Perang Iran vs Amerika dan Israel Disebut Jadi Momentum Persatuan Umat Islam

terkini.id
1 jam lalu
Cover Berita

Opini – Konflik geopolitik di Timur Tengah yang melibatkan Iran, Israel, dan Amerika Serikat dinilai bukan sekadar perang antarnegara, tetapi menjadi momentum penting bagi persatuan umat Islam di dunia.

Pandangan ini disampaikan oleh Shamsi Al-Kajangi Al-Nuyorki dalam tulisannya yang menyoroti situasi politik Timur Tengah, Palestina, hingga posisi dunia Islam.

Dalam tulisannya, ia mengaku sempat bersikap apatis terhadap konflik Timur Tengah, terutama karena sikap sebagian pemimpin dunia Islam yang dinilai tidak menunjukkan langkah nyata dalam menyelesaikan konflik Palestina dan Gaza.

Ia juga menyinggung pembentukan Dewan Perdamaian atau Board of Peace yang disebut sebagai solusi konflik Gaza dan Palestina, namun dinilai tidak memberikan dampak nyata terhadap kondisi di lapangan.

“Kekerasan terus berlangsung, tidak saja di Gaza, tapi di seluruh bumi Palestina. Bahkan Masjid Al-Aqsa ditutup selama Ramadan, sementara dunia Islam tak mampu berbuat apa-apa,” tulisnya.

Serangan Iran, Israel dan Kepentingan Geopolitik
Penulis menilai serangan Israel terhadap Iran yang didukung Amerika Serikat bukan semata-mata karena isu senjata nuklir, melainkan berkaitan dengan kepentingan geopolitik, energi, dan pengaruh di Timur Tengah.

Menurutnya, konflik tersebut memiliki banyak tujuan, mulai dari melemahkan Iran, menguasai pengaruh kawasan, hingga mengalihkan perhatian dunia dari konflik Palestina dan Gaza.

Ia juga menyebut konflik tersebut berkaitan dengan ambisi ekspansi Israel dan konflik berkepanjangan di Palestina, termasuk isu Masjid Al-Aqsa dan Yerusalem.

Tulisan tersebut menekankan bahwa konflik di Timur Tengah tidak bisa dilihat sebagai konflik sederhana, tetapi terkait kepentingan global yang melibatkan banyak negara besar.

Momentum Persatuan Dunia Islam

Dalam opininya, Shamsi menilai konflik ini justru bisa menjadi momentum persatuan dunia Islam jika mampu melihat konflik secara lebih luas dan strategis.

Ia berpendapat bahwa kemerdekaan Palestina dan pembebasan Masjid Al-Aqsa tidak akan terwujud jika dunia Islam tidak bersatu dan hanya bergantung pada negara lain.

“Solusi bagi Palestina dan Masjid Al-Aqsa ada pada kemampuan umat membangun kesatuan dan menggunakan segala potensinya untuk melawan kezaliman,” tulisnya.

Ia juga mencontohkan bagaimana kekuatan ekonomi dan energi negara-negara Islam dapat mempengaruhi politik global jika digunakan secara bersama-sama.

Menurutnya, jika satu negara saja bisa mempengaruhi ekonomi global, maka dunia Islam secara kolektif akan memiliki kekuatan yang jauh lebih besar.

Dunia Islam Diminta Bersatu

Di akhir tulisannya, ia menegaskan bahwa konflik Timur Tengah seharusnya menjadi pelajaran penting bagi dunia Islam untuk memperkuat persatuan politik, ekonomi, dan energi.

Ia menilai persatuan umat menjadi kunci utama dalam menghadapi konflik global dan memperjuangkan Palestina serta Masjid Al-Aqsa.

“Jika dunia Islam mampu bersatu dan mensinergikan potensi yang ada, khususnya di bidang energi, saya yakin Amerika tidak akan semena-mena seperti saat ini,” tulisnya.

Tulisan opini tersebut menutup dengan penegasan bahwa persatuan umat merupakan kekuatan terbesar yang dimiliki dunia Islam dalam menghadapi konflik geopolitik global.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Puncak Arus Balik Jakarta Hari Ini, Jasa Marga Ungkap Volume Kendaraan Capai 4.000 Unit per Jam
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Mudik Lebaran 2026, Penumpang di Bandara Soetta Tembus 1,9 Juta dalam 10 Hari
• 2 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Kakorlantas: One Way Nasional Arus Balik Berjalan Efektif, Lalu Lintas Terkendali
• 2 jam laludetik.com
thumb
Kemenhub Imbau Pemudik Manfaatkan WFA untuk Hindari Puncak Arus Balik
• 22 jam laluliputan6.com
thumb
Arus Balik Lebaran, Contraflow Diberlakukan di Tol Japek
• 4 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.