Target Juara Musim Depan, Pelatih Persebaya Bernardo Tavares Dikabarkan Boyong Skuad Kampiun PSM

harianfajar
4 jam lalu
Cover Berita

FAJAR, SURABAYA –Ambisi tidak pernah datang dalam bentuk setengah-setengah di Persebaya Surabaya. Klub yang lekat dengan identitas “Bajul Ijo” itu tampaknya tengah menyusun ulang arah, bukan sekadar untuk bertahan, tetapi untuk menyerang kembali peta persaingan sepak bola nasional.

Musim baru bahkan belum benar-benar dimulai, tetapi denyut pergerakan di belakang layar sudah terasa. Nama Bernardo Tavares menjadi pusat dari segala spekulasi. Pelatih asal Portugal itu bukan sosok asing dalam membangun tim kompetitif dari fondasi yang terukur. Ia pernah melakukannya bersama PSM Makassar, dan kini bayang-bayang keberhasilan itu seolah ingin direplikasi di Surabaya.

Rumor yang beredar bukan sekadar isu transfer biasa. Ia membawa narasi yang lebih besar: kemungkinan lahirnya “mini PSM” di tubuh Persebaya.

Dua nama mencuat ke permukaan. Yang pertama adalah Ramadhan Sananta, striker muda yang dalam beberapa tahun terakhir menjelma menjadi salah satu wajah masa depan lini depan Timnas Indonesia. Saat ini ia merumput bersama DPMM FC di Liga Super Malaysia, menjalani fase penting dalam kariernya sebagai perantau.

Bagi Persebaya, Sananta bukan sekadar target. Ia adalah jawaban atas persoalan paling mendasar: krisis gol.

Paruh musim sebelumnya menjadi cermin yang cukup jernih. Produktivitas lini depan Bajul Ijo kerap tersendat, bahkan dalam momen-momen krusial. Upaya mendatangkan penyerang baru sempat dilakukan, tetapi berujung buntu. Sananta, yang kala itu menjadi incaran, memilih bertahan.

Keputusan yang, dalam konteks profesional, dapat dipahami.

Namun sepak bola selalu memberi ruang bagi babak kedua. Kontrak Sananta yang akan berakhir pada 30 Juni 2026 membuka kemungkinan yang jauh lebih realistis. Jika negosiasi berjalan mulus, Persebaya berpotensi mendapatkan striker tersebut tanpa biaya transfer—sebuah keuntungan strategis di tengah kompetisi finansial klub-klub Liga 1.

Nama kedua tak kalah menarik: Victor Dethan. Winger muda milik PSM Makassar ini adalah representasi dari proyek jangka panjang yang pernah dibangun Tavares di Makassar. Ia bukan sekadar pemain cepat di sisi sayap, tetapi juga simbol kepercayaan pelatih terhadap talenta muda.

Debutnya pada 29 Juli 2022 melawan Bali United di Stadion Gelora BJ Habibie menjadi titik awal kemunculannya. Sejak itu, Dethan perlahan mengukir tempatnya, meski tak selalu dalam sorotan utama.

Kini, situasinya berada di persimpangan. Kontraknya bersama PSM akan berakhir pada Mei 2026, dan ketidakpastian masa depan membuka ruang bagi klub lain untuk masuk. Persebaya, dengan koneksi langsung kepada Tavares, berada di posisi terdepan dalam perburuan ini.

Jika Sananta adalah solusi instan untuk lini depan, maka Dethan adalah investasi taktis.

Keduanya memiliki satu benang merah: pemahaman terhadap filosofi permainan Tavares.

Dalam sepak bola modern, adaptasi sering kali menjadi faktor yang membedakan antara transfer sukses dan kegagalan mahal. Pemain yang sudah mengenal sistem pelatih cenderung lebih cepat menyatu, mengurangi risiko inkonsistensi di awal musim. Di titik inilah strategi Persebaya terlihat lebih terstruktur, bukan sekadar reaktif.

Membangun “mini PSM” bukan berarti menyalin secara mentah. Ia lebih menyerupai upaya membawa DNA permainan—intensitas, disiplin, dan efisiensi—ke dalam konteks baru di Surabaya.

Namun, strategi ini juga menyimpan tantangan.

Sepak bola tidak pernah berjalan linear. Atmosfer Surabaya berbeda dengan Makassar. Tekanan suporter, ekspektasi publik, hingga dinamika ruang ganti bisa menghadirkan variabel yang tak selalu bisa diprediksi. Apa yang berhasil di satu tempat belum tentu otomatis berhasil di tempat lain.

Di sisi lain, dukungan dari Bonek dan Bonita justru bisa menjadi bahan bakar tambahan. Stadion bukan sekadar arena pertandingan, tetapi juga ruang emosional yang mampu mengangkat—atau menjatuhkan—performa tim.

Jika Sananta benar-benar datang, Persebaya akan mendapatkan penyerang dengan insting gol yang tajam dan mobilitas tinggi. Jika Dethan ikut bergabung, sektor sayap akan memiliki dimensi baru: kecepatan, kreativitas, dan keberanian menusuk pertahanan lawan.

Kombinasi keduanya bisa mengubah wajah lini serang Bajul Ijo secara signifikan.

Lebih jauh lagi, ini adalah tentang arah klub. Apakah Persebaya hanya ingin bersaing di papan tengah, atau benar-benar kembali menjadi kekuatan utama di Liga 1 Indonesia?

Langkah-langkah awal ini memberi petunjuk yang cukup jelas.

Ambisi juara tidak pernah dibangun dalam satu malam. Ia lahir dari keputusan-keputusan kecil yang konsisten: memilih pemain yang tepat, membangun sistem yang solid, dan menjaga kepercayaan di dalam tim. Persebaya tampaknya sedang menapaki jalur itu.

Kini, publik hanya tinggal menunggu satu hal: konfirmasi resmi.

Karena dalam sepak bola, rumor selalu menarik. Tetapi yang benar-benar mengubah sejarah adalah keputusan yang akhirnya ditandatangani.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Jumlah Pemudik Angkutan Umum Lebaran 2026 Naik 8,58 Persen, Kereta Api Jadi Favorit
• 12 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Hari Raya Idul Fitri 1447 H, Gubernur Dedi Mulyadi Minta Maaf ke Warga
• 23 jam lalukompas.tv
thumb
Universitas Pertamina Buka Lowongan Staf Kesekretariatan Pendidikan, Simak Syaratnya
• 16 jam lalukompas.tv
thumb
Lazio vs Bologna: Brace Kenneth Taylor Bawa Lazio Bungkam Bologna 2-0 di Serie A
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Como 1907 Kenang Michael Bambang Hartono sebelum Laga Lawan Pisa
• 11 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.