Industri Pelayaran RI Terbebani Dampak Perang Iran: BBM Mahal dan Rupiah Melemah

kumparan.com
3 jam lalu
Cover Berita

Indonesian National Shipowners Association (INSA) atau Persatuan Pengusaha Pelayaran Niaga Nasional Indonesia mengatakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) hingga pelemahan kurs rupiah tengah membebani biaya operasional perusahaan pelayaran Indonesia.

Ketua Umum DPP INSA, Carmelita Hartoto, mengatakan jalur logistik pelayaran Indonesia belum terkena disrupsi besar akibat konflik yang memanas di sekitar Selat Hormuz, sebab rute perdagangan umumnya tidak secara langsung terdampak wilayah perang di Iran. Namun dampak tidak langsung sudah mulai terasa terutama dari kenaikan harga energi global yang mendorong peningkatan biaya produksi global dan nasional, terutama pada industri yang masih tergantung pada bahan baku impor seperti manufaktur, petrokimia dan logam dasar.

"Ini dipicu oleh kenaikan biaya transportasi global, yang terdampak oleh kenaikan biaya bahan bakar dan asuransi," ungkap Carmelita kepada kumparan, Selasa (24/3).

Menurutnya industri pelayaran nasional juga masih menahan diri menghadapi tantangan kenaikan harga bakar nasional yang diupayakan untuk ditekan, serta pelemahan nilai tukar rupiah. Kendati begitu, para pengusaha telah menyiapkan serangkaian strategi dan mitigasi risiko, sehingga kondisi bisnis secara umum masih dalam kondisi aman.

"Meski demikian, kondisi bisnis pelayaran nasional masih relatif stabil. Saat ini, pelaku usaha fokus pada efisiensi dan mitigasi risiko, sambil terus mencermati perkembangan geopolitik ke depan," jelas Carmelita.

Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump memberi ultimatum kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz dalam 48 jam atau menghadapi serangan. Situasi ini membuat investor global cemas dan mendorong lonjakan imbal hasil obligasi AS ke level tertinggi dalam delapan bulan.

Di sisi lain, data yang dikumpulkan oleh Bloomberg News memperlihatkan kapal 'zombie' kembali melintasi Selat Hormuz. Kapal yang diduga memakai identitas kapal Nabiin yang dibuat pada 2002 itu telah dikirim ke tempat pembongkaran di Bangladesh 5 tahun yang lalu.

Ini merupakan kejadian kedua munculnya kapal 'zombie' di Selat Hormuz setelah penampakan kapal Jamal yang berkedok membawa gas alam cair. Kapal Jamal terdokumentasi berada di tempat pembongkaran di India tahun lalu.

Kemunculan kapan Nabiin dan Jamal menunjukkan sejauh mana para pemilik kapal berusaha untuk mengirim kargo melewati Selat Hormuz, yang secara efektif ditutup sejak AS-Israel menyerang Iran. Trump memberikan tenggat waktu 2 hari kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz, mengancam akan menyerang pembangkit listrik jika Selat Hormuz tak kunjung dibuka. Iran menyatakan akan menutup sepenuhnya Selat Hormuz jika serangan terjadi.

Sejauh ini, beberapa kapal yang dapat melintasi Selat Hormuz tampaknya terkait dengan Iran, atau tampaknya mendapat izin dari Iran untuk melintas. Kapal lainnya mematikan sinyal geolokasi untuk menghindari pelacakan.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sempat Bilang Bukan karena Sakit, KPK Kini Nyatakan Yaqut Tahanan Rumah karena Mengidap Gerd dan Asma
• 6 jam lalurealita.co
thumb
Angelina Jolie Bagikan Surat Menyentuh dari Gaza, Soroti Penderitaan Warga
• 40 menit lalutabloidbintang.com
thumb
LRT Jabodebek Catat Lonjakan Penumpang Libur Lebaran
• 14 jam lalutvrinews.com
thumb
Update Arus Balik: Sejumlah Ruas Tol Arah Jakarta Ramai Lancar Siang Ini
• 9 jam lalukumparan.com
thumb
DPRD Kota Bekasi Dorong Realisasi Lahan Pemakaman Baru
• 14 jam laludisway.id
Berhasil disimpan.