Penulis: Alfin
TVRINews, Jakarta
Pengalaman seorang asisten rumah tangga (ART) terkait program Makan Bergizi Gratis (MBG) menarik perhatian warganet. Cerita ini menunjukkan manfaat langsung program tersebut bagi anak sekolah dari keluarga berpenghasilan terbatas.
Kisah ini dibagikan akun Threads @sinsianaliaw, Senin, 23 Maret 2026. Ia mengaku penasaran dengan dampak program MBG di lapangan, lalu menanyakan langsung kepada ART di rumahnya, yang anaknya menjadi penerima manfaat.
"Cuman mau cerita dikit POV (sudut pandang) MBG dari Mbak momong anak gw. Di balik banyaknya berita miring MBG yang berseliweran di media, pas gw ngobrol-ngobrol sama dia, gw tanya," tulisnya mengawali cerita.
Ia kemudian bertanya kepada ART tersebut, "Mbak anak lu kan dapet MBG, lu merasa MBG bermanfaat gak? And guess what Mbak gw jawab apa?"
Jawaban yang diterima di luar dugaan.
"Jujur, bagi Mbak bermanfaat, Ceh. Anak Mbak kadang ke sekolah ga ada bekal karena di rumah ga ada makanan. Pergi pagi pulang sore, uang jajan cuman Rp5 ribu atau Rp10 ribu. Kalo beli makan di sekolah juga dapetnya ala kadarnya harga segitu."
Menurut cerita lanjutan, program MBG memberi dampak signifikan dalam keseharian anak tersebut.
"Sejak ada MBG, jujur sih anak Mbak ketolong banget, jadi makan tiap hari. Ya, walaupun kadang dapetnya yang simpel-simpel doang, tapi dibanding gak makan ya mending MBG ke mana-manalah, Ce. Minimal dapet susu kotak, ada buahnya, bergizi."
Selain membantu pemenuhan gizi, program ini juga memberi ruang bagi anak untuk menggunakan uang jajannya secara lebih fleksibel.
"Uang jajannya jadi bisa dipake buat beli makan cemilan lagi kalo masih laper. Kadang bisa disimpen buat dia main sore sama temen-temennya,. Jadi, Mbak juga gak khawatir dia kurang makan," lanjut cerita tersebut.
Unggahan ini mendapat banyak tanggapan dari warganet. Sebagian besar memberikan dukungan terhadap program MBG, meski menyoroti perlunya peningkatan pengawasan dalam pelaksanaan.
Salah satu komentar datang dari akun @xxkyoo, "Programnya bagus, cuma eksekusi di lapangannya kurang pengawasan. Tidak menampik sih banyak dapur yang jujur dan amanah, tapi ada lebih banyak lagi dapur yg asal2an kasih makanan jauh dari konsep awal untuk meningkatkan gizi anak."
Sementara itu, Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Dadan Hindayana menyebut sekitar 60 persen anak di Indonesia masih memerlukan intervensi gizi seimbang. Data tersebut menjadi dasar penting pelaksanaan program MBG dalam mendukung pembangunan sumber daya manusia.
Ia juga menyampaikan program MBG menunjukkan capaian signifikan. Hingga kini, sekitar 61 juta anak telah menerima manfaat dari program tersebut.
Editor: Redaktur TVRINews





