”Pariwi-Soto” ala Arek Suroboyo yang Tak Mudik

kompas.id
8 jam lalu
Cover Berita

Momen Idul Fitri menghadirkan tantangan bagi warga Surabaya dalam pemenuhan kebutuhan makanan dan minuman. Salah satunya, pariwi-soto, yakni pelesetan dari lema pariwisata yang bisa diartikan tetap menikmati menyantap soto dan coto khas di metropolitan kebanggaan Arek Suroboyo.

Selama masa libur Idul Fitri 1 Syawal 1447 Hijriah, diperkirakan 30-40 persen gerobak, tenda, kedai, warung, depot, rumah makan, kafe, dan restoran di Surabaya berhenti beroperasi. Pengelola dan pekerja sejenak mudik. Yang masih beroperasi terutama penjual soto amat sedikit sehingga menikmati kuliner tersebut menghadirkan tantangan tersendiri.

H+1 atau Senin (23/3/2026) pukul 09.00 WIB, perut sudah terasa lapar, sedangkan belum masak untuk sarapan. Jajan menjadi pilihan utama yang strategis. Teringat sempat melihat pengumuman di kedai soto terkenal bahwa operasional kembali buka pada Senin itu. Tanpa pikir panjang, soto menjadi pilihan utama untuk mengawali aktivitas.

Dengan sepeda motor, berkeliling lebih dari satu jam dari Surabaya selatan ke pusat. Mendatangi setidaknya 20 gerobak sampai kedai soto, semuanya penuh. Antrean mengular demi mencicipi seporsi soto ayam Ambengan, soto ayam Lamongan, soto sulung, soto Madura, soto Kudus, soto Boyolali, atau coto Makassar.

Baca JugaSoto, dari Kisah tentang Cinta, Perang, hingga Kebersamaan
Baca JugaSoto Rasa Akulturasi

Di saat perut memberontak, tetapi tekad bulat mencari soto, harapan datang. Ada gerobak soto di tepi Jalan Undaan Wetan yang sedang tampak lengang. Kain tenda bertuliskan Soto Ayam LA Mania Cak Nur No 1 Cabang Pasar Pabean. Tanpa pikir panjang, pesan seporsi soto campur nasi dengan khas taburan koya seharga Rp 15.000.

Berikan perasan jeruk nipis, sambal rebus, dan kecap buatan Surabaya. Ada kecap asin Cap Menjangan No 450 ala CV Pabrik Ketjap Mendjangan dan kecap manis Cap Jeruk Pecel Tulen ala CV Jeruk Pecel Tulen dari Surabaya. Tak sampai lima menit, seporsi soto amblas masuk perut.

”Sampeyan beruntung Mas, tadi saya buka jam 05.00 sudah penuh. Tiga hari Lebaran (19-21 Maret 2026) tidak buka karena mudik ke Lamongan,” kata istri Cak Nur yang melayani pembeli di gerobak tenda itu. Cak Nur memiliki dua lokasi jualan serupa, yakni Pasar Pabean dan Kabupaten Gresik. Usaha ini sudah dijalankan hampir tiga dekade.

Seporsi soto ayam Lamongan itu ternyata belum memuaskan nafsu makan. Mungkin dalam pikiran sudah terpatri ingin makan soto, maka dicarilah lagi sajian serupa, tetapi harus beda. Eh, ternyata, di dekat kantor, ada gerobak tenda Soto Daging Cak Dy di pertemuan Jalan Flores dan Jalan Bawean.

Ini adalah soto sulung dengan irisan daging dan nasi. Berikan perasan jeruk nipis, sambal rebus, taburan bawang goreng dan irisan seledri pada soto. Oh, juga berikan beberapa tetes kecap asin Cap Kerang ala CV Subur Jaya Abadi di Sidoarjo. Sekitar lima menit, satu porsi soto sulung ini ludes dan masuk ke perut.

”Aku libur tiga hari Mas, Lebaran. Hari ini baru buka lagi dan ramai dari tadi pagi,” kata Cak Dy, sang penjual.

Di kedai Soto Madura Wawan, Jalan Mayjend Sungkono, Hari Setiawan (40) sudah mengantre sekitar 10 menit untuk makan di tempat. Ia datang bersama istri dan dua anaknya. Keluarga ini asal Surabaya, tidak mudik tetapi Lebaran diisi liburan ke Malang dan baru kembali.

”Soto Madura Wawan ini salah satu favorit kami. Lainnya di Soto Ayam Kampung Pak Djayus, Soto Ayam Ambengan Pak Sadi. Tapi, kalau soto, kuliner favorit, sih,” kata Hari, pegawai swasta. Produk silang budaya dengan kuliner peranakan Tionghoa ini juga digemari oleh istri dan kedua anaknya karena segar, berempah, gurih, dan terutama membawa kegembiraan sehabis menyantapnya.

Antre beberapa menit juga dirasakan oleh Siswanto (50) bersama keluarga saat hendak menikmati Soto Ayam Ambengan Pak Sadi ”Asli” di Jalan Ambengan. Soto adalah kuliner yang pas sebagai sarapan yang agak kesiangan itu. Maklum, masih masa Lebaran, sedangkan di rumah tidak masak karena pembantu mudik. Jajan menjadi solusi.

”Tiga hari terakhir, kami selalu jajan di luar karena pembantu yang biasa memasak sedang mudik. Dua hari Lebaran, kami jajan di mal karena pasti buka tempat kulinernya,” ujar Siswanto.

Baca JugaSoto dan Kopi
Baca JugaMempromosikan Kuliner Khas Lamongan Hingga ke Ibu Menteri

Mengutip buku Monggo Dipun Badhog karya Dukut Imam Widodo, di Surabaya, era Hindia-Belanda kurun 1900-1945, penjaja soto menggunakan pikulan, berkeliling kampung dan pasar. Soto saat itu berbahan daging ayam atau sapi. Pembeli menikmati seporsi soto di sekeliling penjualnya atau andok menurut bahasa suroboyoan.

Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945, penjual soto mulai beralih ke gerobak atau menetap. Salah satunya Midi dari Pulau Madura yang dikenal sebagai perintis Soto Madura Gubeng Pojok di sudut Stasiun Surabaya Gubeng sejak 1947.

Berikan perasan jeruk nipis, sambal rebus, taburan bawang goreng dan irisan seledri pada soto.

Selain itu, Arie Zainal yang sejak 1950 berjualan soto daging di Jalan Sulung Sekolahan yang sebelumnya di Pasar Wetan Besar. Arie Zainal berasal dari Pulau Madura. Soto kreasinya disebut soto sulung mengingat keberadaan di Jalan Sulung Sekolahan, tetapi mirip soto daging Madura.

Pada periode 1960, Hasni Sadi merantau dari Lamongan ke Surabaya. Dia berjualan soto ayam buatannya berkeliling kampung. Sotonya dikenal karena sudah menggunakan bubuk koya dari kerupuk udang dan bawang putih. Sejak 1971, ia memulai usaha dengan menetap di Jalan Ambengan. Dari sinilah dikenal lalu melegenda Soto Ayam Ambengan Pak Sadi ”Asli”.

Beberapa tahun kemudian atau sejak 1976, perantau dari Lamongan membuka usaha Soto Ayam Cak To di Jalan Undaan Wetan. Cirinya mirip dengan gaya Pak Sadi dengan penggunaan bubuk koya. Bahkan, penggunaan bubuk yang gurih dan lezat ini telah menjadi kekhasan soto ayam gaya Lamongan. Namun, penggunaannya juga dikenal dalam lontong cap go meh ala Surabaya.

Kalangan warga Surabaya juga akrab dengan kedai-kedai soto yang sudah terkenal. Antara lain Soto Ayam Kampung Pak Djayus di Jalan Raya Manyar sejak 1984 dan Soto Ayam Lamongan Cak Har di Jalan Dr Ir Soekarno (MERR) sejak 1990. Juga ada Soto Madura Wawan yang dirintis oleh mantan buruh cuci restoran Wawan Sugianto dari Bojonegoro.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Menhaj Jamin Keberangkatan Haji 2026 Sesuai Jadwal di Tengah Tensi Geopolitik
• 1 jam lalumatamata.com
thumb
Update Ranking FIFA: Indonesia Naik ke Posisi 121, Malaysia Terjun Bebas Akibat Skandal Naturalisasi
• 18 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Tradisi Lebaran di Indonesia, dari Mudik hingga Perang Topat
• 12 jam lalucelebesmedia.id
thumb
Lionel Messi Resmi Lampaui Rekor Tendangan Bebas Pele, Kini Dekati Catatan Legendaris Juninho
• 7 jam lalupantau.com
thumb
Potret Warga Ramai-Ramai Berburu Kuliner Viral Blok M pada H+3 Lebaran 2026
• 20 jam lalubisnis.com
Berhasil disimpan.