Rupiah Diproyeksi Melemah ke Rp 17.050, Sentimen Global Jadi Penentu

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Pengamat Pasar Modal Ibrahim Assuabi memproyeksikan nilai tukar rupiah berpotensi kembali melemah dalam beberapa hari ke depan. Seiring meningkatnya ketidakpastian global akibat perang antara AS-Israel dengan Iran.

Menurut Ibrahim, penguatan rupiah yang terjadi belakangan ini bukan disebabkan oleh intervensi Bank Indonesia (BI), melainkan dipicu oleh sentimen global. Terutama terkait perkembangan terbaru antara AS dan Iran.

"Bukan karena BI melakukan intervensi. Karena tadinya Trump ini, kan, mau menyerang instalasi listrik nuklir untuk energi itu di Iran," ujarnya kepada kumparan, Selasa (24/3).

Ia menjelaskan, keputusan Presiden AS Donald Trump untuk menunda serangan dan membuka ruang negosiasi sementara membuat pasar sedikit lebih tenang. Selain itu, kabar terkait upaya pembukaan jalur Selat Hormuz juga turut menekan harga minyak, yang berdampak pada penguatan sejumlah mata uang, termasuk rupiah.

Namun, kondisi tersebut dinilai tidak akan bertahan lama. Ibrahim menyoroti pernyataan terbaru dari pemerintah Iran yang membantah adanya negosiasi dengan AS, sehingga berpotensi kembali memicu gejolak pasar.

"Sehingga dalam transaksi besok Rabu (25/3) pembukaan pasar di Indonesia, kemungkinan rupiah melemah," ujarnya.

Ia memperkirakan pelemahan rupiah bisa mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat.

"Kemungkinan melemah, ya, kemungkinan besar mendekati level-level Rp 17.000-an,” ungkapnya.

Ia bahkan memproyeksikan rupiah dapat bergerak ke kisaran Rp 17.050 dalam beberapa hari perdagangan ke depan. Mengutip Bloomberg pukul 14.14 WIB, nilai tukar rupiah menguat 114 poin atau 0,67 persen menjadi Rp 16.882 per dolar AS.

"Kemungkinan dalam transaksi mungkin di hari Rabu, Kamis, Jumat, kemungkinan melemah, mungkin, akan mendekati level Rp 17.050-an,” kata dia.

Ibrahim juga menegaskan penguatan rupiah saat ini terjadi di tengah libur pasar domestik. Sehingga tidak ada intervensi aktif dari Bank Indonesia.

Di sisi lain, Ibrahim menyebut kebijakan BI yang membatasi transaksi dolar merupakan bagian dari strategi untuk menahan pelemahan rupiah agar tidak terlalu dalam.

Ia menambahkan, besaran intervensi BI baru akan terlihat dari data cadangan devisa yang dirilis setiap awal bulan. Dari data tersebut, pasar dapat mengukur seberapa besar dana yang digunakan bank sentral untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Ke depan, ia menilai tekanan terhadap rupiah masih akan berlanjut, terutama jika konflik di Timur Tengah belum mereda dan jalur distribusi energi global tetap terganggu.

"Karena pasar sudah dibuka, kemudian perang di Timur Tengah terus berjalan, Selat Hormuz rupanya masih ditutup, ya, kemudian pemerintahan Iran mengatakan bahwa tidak pernah ada negosiasi antara Amerika dengan Iran, itu yang akan membuat rupiah kembali lagi mengalami pelemahan,” tegasnya.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Resmi! 5 Soal TKA Matematika SMP 2026 dari Kemendikdasmen, Cek di Sini
• 4 jam lalumedcom.id
thumb
Hemat Energi Mulai dari Rumah! Ini 7 Cara Praktis yang Bisa Kamu Lakukan
• 2 jam lalumedcom.id
thumb
Antisipasi Arus Balik Lebaran 2026, One Way Nasional Akan Diberlakukan Besok
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Arsenal Dipermalukan! Guardiola Ungkap Momen Tak Masuk Akal di Babak Kedua Final Piala Liga Inggris
• 20 jam lalutvonenews.com
thumb
Arus Balik Lebaran di Pelabuhan Bakauheni Mulai Meningkat
• 20 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.