SEMARANG, KOMPAS — Rekayasa lalu lintas sistem satu arah atau one way nasional sepenggal di jalan tol diperpanjang penerapannya, dimulai dari Kilometer 390 Kendal, Jawa Tengah, hingga Km 70 Cikampek, Jawa Barat, pada Senin (23/3/2026) malam. Selain itu, kepolisian juga menerapkan one way lokal di Jateng, dari Km 460 Salatiga hingga Km 421 Gerbang Tol Banyumanik.
Awalnya, one way nasional sepenggal diterapkan dari Km 263 Brebes, Jateng, hingga Km 70 Cikampek mulai Senin pukul 16.00 WIB. Kepala Bidang Humas Kepolisian Daerah Jateng Komisaris Besar Artanto menyebut, penerapan oneway nasional sepenggal itu diperpanjang dengan dimulai dari Km 390 Weleri, Kendal, pada Senin malam sekitar pukul 20.00 WIB.
"Alasan one way nasional sepenggal ini diperpanjang atau dimundurkan dari Brebes ke Kendal karena jalur tol di Brebes sangat padat," kata Artanto saat dihubungi, Senin (23/3/2026) malam.
Sebelum melakukan perpanjangan one way nasional sepenggal, Artanto menyebut, petugas terlebih dulu melakukan sterilisasi. Kendaraan dari barat ke timur atau arah Brebes ke Semarang diarahkan untuk keluar melalui pintu tol terdekat. Proses sterilisasi itu memakan waktu lebih kurang satu jam.
Selain itu, Artanto menambahkan, Polda Jateng juga memberlakukan one way lokal pada Senin malam. Menurut rencana, one way lokal itu diterapkan dari Km 460 Salatiga hingga Km 421 Gerbang Tol (GT) Banyumanik.
Hingga Senin pukul 23.00 WIB, sterilisasi masih dilakukan. Kendaraan dari barat ke timur atau arah Semarang menuju Salatiga diarahkan keluar melalui pintu tol terdekat. Jika sudah dinyatakan steril, one way lokal baru akan diterapkan.
"One way lokal untuk mengurai kemacetan yang ada di jalur B (arah Surakarta menuju Semarang) yang disebabkan oleh masyarakat yang akan masuk ke rest area 456 B di Kabupaten Semarang," ucap Artanto.
Kepadatan di jalan tol ruas Solo-Semarang pada Senin petang hingga malam dikeluhkan para pengguna jalan. Salah satunya, Nunik, warga yang melakukan perjalanan dari Boyolali menuju Semarang melalui ruas tol tersebut.
Nunik mengatakan, akibat kemacetan tersebut, perjalanan yang ia tempuh dari kampung halamannya di Boyolali menuju Semarang lebih lama dari biasanya.
Dalam kondisi normal, Nunik perlu waktu 3 jam perjalanan dari Boyolali menuju Semarang. Adapun, pada Senin, lama perjalanan yang ia tempuh untuk jarak yang sama sekitar 7 jam.
"Dari GT Salatiga sampai Bawen memakan waktu 2 jam, saya mau lewat tol Ungaran (Kabupaten Semarang) tidak berani. Macete nggilani (macetnya parah banget) sampai sesak dada ini. Akhirnya saya putuskan untuk keluar tol, tapi sampai di luar Tol Bawen sama saja macetnya," ujar Nunik.
Peningkatan volume kendaraan jelang arus balik juga mulai terjadi di GT Kalikangkung, Semarang, pada Senin. Peningkatan itu diprediksi masih akan terus terjadi, mengingat puncak arus balik diperkirakan terjadi pada Selasa (24/3/2026).
Kepala Pos Pengamanan GT Kalikangkung, Ajun Komisaris AKP Dimas Arief Wicaksono mengatakan, volume kendaraan yang masuk ke GT Kalikangkung dari timur ke barat pada Senin rata-rata 1.500-3.000 per jam. Angka itu lebih tinggi dari rata-rata volume kendaraan dari timur ke barat pada Minggu (22/3/2026) yang berkisar 1.000-1.900 per jam.
Pada saat yang sama, Dimas menyebut, arus kendaraan dari barat ke timur masih cukup padat. Hingga Senin petang, rata-rata kendaraan dari barat ke timur sebanyak 1.000-2.000 per jam.
"Demi kelancaran transaksi pembayaran di GT Kalikangkung, ada 11 titik pembayaran untuk kendaraan dari arah timur ke barat, terdiri dari gardu utama sebanyak tujuh dan gardu satelit sebanyak empat titik. Kemudian di jalur barat ke timur ada sembilan titik, terdiri dari lima gardu utama dan empat satelit," kata Dimas.
Seiring dengan pelaksanaan one way di jalur tol, kendaraan dari arah barat ke timur dialihkan lewat jalur arteri. Kondisi itu berpotensi menimbulkan kepadatan di jalur arteri.
Pada saat yang sama, masih ada pergerakan pemudik lokal serta pergerakan masyarakat untuk bersilaturahmi atau berwisata. Untuk mencegah kepadatan, tim urai pun disiagakan di titik-titik rawan.
"Selain itu, kami juga menyiapkan jalur-jalur alternatif yang bisa dilalui oleh pemudik. Masyarakat bisa mengakses jalur alternatif ini melalui chatbot yang telah kami siapkan lewat aplikasi Sipolan," kata Artanto.
Macete nggilani (macetnya parah banget) sampai sesak dada ini. Akhirnya saya putuskan untuk keluar tol, tapi sampai di luar Tol Bawen sama saja macetnya





