
- Kadin Minta Pelaku Usaha Waspadai Dampak Konflik Timur Tengah
- Kadin Prediksi Perputaran Uang Lebaran 2026 Tembus Rp148 Triliun
- Ketum Kadin Datang ke Istana, Bahas Dampak Konflik Timur Tengah Dengan Prabowo
Selain langkah jangka pendek, Kadin juga mendorong pelaku usaha untuk mulai berpikir lebih strategis dan transformatif. Anindya menilai perusahaan perlu masuk ke sektor yang memiliki nilai tambah tinggi agar tidak mudah terdampak gejolak rantai pasok global.
“Yang paling penting ialah menjaga cash flow perusahaan sehingga kalau ada kenaikan sementara tetap bisa survive,” katanya.
Dalam jangka pendek, Kadin bersama asosiasi dan pelaku usaha daerah disebut akan fokus pada efisiensi sambil terus memantau perkembangan situasi global.
Pada saat yang sama, koordinasi dengan pemerintah juga dilakukan untuk mencari opsi kebijakan yang dapat meredam dampak eksternal tersebut.





