Konflik Timur Tengah Rusak Puluhan Aset Energi, IEA Peringatkan Krisis Global Berkepanjangan

pantau.com
11 jam lalu
Cover Berita

Pantau - Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) melaporkan lebih dari 40 aset energi di sembilan negara Timur Tengah mengalami kerusakan parah akibat konflik yang telah berlangsung lebih dari tiga minggu dan mengganggu rantai pasokan energi global.

Kerusakan Aset dan Gangguan Pasokan Energi

Kerusakan tersebut mencakup ladang minyak, kilang, dan jaringan pipa yang menjadi komponen vital dalam produksi serta distribusi energi dunia.

Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol menyatakan dampak kerusakan ini berpotensi berlangsung lama bahkan setelah konflik berakhir.

Ia mengatakan, "Akan membutuhkan waktu bagi ladang minyak, kilang, dan pipa untuk kembali beroperasi."

Gangguan besar juga terjadi pada jalur distribusi utama, termasuk hampir terhentinya pengiriman energi melalui Selat Hormuz sejak awal Maret.

Sekitar 20 juta barel minyak per hari yang biasanya melewati jalur tersebut terdampak, sehingga memicu kenaikan biaya pengiriman dan lonjakan harga minyak dunia.

Birol membandingkan dampak krisis ini dengan gabungan dua krisis energi besar sebelumnya.

Ia mengatakan, "Tidak hanya minyak dan gas, tetapi beberapa arteri vital ekonomi global… perdagangan mereka semua terganggu."

Dampak Global dan Upaya Penanganan

Dampak gangguan ini sangat dirasakan negara-negara Asia yang memiliki ketergantungan tinggi pada pasokan energi dari kawasan Timur Tengah.

IEA berencana melepaskan 400 juta barel minyak dari cadangan darurat guna menstabilkan pasokan global.

Langkah tambahan berupa pelepasan cadangan lanjutan akan dilakukan jika gangguan terus berlanjut.

Birol juga menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menghadapi krisis energi ini.

Ia mengatakan, "Setiap negara pertama-tama mempertimbangkan kepentingan domestiknya sendiri, tetapi… pembatasan ekspor yang serius tanpa alasan yang jelas mungkin bukan sesuatu yang mendapat nilai plus."

Pembukaan kembali Selat Hormuz dinilai menjadi kunci utama dalam memulihkan aliran energi global.

Konflik yang dipicu serangan sejak 28 Februari tersebut dilaporkan menewaskan sedikitnya 1.300 orang termasuk pemimpin tertinggi Iran saat itu Ali Khamenei.

Iran kemudian membalas melalui serangan drone dan rudal yang menargetkan Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menampung aset militer Amerika Serikat.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Pria Loncat dari Jembatan Lima Belerang Batam ke Laut, Tim SAR Lakukan Pencarian
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Tol Cipali Arah Jakarta Padat Malam Ini, One Way dari Brebes-Cikampek Diterapkan
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
Menhub Dudy Purwagandhi Tegaskan Pengusaha Logistik Patuhi Aturan Pembatasan Demi Kelancaran Arus Balik
• 1 jam lalutvonenews.com
thumb
De Zerbi dikabarkan terbuka latih Tottenham asalkan lolos degradasi
• 2 jam laluantaranews.com
thumb
Sul Kyung Gu, Jeon Jong Seo, dan Seo Eun Soo Siap Tampil di Film Okultisme Baru
• 12 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.