Media sosial alias medsos kini semacam menjadi perangkat wajib bagi kita meng-update informasi. Tak mau dianggap ketinggalan informasi, apalagi sampai dibilang kudet alias kurang update. Ibarat kata, sehari tanpa bermedsos bagai sayur tanpa garam. Terasa hambar dan hampa.
Hal ini disebabkan di medsos aneka informasi tersaji dengan sangat mudah kita akses. Mulai dari informasi yang benar-benar benar, sampai yang benar-benar tidak benar. Ini tak lepas dari peran medsos sebagai new media yang mendorong terjadinya demokratisasi dan percepatan informasi.
Memang ada sisi positifnya. Kita harus menerima ini sebagai fakta sosial. Dengan adanya medsos kita bisa saling terhubung dengan mudah, dengan siapa saja dan kapan saja. Selain itu, percepatan informasi juga membuat kita bisa tahu banyak soal kondisi dunia terkini dalam hitungan detik.
Bahkan, kini aneka hiburan juga bisa kita saksikan tanpa perlu biaya mahal. Namun, perlu disadari, ada paradoks di balik gemerlapnya medsos itu. Paradoks inilah yang membuat kita sadar dan akhirnya mewaspadai dampak buruk dari medsos itu sendiri.
Kebenaran RusakSeorang ilmuwan komputer, Jaron Lanier, melakukan pengamatan kritis mengenai media sosial. Ia menulisnya dalam buku berjudul Ilusi Media Sosial; Sepuluh Argumen tentang Paradoks Media Sosial (2020). Lanier dalam salah satu argumennya menyebutkan bahwa keberadaan media sosial dapat “merusak kebenaran”.
Bahkan, dalam bahasa Tom Nichols, di era media sosial seperti sekarang ini, kebenaran yang sedianya disampaikan para pakar kini telah mati, digantikan oleh para pemengaruh yang belum tentu memiliki “kepakaran”. Ia menyebut fenomena ini dengan istilah populer the death of expertise. Jika kepakaran telah mati, kebenaran pun telah mati.
Media sosial dalam pandangan Baudrillard disebut juga sebagai ruang simulacra. Di sanalah, sebuah realitas merupa menjadi hiperrealitas. Pandangan filsuf postmodern ini menekankan bahwa konten di dunia maya dapat terasa dan dianggap lebih nyata dari realitas itu sendiri.
Itulah yang terjadi di media sosial, di mana orang-orang berlomba menampilkan diri sebaik mungkin. Bahkan, menjadi dirinya yang palsu demi memenuhi kebutuhan algoritma dan meraup engagement yang melimpah. Bahayanya, hal ini sama saja dengan membuat celah blur antara kebenaran dan hasil rekayasa.
Dalam konteks media informasi, medsos dapat menjadi ruang munculnya fake people, baik dalam kategori “manusia palsu” maupun “robot yang diternak”. Seperti kata Lanier, “Orang-orang palsu tidak memiliki alasan untuk menyatakan kebenaran. Memang, kebenaran sama saja aksi bunuh diri bagi orang palsu.”
Nahasnya, orang-orang palsu inilah yang saat ini dipelihara dan digunakan menyerbu gawai kita dengan bertumpuk-tumpuk informasi. Mereka memaksakan suatu informasi (kebenaran) kepada khalayak. Mereka menekan “kebenaran buatan” itu supaya terus berkembang dan dianggap benar oleh kita. Di sini, kebenaran menjadi kata benda yang dengan mudahnya dimodifikasi dan digandakan.
Gejala kehadiran orang-orang palsu ini juga telah kita rasakan di jagat medsos kita. Orang-orang palsu inilah yang menyebarkan “kebenaran buatan” mereka kepada kita, sehingga informasi yang kita terima adalah kebenaran yang telah dirusak oleh kepentingan-kepentingan tertentu. Pada akhirnya kita dipaksa untuk menerima “kebenaran rusak” itu sebagai sebuah kebenaran yang sahih.
Pentingnya TabayyunSebagai seorang Muslim, kita telah diperingatkan oleh Allah Swt akan adanya kondisi ini. QS. al-Hujurat ayat 6, yang berbunyi: “Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.”
Allah memerintahkan kita untuk teliti, cermat, dan tidak percaya begitu saja. Maka dari itu kita diperintahkan untuk melakukan tabayyun. Muhbib Abdul Wahab dalam artikel berjudul Solusi Tabayyun (Republika, 2021) menyebut, dalam era keterbukaan informasi seperti saat ini, tabayyun bisa diartikan sebagai check and recheck atas sebuah kabar atau informasi yang diterima dan beredar.
Dalam konteks ini, tabayyun dapat dilakukan pada si pembawa berita, seperti narasumber atau media resmi yang menyebarkan informasi itu. Kemudian, tabayyun juga dapat dilakukan terhadap isi atau konten informasinya. Kita dapat memverifikasi kebenaran suatu informasi dengan menggali sumber ilmiahnya atau bertanya kepada ahlinya.
Bahkan ketika informasi itu benar, kita harus mengecek kapan waktu tepat terjadinya. Jangan-jangan informasi itu benar, tetapi kejadian sudah terjadi puluhan tahun yang lalu, sehingga rentan mengalami distorsi atau sudah tidak relevan. Di sinilah tabayyun sangat dibutuhkan dalam mencerna informasi.
Berhati-hatiSelain tabayyun, kita juga diperintahkan untuk berhati-hati dalam mengambil sikap. Di era keterbukaan informasi, kita kerap kali terpapar informasi yang bias konfirmasi. Blur antara informasi benar dan informasi yang “seolah benar” (Kovack dan Rosenstiel, 2012).
Maka dari itu, Allah Swt memerintahkan kita untuk tidak mengikuti sesuatu yang berpotensi menyesatkan, terkecuali kita punya alasan yang kuat atau memiliki kemampuan untuk menyelidiki kebenarannya terlebih dulu. Sikap hati-hati ini penting sekali di era sekarang agar kita tidak terjebak dalam jurang kesesatan.
Dalam QS. Al-Isra’ ayat 36, Allah berfirman: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.”
Kehati-hatian dalam mencerna dan menyebarkan informasi merupakan perilaku bertanggung jawab. Jangan sampai informasi yang belum kita tahu pasti kebenarannya, hanya karena ia heboh dan sedang ramai, kita lantas membagikannya begitu saja di akun medsos kita. Sehingga, kita menjadi bagian atau salah satu penyebar “kebenaran rusak” kepada khalayak.
Fenomena inilah yang terjadi di jagat medsos kita. Bahkan, banyak yang termakan jebakan ini di antaranya adalah mereka yang berpendidikan tinggi. Dengan demikian, banyak hoaks tersebar luas bukan hanya ulah buzzer dan akun robot yang diternak, tapi juga karena masyarakat kita yang minim literasi media, tidak melakukan tabayyun, dan tidak mencari tahu kebenarannya.
Berkomitmen Lebih BaikRamadan telah usai. Sebulan lamanya kita ditempa untuk menjadi manusia yang lebih baik. Dari ulat yang ditempa dalam kepompong, kini mulai menjadi kupu-kupu yang indah. Begitulah ibadah puasa mengajarkan kita untuk bisa lebih tenang, bersabar, mampu mengendalikan diri, dan bersikap hati-hati dalam menghadapi suatu masalah. Termasuk dalam mencerna dan merespons informasi yang kita dapat.
Di antara dari berhasilnya ibadah puasa kita adalah meningkatnya kualitas diri kita setelahnya. Salah satu wujud dari ketakwaan itu adalah berkomitmen untuk menjadi Muslim yang lebih baik. Baik meningkat secara spiritual, sosial, maupun emosional.
Dalam konteks ini, kita diharapkan menjadi Muslim yang dapat menggunakan medsos secara cerdas dan bijak. Yaitu dengan mengedepankan kehati-hatian, tidak tergesa-gesa ketika merespons suatu informasi, serta berhati-hati dalam menyimpulkan dan membagikan informasi di ruang publik.
Selain itu, kita juga dapat menggunakan medsos untuk melakukan amar ma’ruf (mengajak pada kebaikan). Seperti kata Tom Phillips dalam buku Truth (2021) bahwa kita tidak cukup memusnahkan ilalang, kita juga harus menanam bunga-bunga. Maksudnya, memberantas hoaks saja belumlah cukup, kita harus memanfaatkan ruang-ruang digital untuk memberikan informasi yang benar.
Dengan memiliki kesadaran dan komitmen ini, kita bisa menghindari kemudaratan yang lahir dari jempol dan gawai kita. Jangan sampai, kekhidmatan Idul fitri kita rusak gara-gara melupakan integritas kita pada kebenaran informasi. Semoga Allah senantiasa menjaga kita tetap istiqamah dalam kebenaran dan jalan yang diridai-Nya.





