Dampak perang antara Israel-Amerika Serikat dan Iran semakin meluas, termasuk ke industri penerbangan di Asia. Vietnam Airlines salah satunya yang berencana memangkas sejumlah rute domestik akibat ancaman kekurangan avtur.
Otoritas penerbangan sipil Vietnam atau Civil Aviation Authority of Vietnam (CAAV) menyatakan, mulai 1 April, Vietnam Airlines akan menghentikan tujuh rute domestik. Mereka juga membatalkan sekitar 23 penerbangan per pekan.
Dikutip dari Reuters, Selasa (24/3), langkah ini diambil Vietnam Airlines untuk menghemat konsumsi avtur yang kian terbatas, apalagi sebagian besar bahan bakar pesawat mereka bergantung pada impor.
CAAV menjelaskan, Vietnam Airlines akan memprioritaskan rute-rute yang dinilai krusial bagi konektivitas nasional, perdagangan, pariwisata, diplomasi, dan mobilitas dalam negeri.
Rute yang terdampak penghentian dan pengurangan frekuensi penerbangan antara lain dari Hai Phong ke Buon Ma Thuot, Cam Ranh, Phu Quoc, dan Can Tho. Lalu dari Ho Chi Minh City ke Van Don, Rach Gia, dan Dien Bien
Sebelumnya CAAV juga telah memperingatkan potensi pengurangan penerbangan mulai April setelah China dan Thailand menghentikan ekspor avtur akibat konflik di Iran, yang meningkatkan risiko kelangkaan.
Selain itu, maskapai-maskapai Vietnam tengah bersiap menerapkan biaya tambahan bahan bakar (fuel surcharge) untuk rute internasional mulai awal April. Hingga kini, Vietnam Airlines belum memberikan tanggapan resmi terkait kebijakan tersebut.
Maskapai Filipina, Cebu Airlines, juga berencana mengurangi jumlah penerbangan mulai bulan depan akibat lonjakan harga bahan bakar. Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. bahkan mewaspadai potensi lumpuhnya penerbangan Filipina karena krisis avtur, terutama untuk rute jarak jauh karena sejumlah negara menolak mengisi avtur untuk pesawat dari Filipina demi menjaga pasokan bahan bakar.
“Beberapa negara sudah memberi tahu maskapai kami bahwa mereka tidak bisa mengisi bahan bakar pesawat. Jadi, pesawat harus membawa sendiri bahan bakar untuk perjalanan pergi-pulang,” ujar Marcos dalam wawancara dengan Bloomberg News, Selasa (24/3).





