Jejak awal Islam di Nusantara tidak selalu ditandai dengan prasasti atau bangunan yang megah. Terkadang, sejarah itu diwariskan lewat tutur cerita dan dirawat oleh ingatan kolektif.
Salah satu penanda penyebaran Islam di pesisir utara Jawa Timur adalah Masjid Rahmat di Jalan Kembang Kuning, Kecamatan Wonokromo, Kota Surabaya, Jawa Timur. Di tengah hiruk-pikuk Surabaya sebagai sebuah kota metropolitan, ribuan peziarah tampak terus berdatangan, Jumat (6/3/2026).
Jauh sebelum kawasan Ampel Denta yang berada di wilayah Surabaya utara dikenal sebagai pusat peradaban Islam, kawasan Kembang Kuning diyakini merupakan ”titik nol” dakwah Raden Rahmat atau Sunan Ampel. Memori masyarakat mengingat bahwa tempat tersebut merupakan persinggahan pertama sang wali sebelum ajaran Islam disemai di tanah Jawa.
Pengurus Yayasan Masjid Rahmat, Sugeng Sudariyanto, ketika ditemui mengatakan, berdasarkan cerita turun-temurun, saat Sunan Ampel menjadikan kawasan itu sebagai titik transit, penduduk setempat masih didominasi oleh masyarakat beragama Hindu. Tokoh sentral di wilayah tersebut bernama Ki Bang Kuning atau Wiro Sararojo (Wiraroyo).
Secara terpisah, pengajar Budaya Islam Universitas Airlangga, Ahmad Syauqi, menjelaskan, narasi tempat singgah yang terawat di ingatan masyarakat menjadi logis jika ditarik dalam peta geografis dakwah abad ke-15. Pada saat itu, jaringan pelabuhan di pesisir Jawa Timur merupakan jalur perdagangan internasional.
”Para ulama sering bergerak mengikuti jalur pesisir dan sungai, sehingga wajar jika bermunculan situs yang diyakini warga sebagai tempat transit para wali,” ujarnya.
Secara historis, kata Syauqi, nama Ki Bang Kuning memang tidak ditemukan secara eksplisit, baik dalam tulisan Babad Tanah Jawi maupun Pararaton. Nama itu juga tidak ditemukan dalam catatan kolonial Belanda.
”Meski belum terverifikasi dalam sumber tertulis, keberadaan komunitas Hindu di pesisir Jawa Timur kala itu sangat masuk akal karena masih berada di bawah bayang-bayang budaya Majapahit sebelum proses islamisasi secara masif terjadi,” jelas Syauqi.
Bangunan yang kini menjadi Masjid Rahmat adalah masjid pertama yang dibangun oleh Raden Rahmat atau Sunan Ampel pada abad ke-14. Lantaran mayoritas penduduk di sana saat itu bukan pemeluk Islam, mereka tidak menyebut tempat ibadah Sunan Ampel tersebut sebagai masjid atau mushala.
Mengutip laman Dinas Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga, serta Pariwisata (Disbudporapar) Kota Surabaya, saat itu Raden Rahmat atau Sunan Ampel baru tiba dari kawasan Majapahit. Sebelum sampai di Ampel Denta, ia melintas di kawasan Kembang Kuning melalui Sungai Brantas yang ada di depan Masjid Rahmat hanya dengan menggunakan perahu kecil.
Di sana, Raden Rahmat memutuskan singgah dan menyebarkan agama Islam. Bangunan masjid kala itu masih sederhana, yakni berbentuk gubuk. Dalam keyakinan masyarakat setempat, tempat ibadah itu ”tiba-tiba ada” sehingga dijuluki sebagai ”Langgar Tiban”.
Sunan Ampel pun tidak pernah mendeklarasikan bangunan tersebut sebagai masjid. Namun, karena titik tersebut terus dipakai untuk shalat, perlahan bangunan itu menjadi cikal bakal berdirinya Masjid Rahmat.
Menanggapi fenomena Langgar Tiban yang minim bukti arkeologis, Syauqi menempatkannya dalam kategori tradisi lisan. Dalam kerangka metodologi sejarah, tradisi lisan tersebut diposisikan sebagai hipotesis sejarah yang perlu diuji.
Bangunan masjid kala itu masih sederhana. Dalam keyakinan masyarakat setempat, masjid itu ”tiba-tiba ada” sehingga dijuluki sebagai ”Langgar Tiban”.
”Secara ilmiah, statusnya berada pada wilayah kemungkinan historis, namun tetap memiliki nilai budaya dan memori kolektif yang sangat penting bagi masyarakat,” kata dia.
Di luar perdebatan historis, dakwah Sunan Ampel di Kembang Kuning berbuah manis. Ia berhasil mengislamkan warga hingga kemudian menikahi putri Ki Bang Kuning yang bernama Karimah.
Dari pernikahan Sunan Ampel dengan Karimah, lahir Murtosiyah dan Murtosimah. Keduanya kemudian dipersunting oleh dua wali besar lainnya, yakni Sunan Giri dan Sunan Bonang.
Hingga kini, makam Ki Bang Kuning dan Mbah Karimah masih terjaga. Lokasinya berjarak sekitar 3 kilometer (km) dari masjid.
Di balik kekayaan narasi sejarahnya, kata Sugeng Sudariyanto, keberadaan Masjid Rahmat di masa lampau tidak memiliki bukti otentik. Berbeda dengan Masjid Kemayoran maupun Masjid Peneleh di Surabaya yang terekam dalam foto oleh pemerintah kolonial, gambar wujud asli Masjid Rahmat tak pernah ditemukan.
Satu-satunya bukti fisik yang diyakini tidak berubah sejak awal dibangun hanyalah titik ruang utama tempat shalat. Selain itu, terdapat ornamen pilar berbentuk ”Semanggi Lima Daun” yang masih kokoh menghiasi selasar masjid.
Masjid tersebut kini memiliki dua lantai dengan gaya bangunan klasik dan lokal. Terdapat lima pintu pilar di serambi masjid yang berbentuk seperti daun semanggi. Adapun luas bangunan Masjid Rahmat adalah 850 meter persegi.
Menurut Syauqi, motif flora semacam itu sangat umum ditemukan pada seni bangunan masa Majapahit dan periode transisi.
”Motif itu awalnya adalah ornamen estetis tradisi Hindu-Buddha. Namun, terjadi proses reinterpretasi simbol di mana masyarakat Islam Jawa memberinya makna religius baru, misalnya dikaitkan dengan lima rukun Islam atau waktu shalat,” jelas Syauqi.
Sebenarnya, kata Syauqi, tabir misteri Masjid Rahmat nyaris tersingkap pada 1976. Saat itu, para pekerja sedang menggali fondasi untuk perluasan bangunan.
Saat penggalian, mereka menemukan sebuah gamis utuh dari dalam tanah yang diyakini berusia sekitar 500 tahun. Sayangnya, artefak sangat berharga itu diambil oleh pihak tak bertanggung jawab dan lenyap sebelum bisa diuji secara ilmiah.
Aspek yang dinilai tidak hanya keaslian fisik bangunan, tetapi juga nilai historis, lokasi, dan memori kolektif masyarakat. Ruang sejarah dan ingatan itulah yang sejatinya dilestarikan.
Hilangnya artefak bersejarah di tengah masyarakat bukan fenomena baru. Kasus serupa kerap mewarnai penelusuran sejarah lokal di pesisir Gresik, Tuban, hingga Cirebon.
”Benda itu sering kali diambil karena dianggap keramat oleh kolektor. Jika sudah hilang, sejarawan biasanya menyiasatinya dengan mengumpulkan kesaksian warga atau menelusuri dokumentasi lama,” tambahnya.
Sebagai gantinya, tidak adanya bukti fisik itu ditambal oleh kekuatan cerita lisan yang melegenda di kalangan warga. Salah satunya adalah kisah dakwah Sunan Ampel di kawasan Peneleh yang kala itu menjadi sarang para pejudi sabung ayam.
Dikisahkan, pada suatu waktu, Sunan Ampel meniup kelompen (alas kaki kayu) miliknya hingga berubah wujud menjadi ayam jago. Ayam jejadian itu selalu menang sabung, membuat para pejudi takluk dan akhirnya bersedia berguru dan memeluk Islam.
Menurut Sugeng, meski miskin dokumen arkeologis, Masjid Rahmat memiliki pembuktian sejarah dari sisi batin dan kekuatan sosial yang tak terbantahkan. Hal ini tecermin pada setiap acara haul (peringatan wafat) yang diselenggarakan di sana.
Acara tersebut secara mengejutkan selalu berhasil menyedot 10.000 hingga 17.000 anggota jemaah. Keberhasilan acara massal yang berjalan mandiri ini diyakini Sugeng dan pengurus lainnya sebagai bukti bahwa tokoh yang di-haul-i meridhoi situs tersebut.
”Alhamdulillah, anehnya lagi, kalau dana enggak pernah kita nyiapin, ada aja gitu,” kata Sugeng.
Wujud fisik Masjid Rahmat yang berdiri megah saat ini mayoritas merupakan hasil pemugaran besar-besaran pada 1967 dan 1976. Sejak 2015, bangunan itu telah diakui dan ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya.
Menanggapi status cagar budaya pada bangunan yang sudah banyak direnovasi, Syauqi memandang kondisi tersebut merupakan hal yang lazim. Menurutnya, hal itu sejalan dalam ketentuan Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya.
”Aspek yang dinilai tidak hanya keaslian fisik bangunan, tetapi juga nilai historis, lokasi, dan memori kolektif masyarakat. Ruang sejarah dan ingatan itulah yang sejatinya dilestarikan,” tegasnya.
Namun, di tengah modernisasi, Sugeng dan jajaran pengurus Masjid Rahmat bersikeras untuk mempertahankan filosofi arsitektur masa lalu. Mereka dengan tegas menolak tawaran pemasangan penyejuk ruangan (AC) dari pemerintah.
Pengurus meyakini, arsitektur lama Masjid Rahmat telah memperhitungkan sirkulasi udara dengan sangat matang. Dengan ventilasi yang dibuat besar-besar, ruangan masjid tetap terasa adem dan tidak gerah meski dipenuhi jemaah.
Sejarah Masjid Rahmat memang tidak berasal dari tumpukan batu kuno atau dokumen yang tersimpan di museum. Sejarah panjang Masjid Rahmat hidup dalam ingatan masyarakat selama berabad-abad. Masjid ini dirawat dan sejarahnya disampaikan dari mulut ke mulut sehingga terus berdenyut menjadi jantung kota metropolitan Surabaya.





