Jakarta, VIVA - Harga emas dunia merost tajam pada perdagangan Senin pagi, 23 Maret 2026. Koreksi kali ini bahkan menandai kinerja mingguan terburuk sejak tahun 1983 serta menghapus keuntungan sepanjang tahun 2026 saat konflik di Timur Tengah belum kunung berakhir.
Emas di pasar spot diperdagangan di level US$4.288 atau sekitar Rp72,67 juta per ons (estimasi kurs Rp 16.950 per dolar AS) atau anjlok lebih dari 10 persen dalam sepekan. Sementara itu, harga emas berjangka tergerus 7 persen.
"Ini adalah penurunan harga yang sangat brutal,” kata Kepala Strategi Logam Mulia di JPMorgan, Greg Shearer, dikutip dari Yahoo Finance, Senin, 23 Maret 2026.
Shearer mengatakan, emas berbalik arah dari tren penguatan yang solid di awal tahun menjadi aset yang ditinggalkan investor di tengah gejolak konflik Timur Tengah. Penurunan dipicu aksi jual emas dan logam mulia lainnya saat harga minyak global melesat akibat konflik Timur Tengah.
"Emas terjebak dalam risiko penularan akibat aksi jual besar-besaran," lanjutnya.
- www.freepik.com
Kondisi ini mendorong ekspektasi inflasi meningkat dan memunculkan kekhawatiran bahwa bank sentral global, termasuk Federal Reserve (The Fed) tidak akan memangkas suku bunga dalam waktu dekat. Bahkan di Eropa, sejumlah pejabat mulai membuka kemungkinan menaikkan suku bunga acuan.
Di sisi lain, penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta kenaikan imbal hasil obligasi semakin menekan harga emas. Sebagai aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding), emas menjadi kurang menarik dibandingkan instrumen lain yang menawarkan return lebih tinggi.
Sejak pecahnya konflik, harga emas tercatat sudah turun lebih dari 14 persen. Hal ini karena para pelaku pasar menjadikan aset logam mulia sebagai sumber likuiditas.
"Dalam jangka pendek, penguatan dolar AS dan likuiditas emas yang tinggi membuatnya menjadi sumber dana saat terjadi tekanan pasar,” ungkap Commodities Strategist ING, Ewa Manthey.
Padahal, sebelumnya emas sempat mencatat lonjakan signifikan dengan kenaikan hingga 65 persen sepanjang 2025. Kini, pelaku pasar mulai khawatir terhadap perubahan dukungan struktural dari bank sentral, terutama di tengah keterbatasan likuiditas global.
Shearer menuturkan, kekhawatiran di kalangan investor semakin besar bahwa kombinasi tekanan ekonomi, energi, dan nilai tukar dapat mengubah arah kebijakan pembelian emas oleh bank sentral. Meski demikian, analis JPMorgan masih melihat prospek jangka panjang emas tetap positif.





