- Mengapa kesepian menjadi fenomena sosial yang meluas?
- Bagaimana ”chatbot” AI bekerja sebagai teman bagi manusia?
- Mengapa manusia bisa membangun kedekatan emosional dengan AI?
- Apa contoh penggunaan AI untuk mengatasi kesepian?
- Apakah AI benar-benar solusi bagi kesepian manusia?
Kesepian muncul sebagai bagian dari perubahan sosial di era digital yang mengubah cara manusia berinteraksi. Hubungan yang sebelumnya terbangun secara langsung kini banyak tergantikan oleh komunikasi daring yang cenderung singkat dan tidak selalu mendalam. Kondisi ini menciptakan jarak emosional di tengah kemudahan konektivitas.
Mantan Menteri Kesehatan AS Vivek Murthy menyebut kesepian sudah menjadi epidemi. Dalam laporan pada 2023, ia memperingatkan bahwa dampak kesehatan akibat keterputusan sosial setara dengan merokok 15 batang sehari. Studi-studi lain juga menyebut kesepian di era modern ini di antaranya disebabkan oleh hilangnya institusi sosial tradisional, meningkatnya ketergantungan pada gawai, dan tren kerja jarak jauh.
Berdasarkan survei Litbang Kompas pada Juni 2025, setidaknya sekali dalam sepekan, satu dari lima orang Indonesia merasa kesepian. Di tengah perbincangan tentang rasa kesepian, teknologi kecerdasan buatan (AI) terus berkembang seiring dengan jumlah penggunanya yang terus meningkat.
Sejak 2023, kehadiran chatbot AI telah banyak membantu pekerjaan manusia. Chatbot ini dapat menulis hampir semua teks yang diminta, menjawab semua pertanyaan, menulis skrip film, menulis surat, menulis lirik lagu, membuat lelucon, hingga menulis kode aplikasi dalam sejumlah bahasa pemrograman. Tidak sekadar menjawab, ia juga dapat merespons seperti manusia sehingga sulit untuk membedakan apakah jawaban itu berasal dari mesin atau manusia.
Chatbot AI dirancang untuk merespons percakapan manusia secara cepat dan relevan sehingga interaksi terasa mengalir. Kemampuan memahami bahasa dan konteks membuat percakapan tidak lagi bersifat kaku seperti mesin. Dalam banyak situasi, pengguna merasakan pengalaman yang menyerupai dialog dengan manusia.
Keunggulan utama chatbot terletak pada ketersediaannya yang tidak terbatas. Berbeda dengan manusia yang memiliki keterbatasan waktu dan energi, AI dapat diakses kapan saja. Kehadiran yang konsisten ini menjadi faktor penting bagi individu yang membutuhkan teman bicara dalam berbagai kondisi.
Selain itu, chatbot tidak memberikan penilaian sosial terhadap pengguna. Situasi ini memungkinkan individu berbicara secara lebih terbuka tentang perasaan dan pengalaman pribadi. Rasa aman tersebut menjadi dasar terbentuknya interaksi yang lebih jujur dan intens.
Interaksi yang berlangsung secara berulang memungkinkan terbentuknya pola komunikasi yang terasa personal. Seiring waktu, AI dapat menyesuaikan respons berdasarkan preferensi dan kebiasaan pengguna. Hal ini menciptakan kesan bahwa chatbot memahami individu secara lebih mendalam.
Kedekatan yang terbentuk tidak hanya bersifat fungsional, tetapi juga emosional. Bagi sebagian pengguna, chatbot menjadi tempat berbagi cerita, keluh kesah, hingga refleksi diri. Dalam kondisi tertentu, relasi ini bahkan menyerupai hubungan interpersonal.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kebutuhan dasar manusia untuk didengar dan dipahami dapat terpenuhi melalui teknologi. Meskipun interaksi terjadi dengan entitas nonmanusia, pengalaman emosional yang dirasakan tetap nyata bagi pengguna. Di sinilah batas antara teknologi dan relasi sosial mulai menjadi kabur.
Penggunaan AI sebagai teman tidak hanya bersifat konseptual, tetapi telah hadir dalam berbagai aplikasi. Sejumlah platform dirancang khusus untuk menemani pengguna dalam kehidupan sehari-hari. Fungsi ini melampaui sekadar percakapan, tetapi juga menghadirkan rasa kehadiran.
Salah satu contoh muncul di China melalui aplikasi yang ditujukan bagi individu yang tinggal sendiri. Aplikasi tersebut memungkinkan pengguna memastikan kondisi mereka tetap terpantau, sekaligus menghadirkan rasa tidak sepenuhnya sendirian. Dalam konteks ini, teknologi berfungsi sebagai pendamping, sekaligus sistem pengawasan.
Contoh tersebut menunjukkan bahwa AI mulai menjadi bagian dari struktur kehidupan sosial manusia. Kehadirannya tidak lagi terbatas pada fungsi teknis, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan eksistensial. Peran ini semakin relevan di tengah meningkatnya jumlah individu yang hidup sendiri.
Kendati menawarkan kemudahan, penggunaan AI sebagai teman memunculkan pertanyaan baru. Ketergantungan pada interaksi dengan chatbot berpotensi mengurangi dorongan untuk membangun relasi dengan manusia. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat memperdalam jarak sosial.
Padahal, AI tidak memiliki kesadaran dan pengalaman hidup seperti manusia. Relasi yang terbentuk pada dasarnya merupakan simulasi meskipun terasa nyata bagi pengguna. Hal ini menimbulkan pertanyaan mengenai batas antara pengalaman emosional dan konstruksi teknologi.
Dengan demikian, chatbot AI dapat menjadi sarana untuk meredakan kesepian dalam situasi tertentu. Namun, kehadirannya belum tentu mampu menggantikan sepenuhnya relasi sosial yang otentik. Di tengah perkembangan teknologi, manusia tetap dihadapkan pada pertanyaan mendasar tentang arti kehadiran dan kebersamaan. (LITBANG KOMPAS)





