Pemerintah Filipina membuka kemungkinan penghentian operasional pesawat (grounded) akibat kekurangan bahan bakar avtur yang dipicu perang antara Israel-Amerika Serikat dengan Iran.
Presiden Ferdinand Marcos Jr. mengatakan, risiko tersebut cukup nyata seiring terganggunya pasokan bahan bakar bagi maskapai nasional.
“Beberapa negara sudah memberi tahu maskapai kami bahwa mereka tidak bisa mengisi bahan bakar pesawat. Jadi, pesawat harus membawa sendiri bahan bakar untuk perjalanan pergi-pulang,” ujar Marcos dalam wawancara dengan Bloomberg News, Selasa (24/3).
Marcos mengatakan kondisi ini akan semakin menjadi masalah serius, terutama untuk penerbangan jarak jauh. Saat ditanya apakah pesawat berpotensi benar-benar dihentikan operasinya, dia menegaskan pemerintah berharap hal itu tidak terjadi, namun risikonya tetap ada.
“Kami berharap tidak, tapi itu sangat mungkin terjadi,” ujarnya.
Filipina menjadi salah satu negara yang paling rentan terhadap perang karena sangat bergantung pada impor minyak mentah, terutama dari kawasan Timur Tengah. Ketergantungan ini membuat negara tersebut lebih mudah terdampak kekurangan pasokan energi dan kenaikan harga bahan bakar domestik.
Salah satu maskapai yang terdampak adalah Cebu Air. Maskapai berbiaya rendah ini mengumumkan rencana pengurangan jumlah penerbangan mulai bulan depan akibat lonjakan harga bahan bakar.
Di kawasan Asia lainnya, sejumlah maskapai juga melakukan penyesuaian. Vietnam Airlines menghentikan sementara beberapa rute domestik, sementara VietJet Aviation mengurangi frekuensi penerbangan. Bamboo Airways juga mengisyaratkan kemungkinan pengurangan layanan jika harga minyak tetap tinggi.
Meski demikian, pemerintah Filipina memastikan pasokan bahan bakar untuk saat ini masih dalam kondisi aman. Menteri Energi Sharon Garin mengatakan pihaknya telah bertemu dengan maskapai dan mendapat kepastian bahwa kebutuhan avtur masih tercukupi.
“Kami bertemu untuk memastikan apakah mereka butuh bantuan pengadaan, tapi mereka bilang masih aman,” kata Garin.





