MOHSEN Rezaei, penasihat militer senior untuk Pemimpin Agung Iran Mojtaba Khamenei, menegaskan Teheran akan terus melanjutkan peperangan hingga seluruh tuntutan mereka dipenuhi. Dalam pidato televisi yang disiarkan pada Senin (23/3), Rezaei menekankan kompensasi atas kerusakan yang diderita Iran menjadi syarat mutlak penghentian konflik.
Rezaei menyatakan bahwa Iran akan terus berjuang sampai "semua sanksi ekonomi dicabut, dan jaminan internasional yang mengikat secara hukum diperoleh untuk mencegah campur tangan AS di Iran."
Kepemimpinan Baru dan Kekuatan MiliterDi tengah eskalasi yang terus memanas, Rezaei meyakinkan publik transisi kepemimpinan di Iran berjalan dengan stabil. Ia menegaskan bahwa kekuatan militer negara itu tetap solid di bawah komando pemimpin baru.
Baca juga : Iran Pantang Menyerah Sebelum Menang Lawan AS
"Kami melihat bahwa angkatan bersenjata kami menjalankan operasi dan aktivitas dengan penuh kekuatan. Proyek kepemimpinan kami, dengan terpilihnya pemimpin baru, telah secara kokoh berada di bawah manajemennya," ujar Rezaei.
Tudingan Terhadap NetanyahuRezaei juga melontarkan klaim perang ini sebenarnya secara efektif telah berakhir lebih dari satu minggu yang lalu. Menurutnya, Amerika Serikat semula sudah menunjukkan kesiapan untuk menghentikan serangan dan mengupayakan gencatan senjata. Namun, langkah tersebut terhambat oleh intervensi politik dari Israel.
Ia menuduh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sebagai pihak yang terus "mendesak untuk melanjutkan" peperangan. Lebih lanjut, Rezaei mengeklaim bahwa setelah hari ke-15 konflik, "AS memahami dengan jelas bahwa tidak ada jalan menuju kemenangan dalam perang ini."
Baca juga : Trump Klaim Dialog "Sangat Baik" dengan Pejabat Tinggi Iran
Tuntutan Hukuman bagi AgresorSenada dengan Rezaei, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf turut menyuarakan sikap keras melalui unggahan di media sosial X. Ghalibaf menyatakan rakyat Iran kini menuntut adanya keadilan atas serangan yang mereka terima.
Ghalibaf menegaskan warga Iran menuntut "hukuman yang lengkap dan menimbulkan penyesalan" bagi para "agresor" yang telah mengusik kedaulatan mereka.
Situasi di kawasan tetap tegang seiring dengan penegasan Iran yang mengaitkan penghentian aktivitas militer dengan konsesi ekonomi dan politik yang signifikan dari pihak Barat, terutama Amerika Serikat. (BBC/CNN/Z-2)





