London (ANTARA) - Harga energi Eropa berfluktuasi tajam pada Senin (23/3), dengan pasar minyak dan gas mengalami perubahan arah beberapa kali akibat sinyal yang terus berubah-ubah dari Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang dengan cepat memengaruhi ekspektasi investor dan merembet ke pasar ekuitas.
Pada awal perdagangan (trading), harga minyak mentah Brent naik melampaui 113 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.990) per barel, memperpanjang total kenaikan menjadi sekitar 50 persen sejak konflik dimulai. Hal ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama bagi pengiriman minyak global.
Harga minyak kemudian anjlok tajam usai Presiden AS Donald Trump menyatakan telah melangsungkan pembicaraan yang "sangat baik dan produktif" dengan Iran, serta memerintahkan penundaan lima hari atas rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Harga minyak mentah Brent merosot lebih dari 10 persen hingga di bawah 100 dolar AS per barel. Penurunan tersebut ternyata tidak berlangsung lama.
Setelah Iran membantah adanya negosiasi dan memperingatkan akan melakukan pembalasan terhadap fasilitas energi regional, harga minyak mengalami rebound ke kisaran 105 dolar AS per barel sebelum turun lagi mendekati 101 dolar AS pada sesi trading sore.
Harga gas Eropa menunjukkan pola volatilitas yang serupa. Kontrak berjangka Dutch TTF yang menjadi acuan naik melampaui 63 euro (1 euro = Rp19.411) atau setara 73 dolar AS per megawatt-jam pada awal trading.
Setelah pernyataan Trump, harga turun ke kisaran 54 euro (62 dolar AS), sebelum naik lagi ke sekitar 59 euro (68 dolar AS) usai respons Iran. Harga kemudian turun lagi ke angka sekitar 55 euro (63 dolar AS) pada sesi trading sore.
Fluktuasi tajam di pasar energi berdampak langsung pada ekuitas. Indeks FTSE 100 Inggris sempat merosot lebih dari 1,8 persen, sementara indeks DAX Jerman turun di atas 2 persen pada awal trading.
Namun, saat harga energi mereda, penurunan tersebut mulai berkurang dan sentimen pasar membaik, dengan FTSE 100 naik sekitar 0,6 persen dan DAX menguat sekitar 2,4 persen pada sesi trading sore.
Para analis menilai volatilitas hari itu menunjukkan seberapa besar pengaruh perkembangan geopolitik terhadap harga energi dan pasar keuangan. Perubahan cepat dalam ekspektasi terkait risiko pasokan dan prospek diplomatik terus memicu fluktuasi harga yang tajam.
Ke depan, tren harga akan sangat bergantung pada apakah upaya diplomatik mampu meredakan ketegangan dan memulihkan stabilitas di rute-rute utama pasokan energi.
Pada awal perdagangan (trading), harga minyak mentah Brent naik melampaui 113 dolar AS (1 dolar AS = Rp16.990) per barel, memperpanjang total kenaikan menjadi sekitar 50 persen sejak konflik dimulai. Hal ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran akan potensi gangguan pasokan melalui Selat Hormuz, yang merupakan jalur utama bagi pengiriman minyak global.
Harga minyak kemudian anjlok tajam usai Presiden AS Donald Trump menyatakan telah melangsungkan pembicaraan yang "sangat baik dan produktif" dengan Iran, serta memerintahkan penundaan lima hari atas rencana serangan terhadap infrastruktur energi Iran.
Harga minyak mentah Brent merosot lebih dari 10 persen hingga di bawah 100 dolar AS per barel. Penurunan tersebut ternyata tidak berlangsung lama.
Setelah Iran membantah adanya negosiasi dan memperingatkan akan melakukan pembalasan terhadap fasilitas energi regional, harga minyak mengalami rebound ke kisaran 105 dolar AS per barel sebelum turun lagi mendekati 101 dolar AS pada sesi trading sore.
Harga gas Eropa menunjukkan pola volatilitas yang serupa. Kontrak berjangka Dutch TTF yang menjadi acuan naik melampaui 63 euro (1 euro = Rp19.411) atau setara 73 dolar AS per megawatt-jam pada awal trading.
Setelah pernyataan Trump, harga turun ke kisaran 54 euro (62 dolar AS), sebelum naik lagi ke sekitar 59 euro (68 dolar AS) usai respons Iran. Harga kemudian turun lagi ke angka sekitar 55 euro (63 dolar AS) pada sesi trading sore.
Fluktuasi tajam di pasar energi berdampak langsung pada ekuitas. Indeks FTSE 100 Inggris sempat merosot lebih dari 1,8 persen, sementara indeks DAX Jerman turun di atas 2 persen pada awal trading.
Namun, saat harga energi mereda, penurunan tersebut mulai berkurang dan sentimen pasar membaik, dengan FTSE 100 naik sekitar 0,6 persen dan DAX menguat sekitar 2,4 persen pada sesi trading sore.
Para analis menilai volatilitas hari itu menunjukkan seberapa besar pengaruh perkembangan geopolitik terhadap harga energi dan pasar keuangan. Perubahan cepat dalam ekspektasi terkait risiko pasokan dan prospek diplomatik terus memicu fluktuasi harga yang tajam.
Ke depan, tren harga akan sangat bergantung pada apakah upaya diplomatik mampu meredakan ketegangan dan memulihkan stabilitas di rute-rute utama pasokan energi.




