Setelah Lebaran, Masihkah Ramadan-nomics Menguatkan Ekonomi Rakyat?

kumparan.com
5 jam lalu
Cover Berita

Ramadan-nomics selalu punya pola yang akrab di Indonesia. Pasar lebih ramai, jalanan lebih padat, warung lebih hidup, dan uang beredar lebih cepat. Ramadan dan Idulfitri 1447 H bukan hanya musim ibadah, tetapi juga musim ketika konsumsi rumah tangga, mobilitas masyarakat, dan aktivitas ekonomi rakyat bergerak bersama.

Belanja pangan, pakaian, transportasi, mudik, hingga kebutuhan sosial-keagamaan membuat denyut ekonomi terasa sampai ke pasar tradisional, usaha mikro, dan sektor informal.

Masalahnya, ramainya Lebaran tidak selalu berarti ekonomi rakyat benar-benar lebih kuat. Lonjakan konsumsi memang terlihat mencolok. Tetapi ukuran yang lebih penting justru muncul setelah perayaan selesai.

Setelah takbir mereda, pemudik kembali ke kota dan THR habis dibelanjakan, apa yang benar-benar tersisa? Apakah Ramadan-nomics sungguh menguatkan ekonomi rakyat, atau hanya menghadirkan ledakan belanja yang cepat padam?

Arus Uang Lebaran dan Daya Hidup Ekonomi Rakyat

Aktivitas Lebaran biasanya ditandai dengan mudik, yang dilihat sebagai perpindahan orang dari kota ke kampung halaman. Padahal, secara ekonomi, mudik juga berarti perpindahan uang, daya beli, dan aktivitas belanja dari pusat pertumbuhan ke daerah.

Uang yang biasanya berputar di kota dibawa pulang ke desa, kota kecil, pasar tradisional, warung, usaha mikro, petani, sopir lokal, hingga pelaku jasa di daerah. Karena itu, Lebaran bukan cuma peristiwa sosial dan budaya, tetapi juga salah satu momen distribusi kesejahteraan yang paling nyata dalam ekonomi Indonesia, terutama bagi pelaku ekonomi rakyat di daerah.

Bank Indonesia menyiapkan Rp185,6 triliun uang layak edar untuk Ramadan dan Idulfitri 1447 H/2026, naik dari Rp180,9 triliun pada 2025. Pada saat yang sama, Kementerian Perhubungan memproyeksikan total pergerakan masyarakat selama masa Angkutan Lebaran 2026 mencapai 143,91 juta orang atau 50,60 persen penduduk, turun tipis dari 146,48 juta orang pada 2025.

Angka-angka ini menunjukkan bahwa meskipun mobilitas sedikit menurun, kebutuhan likuiditas dan aktivitas ekonomi musiman tetap tinggi. Artinya, Ramadan dan Lebaran masih menjadi penggerak penting bagi konsumsi rumah tangga sekaligus ekonomi daerah di Indonesia.

Di sinilah logika multiplier effect bekerja. Uang yang dibelanjakan saat Lebaran tidak berhenti pada satu transaksi. Belanja di warung kecil menggerakkan pedagang. Pedagang membeli lagi dari pemasok. Pemasok terhubung dengan produsen. Belanja makanan, transportasi, oleh-oleh, sampai wisata lokal ikut menghidupkan rantai ekonomi yang lebih panjang. Karena itu, Lebaran memang bisa menjadi momen ketika ekonomi rakyat ikut bernapas lebih lega.

Tetapi titik kritisnya ada di sini: uang yang bergerak besar belum tentu menjadi kekuatan yang bertahan. Kalau uang Lebaran cuma lewat untuk belanja sesaat, dampaknya juga cepat hilang. Pasar memang ramai, tetapi belum tentu produksi rakyat ikut kuat. Di sinilah kelemahan mendasar Ramadan-nomics. Ia cukup ampuh menggerakkan konsumsi, tetapi belum tentu sanggup memperkokoh ekonomi rakyat yang berkelanjutan setelah keramaian usai.

Ujian Daya Tahan Ekonomi Rakyat Setelah Lebaran

Ujian siklus Ramadan-nomics yang sebenarnya justru datang setelah Lebaran berlalu. Tabungan mulai menipis, THR habis, sementara kebutuhan hidup tetap berjalan. Banyak rumah tangga akhirnya menahan belanja, konsumsi melambat, dan daya beli melemah.

Bagi kelompok rentan, ini bukan sekadar masa penyesuaian, tetapi tekanan finansial yang nyata. Dampaknya juga tidak berhenti di rumah tangga. Usaha kecil yang sebelumnya menikmati lonjakan permintaan selama Ramadan ikut terkena imbas ketika belanja masyarakat mendadak melambat.

Di sinilah masalahnya menjadi jelas. Ekonomi rakyat tidak cukup hanya digerakkan, tetapi harus dikuatkan. Rumah tangga kecil, usaha mikro, pekerja informal, dan pelaku usaha lokal membutuhkan kesinambungan, bukan sekadar ledakan sesaat. Selama puncak belanja Lebaran tidak diikuti daya tahan setelahnya, selama itu pula Ramadan-nomics belum bisa disebut sepenuhnya berhasil.

Dalam konteks ini, zakat punya arti yang lebih besar daripada sekadar kewajiban ibadah personal. Proyeksi penghimpunan zakat nasional sekitar Rp6 triliun selama Ramadan 2026, yang dihimpun melalui sekitar 760 lembaga zakat di seluruh Indonesia, menunjukkan bahwa filantropi Islam punya daya ekonomi yang nyata.

Dalam skala komunitas, zakat bisa menjadi penyangga konsumsi kelompok rentan agar tidak jatuh terlalu tajam setelah euforia belanja Lebaran mereda. Dengan kata lain, zakat tidak hanya bicara distribusi sosial, tetapi juga soal menjaga daya tahan ekonomi pada fase pasca-Lebaran.

Karena itu, ukuran keberhasilan Ramadan-nomics tidak boleh berhenti pada ramainya transaksi selama musim Lebaran. Ukuran yang lebih penting adalah apakah momentum itu benar-benar meninggalkan fondasi yang lebih kuat bagi ekonomi rakyat. Pemerintah daerah tidak boleh hanya menjadi penonton ketika arus uang masuk besar-besaran selama mudik.

Yang harus dijaga adalah agar uang itu tidak cepat kembali tersedot ke pusat lewat produk massal yang minim nilai tambah bagi daerah. Penguatan UMKM lokal, pasar rakyat, sentra kuliner, dan rantai pasok berbasis produksi daerah menjadi syarat agar konsumsi musiman tidak berakhir sebagai pesta belanja tanpa dampak jangka panjang.

Pada saat yang sama, zakat, infak, dan sedekah juga perlu diarahkan lebih strategis. Tidak berhenti pada penghimpunan, tetapi diteruskan menjadi dukungan produktif pada masa transisi pasca-Lebaran.

Jika uang yang beredar saat Lebaran bisa tinggal lebih lama di daerah, memperkuat produksi lokal, dan menjaga daya beli kelompok rentan, maka Ramadan-nomics benar-benar menguatkan ekonomi rakyat Indonesia.

Tetapi jika yang tersisa hanyalah kelelahan belanja, tabungan yang menipis, dan usaha kecil yang kembali sepi, maka Ramadan-nomics tak lebih dari euforia musiman. Ramai saat Lebaran, tetapi rapuh setelahnya.

Pada akhirnya, setelah Lebaran, pertanyaan tentang Ramadan-nomics bukan lagi soal seberapa riuh pasar atau seberapa besar uang beredar, melainkan seberapa kuat ekonomi rakyat mampu bertahan. Di situlah ujian sesungguhnya.

Ramadan-nomics baru layak disebut berhasil jika ia tidak hanya memanaskan konsumsi sesaat, tetapi sungguh-sungguh menguatkan ekonomi rakyat Indonesia setelah hari raya usai.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arsenal Dilanda Badai Cedera Setelah Tumbang di Final Carabao Cup
• 9 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Menanti Debut John Herdman di Timnas dan Kembalinya Elkan Baggott di FIFA Series
• 2 jam lalurepublika.co.id
thumb
Rekayasa Lalu Lintas Contraflow Arah Jakarta Diterapkan di Tol Japek
• 21 jam lalumetrotvnews.com
thumb
4 Drakor Romantis-Komedi yang Gemas dan Bikin Baper, Bisa Nonton di Netflix
• 5 jam lalubeautynesia.id
thumb
20 Juta Pengguna, Indonesia Masuk Top 10 Pasar Kripto Global
• 20 jam lalutvonenews.com
Berhasil disimpan.