Harga emas dunia rebound pada Selasa (24/3/2026) setelah memutus tren penurunan selama sembilan hari berturut-turut.
IDXChannel - Harga emas dunia rebound pada Selasa (24/3/2026) setelah memutus tren penurunan selama sembilan hari berturut-turut.
Penguatan ini terjadi setelah muncul laporan bahwa Amerika Serikat (AS) tengah mengupayakan gencatan senjata selama satu bulan guna membuka ruang pembicaraan dengan Iran.
Emas spot sempat ditutup menguat 1,54 persen ke level USD4.474,53 per troy ons akhir perdagangan Selasa setelah Channel 12 Israel mengutip sumber yang menyebutkan adanya pendekatan AS terkait kemungkinan dialog dengan Iran.
Kepala strategi logam di MKS PAMP SA, Nicky Shiels, mengatakan, seperti dikutip Bloomberg, laporan gencatan senjata tersebut mendorong pergerakan pasar menjadi lebih bergairah.
Sebelumnya pada Selasa, harga emas bergerak fluktuatif antara penguatan dan pelemahan seiring pelaku pasar menimbang berbagai kemungkinan hasil konflik di Timur Tengah.
Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan bahwa Iran telah menawarkan sebuah “hadiah” sebagai bentuk itikad baik dalam negosiasi, yang disebut berkaitan dengan arus di Selat Hormuz.
Menurut laporan Axios, AS bersama mediator regional juga tengah membahas kemungkinan menggelar pembicaraan damai tingkat tinggi secepatnya pada Kamis, namun masih menunggu respons dari Teheran.
Pada hari yang sama, The Wall Street Journal melaporkan, AS berencana mengerahkan sekitar 3.000 pasukan dari Divisi Lintas Udara ke-82 ke Timur Tengah, seiring Gedung Putih mempertimbangkan berbagai opsi untuk mengurangi tekanan Iran terhadap jalur Selat Hormuz.
Harga energi yang tinggi akibat perang Iran meningkatkan risiko inflasi, sehingga mendorong investor memperkirakan suku bunga lebih tinggi.
Kondisi ini menjadi tekanan bagi emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Penurunan saham dan obligasi global juga memaksa sebagian investor melepas posisi emas untuk mendapatkan likuiditas, sehingga memperbesar tekanan terhadap logam mulia yang masih berada di ambang memasuki pasar bearish.
Seperti banyak kelas aset lainnya, emas bergerak liar karena pelaku pasar terus dibanjiri berita terkait perang.
Pertempuran antara aliansi AS-Israel dan Iran terus berlangsung, meskipun Trump mengklaim pembicaraan untuk mengakhiri konflik sedang berjalan.
Iran juga mulai mengenakan biaya transit pada sebagian kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz, menjadi sinyal kuat kendali Teheran atas jalur energi maritim paling penting di dunia.
Kepala strategi makro lintas aset dan perdagangan di Buffalo Bayou Commodities, Frank Monkam, mengatakan penyesuaian ekspektasi kebijakan moneter AS yang lebih hawkish serta penguatan dolar seiring kenaikan imbal hasil menjadi faktor utama yang mendorong koreksi harga emas belakangan ini. (Aldo Fernando)





