Siapa sangka, di balik keindahan Bahama, ada fakta mengejutkan yang baru saja terungkap: Ikan hiu di sana positif mengonsumsi narkoba dan obat-obatan manusia.
Hiu-hiu di lepas pantai Bahama rupanya "pesta" kokain, kafein, hingga obat pereda nyeri.
Fakta ini diungkap oleh tim peneliti internasional dalam studi terbaru yang dipublikasikan di jurnal Environmental Pollution untuk edisi Mei 2026. Temuan ini menjadi bukti nyata betapa parahnya dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem laut.
"Kita sedang membicarakan sebuah pulau yang sangat terpencil di Bahama," kata Natascha Wosnick, ahli biologi dari Universitas Federal Paraná di Brasil yang memimpin penelitian ini, seperti dikutip dari ScienceNews, Jumat (20/3).
Wosnick dan timnya mengambil sampel darah dari 85 ekor hiu di sekitar Pulau Eleuthera, Bahama. Mereka menguji keberadaan belasan jenis obat legal maupun ilegal. Hasilnya? Sebanyak 28 hiu dari tiga spesies, yakni Hiu Karang Karibia, Hiu Perawat (Nurse Shark), dan Hiu Lemon, terdeteksi memiliki kandungan obat di dalam darahnya.
Bahkan, beberapa hiu positif mengandung lebih dari satu jenis obat sekaligus. Kafein jadi zat yang paling umum ditemukan, disusul oleh asetaminofen dan diklofenak (bahan aktif dalam obat pereda nyeri seperti Tylenol dan Voltaren).
Temuan yang paling bikin geleng-geleng kepala adalah seekor bayi hiu lemon. Hiu kecil yang ditemukan di sebuah aliran sungai pembibitan (nursery creek) itu dinyatakan positif kokain.
Karena zat tersebut ditemukan di dalam darah (bukan di jaringan otot), ini menandakan bayi hiu itu baru saja terpapar kokain dalam waktu dekat.
Dari mana hiu bisa dapat kokain? Wosnick menduga bayi hiu itu tak sengaja menelan atau menggigit bungkusan berisi residu kokain yang dibuang ke laut. Pasalnya, Wosnick sendiri pernah melihat bungkusan semacam itu di sekitar perairan tersebut.
"Hiu itu suka menggigit barang untuk menyelidikinya, dan ujung-ujungnya malah terekspos zat tersebut," jelasnya.
Ulah Turis Kencing di Laut?Lalu, bagaimana dengan kafein dan obat pereda nyeri yang membanjiri darah hiu lainnya? Jawabannya ada pada aktivitas pariwisata.
Sebagian besar hiu yang diteliti ditangkap di sekitar area bekas budidaya ikan yang kini populer jadi spot diving (menyelam). Meski arus laut bisa saja membawa sisa limbah dari pulau, Wosnick menyebut para penyelam adalah tersangka utamanya.
"Ini sebagian besar karena orang-orang pergi ke sana, kencing di air, dan membuang limbah mereka ke laut," ungkap Wosnick blak-blakan.
Kabar buruknya, polusi obat-obatan ini mulai mengubah fisiologis para predator laut tersebut. Tim peneliti menemukan adanya perubahan pada penanda metabolisme tubuh hiu yang darahnya tercemar, seperti lonjakan kadar laktat, urea, dan trigliserida.
Meski belum dipastikan apakah perubahan ini fatal atau mematikan, hal ini jelas berdampak pada perilaku mereka. Wosnick memberi contoh, paparan kafein bisa membuat ikan menjadi lebih berenergi dan fokus, persis seperti efek ngopi pada manusia.
Tracy Fanara, ahli oseanografi dari University of Florida yang tak terlibat dalam studi ini, ikut buka suara. Menurutnya, temuan ini adalah alarm peringatan bagi kita semua.
"Apa yang membuat studi ini penting bukan cuma soal penemuan obat-obatan dan kokain pada hiu pesisir, tapi juga perubahan sistem metabolisme tubuh mereka. Ini pengingat bahwa infrastruktur pesisir, pariwisata, dan jaring makanan laut itu saling terhubung erat," kata Fanara.
Polusi bahan kimia seperti obat-obatan dan narkoba ini sering kali luput dari perhatian karena orang lebih fokus pada isu tumpahan minyak atau sampah plastik. Padahal, diam-diam polusi tak kasat mata ini sudah meracuni surga bawah laut kita.





