Ikhtiar Menciptakan Peluang dan Memperkuat Komunitas

kompas.id
11 jam lalu
Cover Berita

Hampir setiap perusahaan memiliki program yang berdampak sosial terhadap masyarakat, terutama terkait dengan bidang bisnisnya. Salah satunya dilakukan PT Sari Coffee Indonesia atau Starbucks Indonesia yang berupaya memperluas dampak sosial di luar gerai.

Tak sekadar fokus pada cita rasa kopi, Starbucks melakukan pemberdayaan komunitas, mendorong kewirausahaan, pelatihan keterampilan, hingga inklusi ekonomi. Program seperti pelatihan bagi pelaku UMKM kopi menjadi bagian komitmen jangka panjang dalam memperkuat rantai nilai kopi nasional.

Bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, Usaha Kecil, dan Menengah (PPKUKM) dan Yayasan Inovasi Teknologi Indonesia (Inotek), Starbucks Indonesia meluncurkan Program Kelas UMKM: Growing and Upscaling (Kring) pada Senin (24/11/2025) di Jakarta Creative Hub. Program Kring ini kemudian diikuti dengan pendampingan usaha bagi pelaku UMKM kopi selama dua bulan.

Baca Juga”Kring” Membawa Pelaku UMKM Kopi Naik Kelas

Presiden Direktur PT Sari Coffee Indonesia Anthony McEvoy menegaskan, Starbucks Indonesia fokus menghubungkan orang-orang dan memperkuat komunitas yang telah dilayani selama 24 tahun. ”Seiring dengan momentum dari inisiatif-inisiatif inspiratif ini, bersama partner (karyawan), mitra nirlaba, dan komunitas lokal, kami berkomitmen untuk terus memberikan dampak positif bagi komunitas yang kami layani di seluruh Indonesia. Satu orang, satu cangkir, dan satu lingkungan sekitar pada satu waktu,” ujar Anthony, Senin (2/3/2026).

Anthony juga menegaskan komitmen Starbucks untuk menciptakan peluang dan memperkuat komunitas. ”Tujuan kami selalu melampaui sekadar mencari keuntungan semata, kami berfokus pada pemberdayaan manusia, mempromosikan keberlanjutan, dan menjadi jenis bisnis yang berbeda dan lebih baik. Kami berkomitmen pada keyakinan bahwa perusahaan dapat, dan seharusnya, melakukan kebaikan kapan pun dan di mana pun mereka bisa,” tambahnya.

Program Kring diharapkan bisa menjadi wadah bagi transformasi UMKM kopi Jakarta, agar tak sekadar bertahan di pasar lokal, tetapi juga tumbuh menjadi bagian penting dari ekosistem kopi nasional yang inklusif dan berdaya saing tinggi. Kelas Kring berlangsung dalam tiga gelombang dan melibatkan 102 pelaku usaha kopi di Jakarta. Setiap peserta menerima starter kit usaha berisi buku panduan, perlengkapan kebersihan dan keamanan pangan, serta kemasan ramah lingkungan.

Kring melibatkan Starbucks Indonesia dalam penyusunan materi dan pelatihan. Yayasan Inotek mendampingi peserta dan membantu mereka menerapkan digitalisasi dalam bisnis, mulai dari promosi hingga pencatatan transaksi. ”Program Kring merupakan program yang unik bagi kami. Ini bisa dibilang pertama kali karena membutuhkan pendekatan yang berbeda,” ujar General Manager Inotec Dewi Suryani.

Selama 18 tahun, Inotec telah menjadi inkubator bisnis atau mentor untuk pelaku usaha yang seluruhnya adalah pemilik brand. Namun, Program Kring tak hanya menyasar pemilik usaha karena sebagian pesertanya adalah reseller atau pedagang kopi keliling yang menjual bukan produk kreasi sendiri. Para pedagang kopi keliling ini mencari nafkah dengan berbasis kebutuhan survival, bukan growth mindset.

Pedagang kopi keliling sekaligus merupakan pemain di hilir paling bawah dari rantai nilai kopi dengan modal sangat terbatas dan arus kas harian. Pedagang kopi keliling biasanya tidak punya pencatatan keuangan, jualan terbatas baik secara waktu maupun rute, tak punya akses digital, dan hampir tidak ada kebutuhan untuk penjenamaan (branding).

”Artinya pendekatan inkubasi klasik yang kami lakukan selama ini seperti kurikulum kewirausahaan, business plan, branding, digital marketing dan lain sebagainya menjadi tidak relevan buat mereka,” tambah Dewi.

Materi aplikatif

Inotek kemudian melakukan penyesuaian kurikulum dengan memberikan materi aplikatif yang bisa langsung diterapkan. Pendekatan dilakukan secara personal ke setiap peserta dengan bahasa sederhana.

”Tantangannya bukan pada branding, melainkan harus lebih ke positioning penjualnya, kayak kecepatan layanan, konsistensi rasa, keramahan, dan lokasi yang tetap dan bersih. Jadi, mereka justru harus lebih unggul di service experience, bukan di product brand,” kata Dewi.

Menurut Dewi, materi pelatihan yang diberikan Starbucks menjadi relevan karena terkait dengan presentasi produk, pelayanan pelanggan, dan higienitas. ”Kita tahu brand sebesar itu pasti mereka punya standardisasi terhadap materi-materi untuk peningkatan kapasitas SDM mereka. Jadi, sudah pasti materinya terstandar dan pasti komprehensif. Kalau semua materi ini diberikan, kemudian diaplikasikan, pasti kualitas pelayanan jadi sangat lebih baik,” tambahnya.

Baca JugaStarbucks Berkolaborasi Memberdayakan UMKM Kopi Jalanan

Tolok ukur keberhasilan dari Program Kring antara lain dilihat dari perubahan perilaku. Lebih dari 80 persen peserta melaporkan adanya peningkatan kepercayaan diri dalam berinteraksi dengan pelanggan. Mereka juga mulai berani menunjukkan inisiatif untuk menawarkan produk sesuai kebutuhan si pelanggan yang mencerminkan peningkatan kemampuan komunikasi dan pemahaman terhadap referensi pelanggan.

Dari sisi praktik higienitas, lebih dari 80 persen peserta sudah membiasakan menggunakan perlengkapan kebersihan diri, seperti topi, apron, dan sarung tangan, saat berjualan. Sebanyak 50 persen sudah mulai melakukan pencatatan keuangan sederhana. Peserta juga cukup terbuka dan responsif terhadap penggunaan teknologi digital walaupun skala usaha masih mikro bahkan ultramikro.

Mayoritas peserta mulai menerapkan praktik ramah lingkungan pada level dasar seperti mulai memilah sampah organik dan anorganik. ”Dari perubahan perilaku positif ini tentunya kita harapkan ke depannya akan ada perubahan secara kapasitas dan juga omzet. Tapi, memang namanya edukasi dan pembinaan itu harus dilakukan secara kontinu,” kata Dewi.

Baca JugaBagikan Buku, Starbucks Dongkrak Literasi bagi Anak Jalanan

Selain Program Kring, upaya lain yang telah dilakukan Starbucks dalam rangka memperkuat komunitas yang mendorong kewirausahaan, pelatihan dan inklusi ekonomi di seluruh ekosistem kopi Indonesia adalah lewat Program Brewing Change: Women Empowerment in Coffee Origin Communities in Indonesia (Bentani). Bersama Yayasan Mercy Corps Indonesia (YMCI), Starbucks Foundation telah merampungkan Program BENTANI di Jawa Barat.

Program Bentani ini fokus pada peningkatan akses kebersihan, kesehatan, kemampuan kepemimpinan dan kesejahteraan ekonomi perempuan di komunitas daerah penghasil kopi di Jawa Barat. Menurut Anthony, Starbucks terlibat meningkatkan akses fasilitas air bersih, sanitasi dan kebersihan (WASH), serta mendukung edukasi kesehatan masyarakat terkait isu tengkes (stunting) dan nutrisi keluarga.

Bentani juga meningkatkan pengetahuan literasi keuangan dan usaha untuk perempuan petani kopi melalui pelatihan dan pendampingan bekerjasama dengan lembaga keuangan formal. Selain itu, Bentani mengembangkan usaha nonpertanian untuk istri petani kopi dan anak muda perempuan melalui layanan mentoring digital dan akses ke pasar serta layanan keuangan formal.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Sampaikan Duka Cita, Dedi Mulyadi Sebut Brigadir Fajar Telah Berikan Jasa Besar Bagi Masyarakat
• 19 jam lalutvonenews.com
thumb
Mobil Parkir Liar di Monas Dikempesi, Pramono Minta Jukir Ditindak Tegas
• 5 jam laludetik.com
thumb
Cahya Supriadi Senang Masuk Skuad Timnas Indonesia Senior, Manajemen PSIM Berikan Dukungan Penuh
• 3 jam lalukompas.tv
thumb
Sinyal Kian Kuat! Zinedine Zidane Gantikan Didier Deschamps Usai Piala Dunia 2026
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Rico Waas Pimpin Apel Pasca Idul Fitri 1447 H, Ajak ASN 'Tancap Gas' Bangun Kota dan Tingkatan Pelayanan
• 1 jam lalumediaapakabar.com
Berhasil disimpan.