Vila atas laut Bontang Kuala penenang jiwa

antaranews.com
4 jam lalu
Cover Berita
Bontang (ANTARA) - Hakikat berwisata sejatinya merupakan upaya memulihkan jiwa dari padatnya rutinitas harian yang seolah tak pernah usai. Terlebih jika perjalanan itu dinikmati bersama orang-orang tercinta pada waktu yang dinanti, seperti suasana libur Lebaran kali ini.

Beragam destinasi menarik terbentang di Bumi Nusantara. Bagi masyarakat Kalimantan Timur, salah satu pilihan pelesiran yang memikat adalah bermalam di vila-vila di atas laut kawasan Bontang Kuala, Kota Bontang.

Bayangkan, terbangun oleh suara ritmis debur ombak yang menghantam tiang-tiang kayu ulin di bawah lantai kamar. Saat tirai jendela disibak, hamparan laut menyambut dengan pantulan cahaya keemasan matahari pagi yang menenangkan.

Udara pesisir nan segar perlahan memenuhi paru-paru, membawa pergi sisa-sisa penat dari kesibukan harian.

Bagi mereka yang mencari suaka dari stres dan kelelahan mental, deretan vila di atas laut Bontang Kuala menawarkan terapi yang melegakan.

Terletak di Bontang Timur, Kalimantan Timur, permukiman terapung ini telah berevolusi menjadi lebih dari sekadar desa wisata. Ini lebih dari sebuah ruang penenang di mana alam, sejarah, dan kearifan lokal berpadu dalam satu harmoni.

Daya tarik Bontang Kuala terpusat pada ribuan deretan permukiman terapung dan gugusan puluhan penginapan atas laut yang berdiri di atas perairan dangkal.

Bangunan-bangunan ini tidak mengkhianati lanskap aslinya; ini dibangun dengan konstruksi kayu ulin khas Kalimantan yang terkenal tangguh melawan korosi air laut. Menginap di vila-vila ini memberikan pengalaman unik.

Jafar, Ketua Adat Bontang Kuala menuturkan bahwa geliat pariwisata ini berjalan beriringan dengan ketaatan pada aturan. Vila-vila yang mengapung tersebut merupakan investasi yang dimiliki oleh perpaduan penduduk lokal dan investor dari luar daerah.

"Mereka semua taat aturan, membayar pajak daerah dan juga retribusi ke Kementerian Kelautan dan Perikanan," jelas Jafar.

Kepatuhan ini memastikan bahwa pesona wisata Bontang Kuala tidak menjadi eksploitasi yang merusak tatanan lingkungan.

Bukan tanpa alasan vila-vila ini selalu diburu pengunjung. Untuk reservasi pun harus jauh-jauh hari, minimal 15 hari sebelum waktu menginap. Bahkan untuk momen Lebaran, harus dipesan sebulan sebelumnya. Hal menarik, vila ini menyediakan kolam yang dinetralkan dengan jaring agar mandi di lautan lebih aman dan menyenangkan.

Halimah, Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Bontang Kuala, mencatat betapa masif gelombang manusia yang berkunjung di kampung ini.

Para pelancong menikmati keseruan berenang pada kolam laut yang dijaring dari sisi vila tengah laut di kawasan Bontang Kuala, Kota Bontang, Kalimantan Timur. ANTARA/Ahmad Rifandi.

Pada musim libur panjang, terutama saat Lebaran atau akhir pekan, kunjungan bisa tembus hingga 1.500 orang per hari.

Mereka datang bukan sekadar untuk singgah, melainkan membuang kepenatan, menikmati hamparan laut, menginap di villa tengah laut dangkal, hingga menyelami keindahan bawah air lewat aktivitas snorkeling.

Baca juga: Gubernur Kaltim ajak komisi VI DPR RI wisata susur sungai mahakam

Baca juga: Mendes dorong desa Kaltim sulap danau bekas tambang jadi tujuan wisata

"Dari jajak pendapat wisatawan, fasilitas baru seperti pelataran Bontang Kuala yang baru saja selesai dibangun menjadi spot favorit," kata Halimah.

Para wisatawan sangat menikmati sensai berjalan di pelataran kayu ulin ini pada sore hari, menanti senja turun perlahan menyentuh batas cakrawala.



Akar sejarah

Ketenangan yang ditawarkan Bontang Kuala sebenarnya berakar pada sejarahnya yang panjang. Vila-vila modern ini hanyalah geliat terbaru dari sebuah peradaban pesisir yang telah bernapas selama berabad-abad.

Jika merunut ke belakang, Bontang Kuala bukanlah sekadar kampung wisata baru.

"Bontang Kuala adalah cikal bakal Kota Bontang. Titik awal pemerintahan Kota Bontang ada di sini," ungkap Jafar.

Hamparan permukiman terapung ini telah ada pada dekade 1780-an. Jauh sebelum masuknya industri gas dan pupuk mendominasi identitas Bontang modern, kawasan ini adalah rumah bagi para pengembara lautan.

"Masyarakat awal di sini adalah Suku Bajau yang dikenal sebagai komunitas pengembara laut," tutur Jafar.

Sebagai pelaut ulung, Suku Bajau membangun fondasi permukiman yang menyatu dengan ritme pasang surut air laut. Eksistensi awal komunitas ini semakin kokoh dan terlegitimasi dengan berdirinya Masjid Al Wahhab pada tahun 1789, yang hingga kini menjadi patokan historis berdirinya Bontang Kuala.

Seiring berjalannya waktu, tatanan sosial semakin terbentuk hingga pada tahun 1923, sistem pemerintahan di kampung ini secara resmi diakui. Bukti sah ialah bangunan balai peninggalan Kesultanan Kutai yang saat ini dikukuhkan menjadi cagar budaya.

Kini, kampung terapung ini menjadi rumah bagi 6.750 jiwa yang terbagi dalam 2.136 Kepala Keluarga (KK). Demografinya tak lagi homogen Suku Bajau, tapi bak melting pot di mana berbagai suku berbaur.

Mata pencarian yang dulunya didominasi oleh nelayan tangkap pun kini meluas ke berbagai profesi, seiring transformasi Bontang Kuala menjadi episentrum pariwisata bahari di pesisir Kalimantan Timur



Sentuhan pangan khas

Sebuah destinasi yang mengasyikkan tak akan lengkap tanpa sentuhan kuliner dan budaya yang menghangatkan hati. Di Bontang Kuala, hidangan itu tersaji di atas cobek tanah liat yang mengepulkan asap beraroma rempah pedas dan gurih.

"Kuliner andalan Bontang Kuala adalah Gammi Bawis," sebut Halimah.

Menyantap Gammi Bawis di salah satu rumah makan yang mengapung di atas laut, ditemani tiupan angin pesisir, adalah pengalaman gastronomis yang tak terlupakan.

Ikan bawis —spesies lokal yang jadi kebanggaan perairan Bontang— dibakar langsung bersama sambal tomat, bawang, dan terasi yang meletup-letup, ditutup dengan irisan bawang merah di atasnya. Perpaduan rasa pedas, segar, dan manisnya daging ikan lokal ini betul-betul menggugah selera, bahkan tak cukup nasi sepiring.

Baca juga: Jejak aroma gammi bawis di perkampungan terapung Bontang Kuala

Namun yang membuat jiwa benar-benar merasa pulang di Bontang Kuala adalah bagaimana masyarakatnya merawat kohesi sosial melalui tradisi tua. Di balik predikat sebagai desa wisata, roh spiritualitas masyarakat pesisir tetap mengakar.

Ketertiban, keamanan, dan keramahan penduduk yang menjadi ikon kampung ini tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dirawat melalui ritual-ritual komunal. Setiap tahun, denyut kampung ini merayakan Pesta Laut, sebuah bentuk rasa syukur kepada Sang Pencipta atas laut yang terus memberi penghidupan.

"Ada pula tradisi makala-kela, momen di mana seluruh warga makan bersama di pinggir pantai, meruntuhkan sekat-sekat status sosial," ujar Jafar.

Sementara itu, tradisi maulidan yang identik dengan pembagian telur berkah menjadi simbol kesinambungan hidup dan harapan warga.

Berada di tengah-tengah masyarakat yang masih menjaga nilai-nilai kebersamaan ini memberikan efek relaksasi psikologis tersendiri bagi wisatawan.

Bagi masyarakat Bontang Kuala, ketenangan bukanlah sesuatu yang pasif. Ketenangan adalah hasil dari rasa aman terhadap masa depan.

Para pelancong berjalan pada titipan Ulin kampung terapung Bontang Kuala, Kota Bontang, Kalimantan Timur. ANTARA/Ahmad Rifandi.

Wisata Keramba

Menyadari bahwa hasil tangkapan laut bisa fluktuatif dan pariwisata bisa pasang surut, warga mulai membangun jaring pengaman ekonomi yang mengedepankan keberlanjutan kelestarian alam.

Jafar memaparkan sebuah inisiatif ambisius yang kini mulai menampakkan hasil: wisata dan budidaya keramba. Saat ini, sudah ada sekitar 30 petak keramba yang mengapung di perairan kampung.

Setiap petak berukuran 3x3 meter tersebut menjadi rumah pembesaran bagi sekitar 250 ekor ikan bernilai ekonomis tinggi, seperti ikan kerapu, ikan putih, dan kakap merah.

Program yang didukung penuh oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta pemerintah provinsi ini merupakan langkah cerdas menuju ketahanan pangan dan kelestarian ekosistem.

Nelayan tidak lagi sekadar mengeksploitasi laut bebas, melainkan beralih menjadi pembudidaya yang merawat sumber daya airnya sendiri.

Ke depan, mimpi masyarakat Bontang Kuala semakin terstruktur. "Rencana ke depan adalah mengembangkan keramba apung ini menyatu dengan restoran apung," ungkap Jafar.

Wisatawan nantinya tidak hanya bisa makan, tetapi juga melihat langsung dan memilih ikan dari keramba.

Selain itu, aksesibilitas wisata laut dibuat sangat demokratis. Wisatawan ditawarkan paket wisata keliling laut Bontang Kuala hanya dengan biaya Rp10.000 per orang menggunakan kapal nelayan atau speedboat.

Harga yang sangat merakyat ini memastikan bahwa terapi jiwa di atas laut Bontang Kuala bisa dinikmati oleh semua kalangan, tanpa membuat kantong menjerit.

Di lini manajerial, Pokdarwis yang dinakhodai Halimah memastikan bahwa pariwisata tidak hanya menguntungkan segelintir orang.

"Program pengembangan kami tidak hanya soal promosi, tapi mencakup lingkungan hidup, pelestarian budaya, dan pengembangan koperasi pariwisata," tegasnya.

Melalui koperasi ini, perputaran ekonomi dari ribuan pelancong diikat dan didistribusikan kembali untuk kesejahteraan ribuan jiwa warganya.

Pada ujungnya, menghabiskan waktu di vila atas laut Bontang Kuala bukan sekadar urusan check-in dan berfoto untuk media sosial. Ini ialah perjalanan menyusuri lorong waktu ke tahun 1780-an, sebuah refleksi atas ketahanan Suku Bajau yang berevolusi menjadi masyarakat majemuk yang inklusif.

Itu juga tentang menyantap hidangan yang dimasak dengan kesabaran, dan memandang lautan dengan rasa hormat.

Di atas tiang-tiang kayu ulin yang terus berderak pelan menahan ombak, Bontang Kuala berdiri menawarkan pesona sebagai cikal bakal sebuah kota dengan kemajuan industri, sekaligus pelabuhan terakhir bagi jiwa-jiwa yang mencari ketenangan.

Baca juga: Oman tertarik bangun kilang di Bontang dan Kuala Tanjung


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Hutan Aceh Berkurang, Bencana Langka Bisa Berulang
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Arus Balik, Pemudik Motor Arah Jakarta Mulai Terlihat di Jalur Pantura Cirebon
• 17 jam laluokezone.com
thumb
Sepanjang 2025, Tokocrypto Jalin 1.000+ Kemitraan dan Perluas 480 Aset Kripto Berbasis Rupiah
• 5 jam laluantaranews.com
thumb
Trump Sebut Selat Hormuz Segera Dibuka, Akan Dikendalikan Bersama AS dan Iran
• 58 menit lalumediaindonesia.com
thumb
Pemerintah Kebut Pembangunan 104 Sekolah Rakyat di Berbagai Kota
• 18 jam lalumedcom.id
Berhasil disimpan.