KRISIS energi akibat eskalasi perang di Timur Tengah mulai memukul negara-negara importir besar di Asia. Presiden Korea Selatan (Korsel), Lee Jae Myung menyerukan kampanye hemat energi nasional di tengah risiko gangguan pasokan minyak dan gas akibat perang Iran.
Lee menegaskan institusi publik akan memangkas penggunaan mobil penumpang demi menekan konsumsi bahan bakar.
Menteri Energi Korsel, Kim Sung-whan menjelaskan pembatasan kendaraan sektor swasta saat itu masih bersifat sukarela, namun tidak menutup kemungkinan menjadi wajib jika level waspada energi meningkat.
Baca juga : Ruang Udara Timur Tengah Ditutup, 64 Penerbangan Batal di Bandara Ngurah Rai
Pemerintah Seoul meminta masyarakat mengadopsi 12 praktik penghematan, termasuk memperpendek waktu mandi, mengisi daya ponsel dan kendaraan listrik pada siang hari, serta menggunakan mesin cuci hanya pada akhir pekan.
"Saat ini, yang paling penting bukanlah menyelamatkan keuangan pemerintah, melainkan mengerahkan dana secara cepat dan efektif di tempat yang paling membutuhkan," ujar Lee dikutip dari the Star.
Sebagai langkah jangka panjang, Korea Selatan akan mengoperasikan kembali lima reaktor nuklir pada Mei mendatang dan melonggarkan pembatasan pada pembangkit listrik tenaga batubara.
Baca juga : Krisis Selat Hormuz, Starmer dan Trump Desak Pembukaan Jalur Energi Dunia
Penyesuaian bauran energi itu diharapkan mampu menghemat hingga 20 persen dari rata-rata konsumsi harian gas alam cair (LNG) nasional.
Kondisi itu dipicu oleh serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran dan pembalasan Teheran yang melumpuhkan lalu lintas tangker di Selat Hormuz.
Jalur tersebut sangat krusial karena menyumbang 70 persen impor minyak mentah Korea Selatan. Meski memiliki cadangan 190 juta barel, para analis memperkirakan stok tersebut mungkin tidak akan bertahan lebih dari dua bulan jika konsumsi harian mencapai 2,9 juta barel.
Di belahan Asia lainnya, Perdana Menteri India Narendra Modi turut memperingatkan bahwa konflik Iran menciptakan tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya bagi ekonomi besar dengan pertumbuhan tercepat di dunia tersebut. Kendati demikian, Modi memastikan pasokan energi domestik saat ini masih mencukupi.
"Upaya pemerintah kami adalah memastikan bahwa pasokan bensin, solar, dan gas tidak terganggu secara berlebihan, dan agar keluarga biasa di negara ini menghadapi sesedikit mungkin kesulitan," kata Modi.
Perang yang pecah sejak 28 Februari tersebut telah mengacaukan pasar energi global dan menghentikan aliran minyak mentah serta LNG. India, yang merupakan importir utama energi dari kawasan tersebut, mulai merasakan dampak pada berbagai sektor industri mulai dari pabrik keramik hingga produsen pupuk.
Modi menegaskan bahwa serangan terhadap pelayaran komersial dan penutupan Selat Hormuz tidak dapat diterima. Saat ini, India tengah berupaya memastikan transit yang aman bagi kapal-kapal India yang terdampar di Timur Tengah.
Cadangan devisa yang kuat dan fundamental ekonomi yang kokoh diyakini akan membantu India meredam guncangan eksternal dan volatilitas pasar global. (H-4)





