Bukan Lagi soal Maaf-maafan, Saat "Berburu" THR Mulai Geser Makna Silaturahmi

kompas.com
14 jam lalu
Cover Berita

DEPOK, KOMPAS.com - Suasana Lebaran di permukiman Depok, Jawa Barat, selalu diwarnai suara anak-anak yang berkeliling menyalami warga dan mengetuk pintu rumah, berharap mendapat Tunjangan Hari Raya (THR).

Tradisi yang sejak dulu identik dengan silaturahmi keluarga dan tetangga ini kini menghadirkan dilema baru bagi orangtua dan warga.

Baca juga: Warga Protes Tarif Parkir Liar di Kembangan Rp 20.000, Dalihnya THR Lebaran

Fenomena ini terlihat jelas di lingkungan permukiman padat di Beji dan Pancoran Mas, di mana anak-anak dari usia sekolah dasar sampai belasan tahun berkelompok mengelilingi rumah-rumah untuk mengumpulkan amplop berisi uang

Bagi sebagian orangtua, tradisi ini tetap bernilai sosial dan edukatif.

Baca juga: Terjadi Lagi Pengunjung Tebet Eco Park Dilarang Memotret, Pengelola Buka Suara

Namun bagi sebagian lainnya, pola baru anak-anak berburu THR memunculkan kekhawatiran bahwa budaya silaturahmi telah berubah menjadi orientasi materi.

Tari (36), ibu dua anak yang tinggal di Beji, menilai tradisi memberi THR masih memiliki makna silaturahmi, selama dilakukan dengan sopan dan penuh adab.

Sejak pagi hari Lebaran, rumahnya ramai dikunjungi anak-anak yang datang bersama teman-temannya.

“Biasanya habis shalat Id langsung mulai. Anak-anak datang ramai-ramai, ada yang saya kenal, ada juga yang enggak,” kata Tari saat ditemui di rumahnya, Sabtu (21/3/2026).

Bagi Tari, kebahagiaan anak-anak menjadi inti dari tradisi tersebut. Selama mereka datang dengan salam dan meminta maaf sebelum menerima THR, ia senang memberi.

“Kalau mereka datang sopan, salam, terus minta maaf, saya senang saja ngasih. Itu kan bagian dari silaturahmi juga,” ujar dia.

Namun, Tari mengakui ada perubahan dalam pola kebiasaan anak-anak. Jangkauan mereka kini lebih luas, tidak hanya berkeliling sekitar rumah.

“Sekarang bukan cuma sekitar rumah, tapi sudah ke gang lain. Bahkan ada yang kayak sudah tahu rumah mana yang biasanya ngasih,” kata Tari.

Pernah suatu hari, puluhan anak datang dalam satu hari. Tari pun harus menyiapkan uang kecil sejak pagi agar tidak kebingungan.

Meski demikian, ia tetap membatasi anaknya dalam berkeliling.

Tari juga menekankan edukasi kepada anak soal makna THR.

“Ini bukan soal dapat uang, tapi belajar berbagi dan menghargai pemberian orang,” kata dia.

Kekhawatiran Orangtua

Di sisi lain,Suep (44), ayah satu anak di Tapos, Depok, menilai tren berburu THR menunjukkan pergeseran makna dari tradisi silaturahmi menjadi aktivitas berorientasi materi.

Anak-anak datang dengan harapan uang pasti diberikan, bahkan ada yang berasal dari luar lingkungan.

“Sekarang kesannya bukan silaturahmi lagi, tapi memang ‘berburu’. Anak-anak datang dengan harapan pasti dikasih uang,” ujar Suep.

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Ia mengaku beberapa kali kedatangan anak-anak yang tidak dikenalnya membuatnya merasa kurang nyaman.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
OpenAI ChatGPT Tiba-tiba Tutup Platform Video AI Sora, Disney Kaget
• 7 jam lalukatadata.co.id
thumb
Taspen Permudah Pensiunan, Bukti Potong Pajak Kini Bisa Diunduh Online
• 3 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Pertamina Patra Niaga Hadirkan 19 Titik Serambi MyPertamina di Jalur Wisata, Temani Perjalanan Libur Lebaran 2026
• 2 jam laluharianfajar
thumb
Tembus 140 Ribu Pengunjung, IKN Jadi Destinasi Wisata Baru Selama Libur Lebaran
• 8 jam lalukompas.id
thumb
Pengelola Pastikan Kedatangan Bus AKAP di Kampung Rambutan Lancar Tanpa Keterlambatan Saat Arus Balik
• 4 jam lalupantau.com
Berhasil disimpan.