Harga emas dunia anjlok di tengah situasi konflik geopolitik antara Amerika Serikat (AS) - Israel dengan Iran. Pada Selasa (24/3) pagi, harga emas di pasar spot turun 1,6% menjadi US$ 4.335,18/troy ons.
Melansir CNN Internasional, harga emas turun 11% sepekan terakhir. Penurunan ini merupakan kerugian mingguan terbesar sejak 1983. Sejak perang dimulai, harga emas runtuh lebih dari 14%.
Dalam situasi penuh gejolak, investor biasanya memboyong emas dengan harapan jika inflasi melonjak, mata uang jatuh, atau terjadi krisis, harga emas akan tetap terjaga.
Namun, harga minyak dunia yang melonjak akibat perang, mengakibatkan bank sentral di seluruh dunia mempertimbangkan kembali suku bunga prospek. Hal ini sangat berpengaruh bagi emas.
Oleh karena itu, perang memicu penguatan dolar dan mendorong investor untuk melepaskan kepemilikan emas mereka.
Para pelaku pasar berpikir bank sentral Amerika Serikat, The Fed akan mempertahankan suku bunga acuan pada 2026, sehingga meningkatkan daya tarik investasi yang menghasilkan imbal hasil tinggi seperti obligasi, dan mengurangi daya tarik emas.
The Fed baru saja mempertahankan suku bunga acuan untuk pertemuan kedua berturut-turut. CME FedWatch menilai, para pedagang berspekulasi tidak akan ada penurunan suku bunga lebih lanjut tahun ini.
Harga emas sempat melonjak beberapa waktu lalu ketika The Fed memangkas suku bunga tiga kali berturut-turut. Untuk beberapa bulan ke depan, suku bunga The Fed diperkirakan tetap stabil, yang meningkatkan peluang biaya untuk memegang emas.
“Saya rasa dalam penurunan harga emas baru-baru ini, imbal hasil yang lebih tinggi memainkan peran besar,” kata ahli strategi ekonomi Fundstrat, Hardika Singh, dilansir dari CNN Internasional, Selasa (24/3).
Di sisi lain, bank sentral di seluruh dunia juga mengubah kebijakan suku bunga mereka menimbulkan perang yang berdampak pada gangguan harga energi.
Munculnya kekhawatiran inflasi mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga acuan, ataupun menaikkannya seperti yang dilakukan oleh Reserve Bank of Australia.
Hal senada disampaikan oleh Kepala makro global Tastylive Ilya Spivak mengatakan hal serupa. Ia menyebut, turunnya harga emas disebabkan kenaikan suku bunga.
"Bank sentral global akan menjadi lebih agresi, yang telah mendorong harga emas turun," kata Ilya Spivak, dikutip dari Reuters, Selasa (24/3).




