JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana Tempat Pemakaman Umum (TPU) Semper, Jakarta Utara, mulai lengang pada H+3 Lebaran 2026 setelah sebelumnya dipadati peziarah pada hari H Idul Fitri 1447 Hijriah.
Pengamatan Kompas.com pada Senin (23/3/2026) siang, penjual bunga dan air mawar sudah terlihat berjejeran di Jalan Madya Kebantenan arah masuk ke TPU.
Saat masuk ke dalam area pemakaman, masih terdapat beberapa peziarah. Kendaraan mobil dan motor terparkir di jalan area pemakaman.
Baca juga: TPU Muara Benda Depok Longsor: 16 Makam Terdampak, 3 Jenazah Masih Dicari
Ada pula peziarah yang terlihat mulai meninggalkan area pemakaman.
Terdapat beberapa warga yang sigap menaruh jok motor peziarah menggunakan kardus.
Di dalam area pemakaman, terdapat juga para penjual bunga untuk para peziarah. Terdapat juga para pedagang makanan seperti bakso di area pemakaman.
Di beberapa titik area pemakaman, terlihat sejumlah sampah plastik tergenang diselokan. Selain itu, masih ada beberapa blad yang terendam genangan air akibat hujan.
Baca juga: Tradisi Ziarah Jelang Lebaran Jadi Sumber Rezeki Pedagang Bunga di TPU Karet
Petugas pengamanan dalam (pamdal) TPU Semper, Mamat mengatakan, puncak kunjungan peziarah di TPU Semper terjadi tepat pada Hari Raya, terutama setelah pelaksanaan shalat Id.
“Ramenya itu pas hari Lebarannya. Selesai salat Id itu sudah banyak yang berdatangan,” kata Mamat saat ditemui Kompas.com pada Senin.
Menurutnya, kepadatan berlangsung hingga sore hari dan baru berangsur berkurang menjelang waktu Maghrib.
Memasuki H+3 Lebaran, jumlah peziarah disebut sudah jauh menurun dibanding hari sebelumnya.
“Kalau ini sudah mulai sepi sebenarnya. Pagi doang ramai, sudah kesiangan ini sudah sepi," ungkapnya.
Baca juga: Penampakan Jalan Ambles di TPU Tanah Kusir, Becek dan Penuh Sampah
Ia menjelaskan tingginya kepadatan pada hari H tidak terlepas dari besarnya jumlah makam di TPU Semper yang mencapai ribuan, sehingga setiap makam dapat didatangi banyak anggota keluarga sekaligus.
"Di sini ada 264 blad, satu blad aja bisa 400 makam sampai 600 makam. Satu orang bisa ahli warisnya tiga, empat, bahkan sampai 10 orang," jelas Mamat.
Ia mengatakan, antrean kendaraan peziarah memang sempat terjadi. Namun, laju kendaraan tetap masih bisa bergerak karena sistem pintu masuk dan keluar dipisahkan.
"Antrean aja. Bukannya macet tapi antrean karena saking banyaknya orang," tambah Mamat.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang




