Bisnis.com, YOGYAKARTA – Kawasan Pathuk di wilayah Ngampilan, Kota Yogyakarta, menjadi cerminan resiliensi produsen bakpia rumahan untuk dapat bertahan hidup di tengah dominasi merek besar di pasaran.
Jalan Karel Sesuit Tubun, Kota Yogyakarta menjadi saksi daya tahan bakpia rumahan khas Kota Pelajar itu. Berbekal dapur produksi seadanya, bakpia rumahan nyatanya tidak dapat diremehkan di tengah himpitan nama besar.
Bakpia Pathok 17 adalah salah satu pemain lama yang masih eksis di industri ini. Sang pemilik, Warti, tercatat telah menjaga konsistensi operasional produksinya selama 28 tahun belakangan.
Berdiri sejak 1998, Warti hanya mempekerjakan keluarganya dalam proses produksi bakpia. Hanya terdapat 6 pekerja termasuk Warti yang menjadi benteng terakhir Bakpia Pathok 17.
"Dijalani aja, rejeki masing-masing. Getok tular gitu, lho," katanya saat ditemui Bisnis di lokasi, Minggu (22/3/2026).
Meskipun begitu, pendapatan hariannya tidak dapat diremehkan. Walaupun penjualannya jauh dibandingkan merek besar, Bakpia Pathok 17 telah mengantongi pelanggan setia yang menyerap produk mereka.
Dibanderol seharga Rp23.000 per kotak, Bakpia Pathok 17 mencatatkan produksi sebanyak 180 kotak bakpia setiap harinya. Kota Solo menjadi salah satu target penjualannya saat merek besar menguasai pasar Yogyakarta. Namun, Bakpia Pathok 17 juga menerima pembelian langsung di tempat.
Selama periode libur nasional, seperti Lebaran, produksinya bahkan dapat membengkak hingga 300 kotak per harinya.
Di tengah dominasi merek besar, Warti mengaku tidak banyak memiliki siasat. Salah satu alasannya adalah terbatasnya kapasitas produksi mereka, baik berupa mesin maupun tenaga kerja.
Alhasil, penjualan Bakpia Pathok 17 hanya menggunakan metode mulut ke mulut atau getok tular. Artinya, Warti berharap produknya kian dikenal pembeli melalui informasi dari pembeli lainnya.
"Kami cukup jualan di sini aja, paling cuma di Godean. Enggak banyak tenaga juga," katanya.
Metode serupa juga diterapkan oleh Bakpia Pathok 256. Produsen bakpia rumahan yang telah memulai produksinya selama lebih dari 30 tahun ini, juga mengandalkan getok tular sebagai upaya penjualannya.
Wasiyati, pemilik merek ini, mengaku bahwa penjualannya lebih sering terbantu oleh konsumen-konsumen lamanya. Tidak hanya itu, sejumlah rekan dan teman-teman sang anak, disebut kerap mendorong pendapatan yang lebih tinggi.
Wasiyati bercerita, reseller produknya turut datang dari sejumlah wilayah di Yogyakarta, seperti Stasiun Lempuyangan hingga Jalan Solo. Para reseller ini yang mendorong pendapatan lebih tinggi bagi Wasiyati.
"Satu mungkin juga dari mulut ke mulut, langganan yang lama, juga dari teman-teman anak saya, yang orang tuanya mungkin aslinya bukan orang sini terus ke sini mungkin pas liburan," katanya saat ditemui Bisnis, Minggu (22/3/2026).
Meskipun begitu, penjualannya tidak tanggung-tanggung. Per hari biasa, produksi Bakpia Pathok 256 dapat mencapai 15–20 kotak. Angka itu belum termasuk 150–200 kotak setiap harinya pada weekend untuk para resellernya.
Terlebih pada periode libur Lebaran. Penjualannya kerap kali mencatatkan lonjakan yang signifikan. Hanya saja, kondisinya cukup berbeda saat ini.
Pada 2023 misalnya, Wasiyati dapat membukukan penjualan sekitar Rp8–Rp20 juta selama 2 pekan jelang Lebaran. Angka itu mencatatkan penurunan pada Lebaran tahun selanjutnya, seperti pada 2025 yang membukukan pendapatan senilai Rp10 juta. Namun, semua realisasi itu berusaha disyukuri Wasiyati.
"Ya mungkin karena situasi atau mungkin sekarang juga banyak pesaing yang bisa online itu masuk di TikTok itu," katanya.
Wasiyati tampak sedikit pasrah dengan persaingan di media sosial sebagai kanal penjualan. Pasalnya, dia tidak terlahir dari generasi yang telah akrab dengan media sosial. Sementara sang anak, masih enggan melanjutkan bisnis keluarganya.
Wasiyati tampak terkepung dari berbagai arah. Dominasi merek besar dan persaingan merebut pelanggan di pasar daring, membuatnya hanya dapat mengupayakan racikan produk yang terbaik untuk dapat bersaing di pasaran secara sehat.
"Karena saya juga istilahnya buta gadget, juga anak saya masih fokus di pekerjaannya di luar," tutupnya.





